BRIN Science Library

- 14 Jun 2024

News Image

    Atas nama iman, sebagian muslim seakan-akan kehilangan rasa  hormat terhadap pemeluk iman yang lain. Perbedaan agama sering dijadikan justifikasi terhadap laku kekerasan. Dalam hal ini, kelompok  Islam radikal sering menampakkan Islam sebagai agama eksklusif, yang seakan-akan tidak bisa menerima kehadiran penganut agama lain untuk hidup berdampingan secara damai. Bagi mereka, Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan harus terus dibenarkan, termasuk bagian dari membenarkan keimanan itu adalah dengan tidak membiarkan praktik-praktik peribadatan yang menyalahi ketauhidan.

    Oleh karena itu, bagi kelompok Islam radikal, tindakan-tindakan  intoleransi yang mereka lakukan, justru diyakini merupakan bagian dari membenarkan eskpresi keimanannya. Bahkan, kalau mereka tidak melakukannya, malah merasa bersalah dalam keimanannya. Keterjebakan pada nafsu truth claim (klaim kebenaran) seperti itu, sadar atau tidak, membuat eskpresi keberislaman malah menjadi biang perpecahan antarumat beragama di Indonesia. Dalam hal ini, keyakinan bahwa Islam sebagai agama yang benar, tidak membawa dampak pada penyebaran rahmat ke seluruh alam layaknya visi  Islam itu sendiri untuk menebar rahmat ke seluruh alam  (Q.S. al-Anbiya’ [21], 107, t.t.). Sebaliknya, Islam malah dijadikan kambing hitam untuk membenarkan laku kekerasan atas nama agama. Ekspresi keberislaman seperti ini jelas sangat jauh dari watak Islam yang mengedepankan laku beragama dengan ekspresi yang friendly face (wajah yang ramah) terhadap nonmuslim.

Sumber:

eMicrobook Moderasi Agama

Moch Lukluil Maknun, Syamsul Kurniawan, Winarto Eka Wahyudi

Scroll to Top
×