Toponimi di Jantung Kota Yogyakarta dari Perspektif Kebahasaan hingga Psikologi Sosial

Screenshot (221)

Series



Categories



Published

January 27, 2022

HOW TO CITE

Fajar Erikha

Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Multamia R.M.T. Lauder

Universitas Indonesia

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.337

Keywords:

pengubahan nama jalan, toponimi, sosio-onomastik, Yogyakarta

Synopsis

Pada 2013 lalu, Pemerintah Daerah Yogyakarta mengubah tiga nama jalan, yaitu Jalan Pangurakan (d.h Jalan Trikora), Jalan Margo Mulyo (d.h Jalan Ahmad Yani), dan Jalan Margo Utomo (d.h Jalan Pangeran Mangkubumi). Nama jalan yang baru memuat nilai asli, kesejarahan, budaya, dan filosofi yang notabene perlu direvitalisasi dan dilestarikan. Pengubahan ini merupakan salah satu realisasi atas rencana menjadikan Yogyakarta sebagai Kota Filosofi dan Kota Warisan Dunia menurut UNESCO. Penelitian ini bertujuan menggali makna dan pemaknaan oleh masyarakat terhadap nama jalan yang diubah tersebut. Sumber data penelitian berasal dari informasi informan 22 orang masyarakat dan narasumber yang berlatar budayawan, sejarawan, dan pemerintah. Selain itu, peneliti juga mengumpulkan foto penggunaan nama jalan dan sejumlah peta klasik hingga modern. Melalui metodologi kualitatif, peneliti mengolah data menggunakan pendekatan sosio-onomastik (Lanskap Linguistik, Kelekatan Toponimik, dan Onomastik Setempat). Hasilnya, nama jalan yang diubah tidak hanya mengandung makna dasar tetapi juga mengandung makna filosofi. Nama-nama jalan yang diteliti dimaknai secara beragam oleh masyarakatnya. Pemaknaan ini berkaitan dengan sikap, persepsi, dan preferensi mereka terhadap nama jalan dan pengubahannya. Dengan merujuk pada hasil penelitian ini, pengubahan nama jalan dapat berdampak pada banyak hal jika tidak dipersiapkan dengan paripurna.

Author Biographies

Fajar Erikha, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Fajar adalah lulusan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Namun sejak 2015, Fajar menekuni kajian toponimi dengan menggunakan dua bidang ilmu yang ia tekuni, yaitu psikologi dan linguistik ber­sama Komunitas Toponimi ­Indonesia (Kotisia). Selama berga­bung di Kotisia, Fajar dibimbing langsung oleh sejumlah linguis, arkeolog, filolog, dan sejarawan senior FIB UI, serta seorang geografer senior FMIPA UI. Bersama Kotisia, Fajar terlibat dalam enam penelitian yang didanai UI pada rentang tahun 2015–2019: “Penelusuran Bangsa Maritim sebagai Identitas Bangsa Indonesia melalui Penelisikan Pelabuhan-pelabuhan Kuno di Jawa” (2015); “Rekam Jejak Relokasi Pemukiman di Jakarta: Kajian Toponimi Wilayah Kalijodo, Kampung Pulo, dan Luar Batang-Pasar Ikan” (2016); “Artikulasi Budaya Melalui Nama-nama Jalan di Kota Yogyakarta” (2017); “Revitalisasi Toponimi Sebagai Identitas Masyarakat Setempat: Sebuah Kajian Sosio-Onomastik” (2017); “Rearti­kulasi Landmark Sumenep sebagai Kota Garam: Kajian Toponimi dan Arkeologi” (2018); “Pemaknaan Ruang Sakral dalam Dinamika Sosial Budaya di Kawasan Depok: Tinjauan Multidisiplin Toponimi, Semiotika, dan Arkeologi” (2019), yang kesemuanya itu mengaitkan peran toponimi sebagai artefak budaya dan identitas kelo­kalan. Selain itu, Fajar merupakan pengelola Seminar Nasional Toponimi pertama di FIB UI (2016) yang diadakan oleh PPKB FIB UI bersama Kotisia.


Buku ini berakar pada penelitian tesis S2 yang dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Multamia RMT Lauder, SS., Mse., DEA yang merupakan pendiri Komunitas Toponimi Indonesia. Fajar menyelesaikan studi magisternya dengan predikat cum laude. Sebagian dari materi pada buku ini juga telah dipresentasikan oleh Delegasi Republik Indonesia pada Eleventh United Nations Conference on the Standardization of Geographical Names di New York pada tahun 2017. Bahkan materi penelitian S2 ini berhasil dielaborasi, yang telah dan akan diterbitkan pula ke dalam berbagai publikasi ilmiah nasional dan internasional.


Guna meningkatkan kompetensi di dalam kajian toponimi, pada Maret 2018, Fajar dan sejumlah akademisi, termasuk Prof. Dr. Cece Sobarna dari Universitas Padjadjaran, mengikuti lokakarya “The First Regional Training in Toponymy including Marine Toponymy” di Manila, Filipina, yang diadakan oleh The UNGEGN Asia South East Division.


Saat ini, Fajar merupakan Kandidat Doktor (sejak 2018) di bawah supervisi Prof. Dr. Multamia R.M.T Lauder, S.S., Mse., DEA (Promotor) dan Dr. Frans Asisi Datang, SS., M.Hum. (Kopromotor), serta sedang mengkaji penelitian toponimi yang berjudul “Lanskap Odonim di Kota Bandung berdasarkan Kajian Sosio-onomastik”.


Selain dalam lingkup toponimi, Fajar memulai karier sebagai peneliti sejak 2011 hingga saat ini, yaitu mengkaji aspek psikologi dan bahasa pada kelompok ekstremisme di Indonesia di bawah bimbingan (alm.) Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono di Lembaga Penelitian Psikologi UI (2011–2012) dan PRIK UI (2012–2017) hingga akhirnya mendirikan lembaga riset bersama kolega lainnya, yaitu Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) pada 2017 hingga saat ini.


Sebagai Peneliti Senior dan Program di DASPR, Fajar diamanahkan menjadi Deputi Direktur oleh Dr. Phil Idamsyah Eka Putra yang merupakan Direktur DASPR. Dalam aktivitas akademik di lingkup kampus, Fajar merupakan dosen tetap di Prodi Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dan dipercaya menjadi Ketua Kajian Keilmuan Psikologi di bawah Unit Pelayanan dan Pengembangan Psikologi (UP3 Unusia). Di saat yang bersamaan, sejak 2019, Fajar juga berkontribusi sebagai Sekretaris Dewan Komite Etik di organisasi Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN).
Selama berkiprah sebagai akademisi, Fajar pernah dianugerahi Sarlito Wirawan Sarwono Award (SWS Award) pada 2021. Publikasi ilmiah dan non-ilmiah milik Fajar dapat ditelusuri melalui akun Google Scholar, Sinta, Academia, Researchgate, Scopus, dan Orcid miliknya. Penulis bisa dihubungi melalui surel: fajar@unusia.ac.id dan fajarerikha@dasprui.com

Multamia R.M.T. Lauder, Universitas Indonesia

Multamia adalah Guru Besar Geolinguistik pada Departemen Linguistik di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI). Multamia memperoleh gelar S-1 pada tahun 1979 berupa Sarjana Sastra di bidang linguistik dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia; gelar S-2 pertama pada tahun 1980 berupa Maîtrise de Linguistique et Phonétique (Mse.) dari L’Institut de Phonétique de Grenoble, Prancis; gelar S-2 kedua pada tahun 1981 berupa Diplôme d’Études Approfondies de Géo-Linguistique (DEA) dari Faculté des Lettres L’Université de Grenoble III, Prancis; dan memperoleh gelar doktor linguistik dengan predikat cum laude pada tahun 1990 dalam bidang dialektologi, dari Program Studi Sastra dan Linguistik Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. Multamia dikukuhkan pada tahun 2003 sebagai Guru Besar Tetap Linguistik di Universitas Indonesia. Minat kajiannya berfokus pada geolinguistik, yaitu distribusi variasi bahasa-bahasa daerah di seluruh Indonesia. Kajiannya mencakup isu variasi bahasa, perubahan bahasa, vitalitas bahasa, kepunahan bahasa, dan pemetaan bahasa. Bahkan hingga saat ini, Multamia masih merupakan satu-satunya linguis Indonesia yang bertugas sebagai Delegasi Republik Indonesia pada tiap Sidang United Nations Group of Experts on Geogrphical Names (UNGEGN) di PBB. Multamia merupakan pendiri dan masih bertugas sebagai Ketua Komunitas Toponimi Indonesia (Kotisia).


Beberapa tulisan ilmiah Multamia yaitu “Merawat Budaya Bangsa melalui Pemetaan Bahasa dan Vitalitas Bahasa” (2021); “Utilization of Language Map to Record Generic Terms from Local Languages” (2021); “Vitalitas Bahasa” (2021); “Toponymy Research in Indonesia and Language Map of South East Asia for Generic Terms in Toponym” (2021); “Daya Hidup Bahasa dan Pelindungan Bahasa” (2020); “Kaidah Penamaan Rupabumi dan Proses Penelaahan” (2020); “Vitality and Revitalization of Minority Regional Languages in the East of Indonesia” (2020); “Menjelajahi Kajian Toponimi dalam Upaya Pelindungan Bahasa” (2019); “Toponymic Perspectives on Maritime Activities” (2019); “Memahami Kajian Toponimi” (2019); “Pengelolaan Toponim” (2019); “Penelaahan Toponimi” (2019); “Upaya Penyelesaian Peta Bahasa melalui Reverse Engineering” (2019); “Place Names as Cultural Heritage in an Archipelagic Country” (2018); “A Real Time Geolinguistic Study of Language Change in Bekasi, West Java” (2018); “Maritime Indonesia and the Archipelagic Outlook: Some reflections from a multidisciplinary perspective on old port cities in Java” (2016); “Ubiquitous place names: Standardization and study in Indonesia” (2015). Penulis bisa dihubungi melalui surel: mia.lauder@gmail.com

References

Adam, L. (2003). The Courtyyards, gates, and buildings of the Kraton of Yogyakarta. Dalam S. Robson (Ed.), The Kraton. Selected essays on Javanese court (13–40). KITLV Press.

Adi, F. W. (2014). Sengkalan memet. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. http://digilib.isi.ac.id/4965/1/bab 1.pdf

Administration to change name of two streets. (2013, 9 Oktober). The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/news/2013/10/09/administration-change-name-two-streets.html

Ainiala, T. (2016a). Attitudes to street names in Helsinki. Dalam L. Kostanski & G. Puzey (Eds.), Names and naming: People, places, perceptions, and power (166–186). Multilingual Matters.

Ainiala, T. (2016b). Names in society. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (447–459). Oxford University Press.

Ainiala, T., & Halonen, M. (2017). The perception of Somali place names among imigrant Somali youth in Helsinki. Dalam T. Ainiala & J.-O. Östman (Eds.), Socio-onomastics. The pragmatic of names (203–226). John Benjamins.

Ainiala, T., & Lappalainen, H. (2017). Orienting to norms: Variability in the use of names for Helsinki. Dalam T. Ainiala & J.-O. Östman (Eds.), Socio-onomastics. The pragmatics of names (pp. 129–154). John Benjamins.

Ainiala, T., & Östman, J.-O. (2017). Introduction: Socio-onomastics and pragmatics. Dalam T. Ainiala & J.-O. Östman (Eds.), Socio-onomastics. The pragmatics of names (2–18). John Benjamins.

Ainiala, T., Saarelma, M., & Sjöblom, P. (2016). Names in focus. An introduction to Finnish onomastics. Finnish Literature Society.

Alderman, D. H. (2000). A street fit for a king: Naming places and commemoration in the American South. The Professional Geographer, 52(4), 672–684. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/0033-0124.00256­

Alderman, D. H. (2003). Street names and the scaling of memory: The politics of commemorating Martin Luther King, Jr within the African American community. Area, 35(2), 163–173. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/1475-4762.00250

Alderman, D. H. (2008). Place, Naming and the interpretation of cultural landscapes. Dalam B. Graham & P. Howard (Eds.), The Ashgate Research Companion to heritage and identity (181–194). Ashgate Publishing Limited.

Alderman, D. H., & Inwood, J. (2018). Street naming and the politics of belonging: spatial injustices in the toponymic commemoration of Martin Luther King, Jr. In R. Rose-redwood, D. H. Alderman, & M. Azaryahu (Eds.), The political life of urban streetscapes: Naming, politics, and place (pp. 259–273). Routledge.

Aldrin, E. (2016). Names and Identity. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (pp. 460–475). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.24

Algeo, J. (2010). Is a theory of names possible? Names, 58(2), 90–96. https://doi.org/10.1179/002777310X12682237915106

Algeo, J. (2015). From classic to classy: Changing fashions in street names. Names, 63(4), 220–232. https://doi.org/10.1080/00277738.2015.1118984

Alun-alun selatan: Cerita ruang bersama. (2009, 14 November). Space/Scape Project. http://space.kunci.or.id/alun-alun-selatan-cerita-ruang-bersama/

Anderson, J. M. (2007). The grammar names. Oxford University Press.

Aribowo, E. K., Rahmat, & Nugroho, A. J. S. (2018). Ancangan analisis bahasa di ruang publik: Studi lanskap linguistik Kota Surakarta dalam mempertahankan tiga identitas. Dalam Maryanto, W. Sasangko, A. S. Danardana, & H. Widiyanto (Ed.), Semiloka dan deklarasi pengutamaan bahasa negara (297–309). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Artawa, K., & Sartini, N. W. (2019). Linguistic lanscapes: A study of human mobility and identity change. Proceedings of the 4th International Conference on Urban Studies (ICUS 2017), December 8–9, 2017 (165–171). Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia.

Ashadi. (2017). Keraton Jawa. Arsitektur UMJ Press.

Atmojo, W. (1973). Peta Kotamadya Yogyakarta (Map of Yogyakarta) 1. Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Atlas of Mutual Heritage. (t.t.). View of the sultan of Jogyakarta’s palace. Diakses pada 4 Oktober, 2021 dari https://www.atlasofmutualheritage.nl/en/View-sultan-Jogyakartas-palace.4943

Augustins, G. (2004). Naming, dedicating: Street names and tradition. History and Anthropology 15(3), 289–299. https://doi.org/10.1080/0275720042000257421

Azaryahu, M. (1997). German reunification and the politics of street names: the case of East Berlin. Political Geography, 16(6), 479–493. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/S0962-6298(96)00053-4

Azaryahu, M. (2018). Revisiting East Berlin and Haifa: A comparative perspective on renaming the past. Dalam R. Rose-redwood, D. H. Alderman, & M. Azaryahu (Eds.), The political life of urban streetscapes: naming, politics, and place (56–73). Routledge.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (t.t.) Jalan. KBBI daring. Diakses pada 9 Mei 2017, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jalan

Barthes, R. (1986). Elements of semiology. Hill and Wang.

Behrend, T. (1989). Kraton and cosmos in traditional Java. Archipel, 37, 173–187.

Ben-Rafael, E. (2009). A sociological approach to the study of linguistic landscapes. Dalam E. Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic landscape. Expanding the scenery (40–54). Routledge.

Benjamin, W. (1999). The arcades project (R. Tiedemann, Ed.). The Belknap Press of Harvard University Press.

Berezkina, M. (2014). Place-names in Oslo, seen from an inhabitant perspective in three different ethnic groups. Dalam C. Hough & D. Izdebska (Eds.), Proceedings of the XXIV ICOS international congress of onomastic sciences (402–412). University of Glasgow.

Blackwood, R. J., & Tufi, S. (2015). The linguistic landscape of the Mediterranean: French and Italian coastal cities. Palgrave Macmillan.

Blommaert, J. (2013). Ethnography, superdiversity and linguistic landscapes: Chronicles of complexity. Multilingual Matters.

Bodenhorn, B., & Vom Bruck, G. (2006). “Entangled in histories”: an introduction to the anthropology of names and naming. Dalam G. Vom Bruck & B. Bodenhorn (Eds.), The Anthropology of names and naming (1–30). Cambridge University Press.

Bolodadi, T. U. P., da Silva, A. M., Erikha, F., Zaman, S., Rahmawati, A., Permatasari, A., Fedrian, R., & Indarto, T. (2021). Pedoman pembentukan kawasan praktik baik pengutamaaan bahasa negara di ruang publik. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bratakesawa, R. (1980). Keterangan Candrasengkala (T.W.K. Hadisoeprapta, Penerj). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Brotodiningrat, K. (1978). Arti Kraton Yogyakarta. Musium Kraton Yogyakarta.

Carey, P. (1984). Jalan Maliabara (‘Garland Bearing Street’): The etymology and historical origins of a much misunderstood Yogyakarta street name. Archipel, 51–62.

Carey, P. (2015). Jalan Malioboro (‘jalan berhiaskan untaian bunga’). Dalam P. Carey (Ed.), Asal usul nama Yogyakarta dan Malioboro (7–40). Komunitas Bambu.

Colomé, L. C., & Long, E. (2012). The linguistic landscape of three streets in Barcelona: Patterns of language visibility in public space. Dalam D. Gorter, H. F. Marten, & L. Van Mensel (Eds.), Minority languages in the linguistic landscape (183–203). Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/9780230360235_11

Curtin, M. L. (2009). Languages on display: Indexical signs, identities and the linguistic landscape of Taipei. Dalam E. Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic landscape: Expanding the scenery (221–237). Routledge.

Darmosugito. (1956). Kota Jogjakarta 200 tahun, 7 Oktober 1756–7 Oktober 1956. Panitia Peringatan Kota Jogjakarta 200 Tahun.

Da Silva, A. M., Tjung, Y. N., Wijayanti, S. H., & Suwartono, C. (2021). Language use and tourism in Yogyakarta: The linguistic landscape of Malioboro. Wacana. Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, 22(2), 295–318.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1977). Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (2013). Polemik usulan penggantian nama Jalan Medan Merdeka. Diakses pada 15 Agustus 2021 dari http://portal.dpd.go.id/berita-polemik-usulan-penggantian-nama-jalan-medan-merdeka

Dion, K. L. (1983). Names, identity, and self. Names, 31(4), 245–257. https://doi.org/10.1179/nam.1983.31.4.245

Dinas PUPKP Kota Yogyakarta. (t.t.). Peta jalan Kota Yogyakarta. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta.

Durkin, P. (2009). The Oxford guide to etymology. Oxford University Press.

Dwidjasaraja, A. (1935). Ngajogjakarta Hadiningrat. Djilid 1 Kraton Ngajogjakarta. Tjap-Tjapan Kapisan.

Erikha, F. (2017). Nama jalan baru versus nama jalan lama di Kota Yogyakarta: Sebuah penelusuran toponomastik. Seminar internasional leksikologi dan leksikografi, 126–135.

Erikha, F. (2018a). Konsep lanskap linguistik pada papan nama jalan kerajaan (râjamârga): Studi kasus di Kota Yogyakarta. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 8(1), 38–52. https://doi.org/10.17510/paradigma.v8i1.231

Erikha, F. (2018b). Geliat aksara dan bahasa ganda dalam Papan Nama jalan di Indonesia. Kumpulan makalah seminar dan lokakarya pengutamaan bahasa negara. lanskap bahasa di ruang publik: dimensi bahasa, sejarah, dan hukum, 226–238.

Erikha, F. (2018c). Pengubahan nama jalan di Kota Yogyakarta: Sebuah kajian sosio-onomastik [Tesis tidak diterbitkan]. Universitas Indonesia.

Erikha, F., Susanti, N., & Yulianto, K. (2018). Toponimi. Peningkatan kompetensi untuk pemandu wisata sejarah. Direktorat Sejarah. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Erikha, F. (2021). Application of the concept of critical toponymies to street name changes in Bandung, Yogyakarta and Surabaya. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 11(1), 25–41. https://doi.org/10.17510/paradigma.v11i1.373

Erikha, F., & Lauder, M. R. M. T. (t.t.). Javanese philosophy, public perception and changes to street names in Yogyakarta: A socio-onomastic study.

Erikha, F., Wulandari, L. S., & Shomami, A. (t.t.). Toponimi dalam lagu-lagu Didi Kempot [Naskah tidak diterbitkan]

Ethnologue. (t.t.). Javanese. Diakses pada 3 September, 2017, dari https://www.ethnologue.com/language/jav.

Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada. (2017). Penyusunan data jalan beruas Kota Yogyakarta Berbasis GIS [Laporan tidak diterbitkan]. Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada.

Fauziah, S. M. N. (2018). Dari jalan kerajaan menjadi jalan pertokoan kolonial: Malioboro 1756-1941. Lembaran Sejarah, 14(2), 171–193.

Garvin, R. T. (2010). Responses to the linguistic landscape in Memphis, Tennessee: An urban space in transition. Dalam E. Shohamy, E. Ben-Rafael, & M. Barni (Eds.), Linguistic landscape in the city (252–271).

Gericke, J. F. C., & Rorda, T. (1847). Javaansch-Nederduitsch woordenboek. B.I.J. Johannes Muller.

Giosa, P. De. (2011). Urban symbolism in Yogyakarta: In search of the lost symbol. Dalam P. J. M. Nas (Ed.), Cities full symbols. A theory of urban space and culture (85–106). Leiden University Press.

Google. (t.t.). [Pusat Kota Yogyakarta]. Diakses pada 1 Agustus 2021 dari https://www.google.com/maps/place/Jl.+Malioboro,+Sosromenduran,+Gedong+Tengen,+Kota+Yogyakarta,+Daerah+Istimewa+Yogyakarta/@-7.7943065,110.3555076,15z/data=!4m5!3m4!1s0x2e7a5825fa6106c5:0x3ea4c521a5ed1133!8m2!3d-7.792635.

Gorter, D. (2006). Introduction: The study of the linguistic landscape as a new approach to multilingualis. Dalam D. Gorter (Ed.), Linguistic landscape a new approach to multilingualism (1–6). Multilingual Matters.

Gupta, D., Handayani, T., Harnoko, D., & P. Yuliani (Eds.). (2007). Toponim Kota Yogyakarta. Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Yogyakarta.

Hadiyanta, I. E. (2000, 17 September). “Poros imajiner”: Identitas historis Kota Yogyakarta. Kompas, 4.

Hadiyanta, I. E. (2012). Menguak keagungan Tamansari. Sumber Aksara Yogyakarta.

Helleland, B. (2012). Place names and identities. Oslo Studies in Language, 4(2), 96–117.

Hidayat, R. S. (2010). Semiotik dan bidang ilmu. Dalam T. Christomy & U. Yuwono (Ed.), Semiotika budaya (pp. 77–86). Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Historical City Centre of Yogyakarta. (t.t.). Diakses pada 23 Juli, 2020, dari https://whc.unesco.org/en/tentativelists/6206

Hoed, B. H. (2014). Semiotik dan dinamika sosial budaya (3rd ed.). Komunitas Bambu.

Hough, C. (2016). Introduction. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (1–16). Oxford University Press.

InfoJogja.com. (2017). Pemkot Jogja larang PKL berjualan di Jalan Malioboro. Diakses pada 1 Agustus, 2017, dari http://www.info-jogja.com/2014/07/pemkot-jogja-larang-pkl-berjualan-di.html.

Jayanti, A. (2020). Toponimi Kampung Njeron Beteng dan Njaban Beteng Keraton Yogyakarta. Deskripsi Bahasa, 3(1 SE-Articles). https://doi.org/10.22146/db.v3i1.399

Dinas Kebudayaan DIY. (t.t.). Sosialisasi Yogyakarta warisan budaya dunia. Diakses pada 2 Agustus, 2017, dari https://www.budaya.jogjaprov.go.id/agenda/detail/599-sosialisasi-yogyakarta-warisan-budaya-dunia-.

Jones, R., Grijns, C. D., & de Vries, J. W. (2007). Loan-words in Indonesian and Malay (R. Jones, Ed.). KITLV Press.

Kadmon, N. (2000). Toponymy: The lore, laws, and language of geographical names. Vantage Press.

Kadmon, N. (2004). Toponymy and geopolitics: The political use —and misuse— of geographical names. The Cartographic Journal, 41(2), 85–87. https://doi.org/10.1179/000870404X12897

Khairuddin. (1995). Filsafat Kota Yogyakarta. Liberty.

Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 108 Tahun 2017 tentang Penetapan Ruas Jalan Sepanjang Sumbu Filosofi Sebagai Struktur Cagar Budaya. (2017).

Kostanski, L. (2009). ‘What’s in a name?’: Place and toponymic attachment, identity and dependence. A case study of the Grampians (Gariwerd) National Park name restoration process. University of Ballarat.

Kostanski, L. (2011). Toponymic dependence research and its possible contribution to the field of place branding. Place Branding and Public Diplomacy, 7(1), 9–22. https://doi.org/https://doi.org/10.1057/pb.2010.35

Kostanski, L. (2016a). The controversy of restoring indigenous names: Lessons learnt and strategies for success. Dalam L. Kostanski & G. Puzey (Eds.), Names and naming: People, places, perceptions and power (129–165). Multilingual Matters.

Kostanski, L. (2016b). Toponymic attachment. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (Issue July 2018, 1–18). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.42

Landry, R., & Bourhis, R. Y. (1997). Linguistic landscape and ethnolinguistic vitality: An empirical study. Journal of Language and Social Psychology, 16(1), 23–49. https://doi.org/10.1177/0261927X970161002

Lauder, A. F., Lauder, M. R. M. T., Erikha, F., Wardany, I., & Barus, E. R. M (2017). Changing place names to reflect heritage: A case study in Javanese philosophy in Yogyakarta. Eleventh United Nations conference on the standardization of geographical names, June. https://unstats.un.org/unsd/geoinfo/UNGEGN/docs/11th-uncsgn-docs/E_Conf.105_111_CRP.111_10_Indonesia_Cultural Heritage.pdf

Lauder, A. F., & Lauder, M. R. M. T. (2015). Ubiquitous place names standardization and study in Indonesia. Wacana, 16(2), 383–410.

Lauder, M. R. M. T., & Lauder, A. F. (2017). Place names and cultural heritage in an archipelagic country. Dalam United Nations Group of Experts on Geographical Names (Ed.), Toponymy training manual. United Nations Group of Experts on Geographical Name. https://unstats.un.org/unsd/geoinfo/ungegn/docs/CHAPTER 25.pdf

Lauder, M. R. M. T., & Lauder, A. F. (2016). Maritime Indonesia and the archipelagic outlook: Some reflections from a multidisciplinary perspective on old port cities in Java. Wacana, 17(1), 97–120.

Leeman, J., & Modan, G. (2010). Selling the city: Language, ethnicity and commodified space. Dalam E. Shohamy, R. Ben-Eliezer, & M. Barni (Eds.), Linguistic landscape in the city (182–198). Multilingual Matters.

Lombard, D. (2008). Nusa Jawa: Silang budaya. Warisan kerajaan-kerajaan konsentris. Gramedia Pustaka Utama.

Low, S. M., & Altman, I. (1992). Place attachment. Dalam I. Altman & S. M. Low (Eds.), Place attachment. Human behavior and environment (Advances in theory and research) (1–12). Springer. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/978-1-4684-8753-4_1

Magnis-Suseno, F. (1988). Etika Jawa. Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa. Gramedia.

Marin, A. (2012). Bordering time in the cityscape. Toponymic changes as temporal boundary-making: Street renaming in Leningrad/St. Petersburg. Geopolitics, 17(1), 192–216. https://doi.org/10.1080/14650045.2011.574652

Marten, H. F., Van Mensel, L., & Gorter, D. (2012). Studying minority languages in the linguistic landscape. Dalam D. Gorter, L. Van Mensel, & H. F. Marten (Eds.), Minority languages in the linguistic landscape (1–18). Palgrave Macmillan.

Natal bersama Bung Karno pada waktu revolusi tindakan yang tepat dan benar. (1983, Desember). Sinar Harapan, 12.

Neethling, B. (2016). Street names A changing urban landscape. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (144–157). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.50

Negro, S.D. (2008). Local policy modeling the linguistic landscape. Dalam E. Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic landscape. Expanding the scenery (206–218). Routledge.

Niedzielski, N. A., & Preston, D. R. (2000). Folk linguistics (De Gruyter Mouton, Ed.). https://doi.org/10.1515/9783110803389

Noorduyn, J. K. (2015). Etimologi nama Yogyakarta. Dalam P. Carey (Ed.), Asal usul nama Yogyakarta dan Malioboro (41–84). Komunitas Bambu.

Nöth, W. (1990). Handbook of semiotics. Indiana University Press.

Nyström, S. (2016). Names and naming. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of names and naming (39–51). Oxford University Press.

Ogden, C. K., & Richards, I. (1923). The meaning of meaning (8th ed.). Harcourt, Brace & World.

Pigeaud, T. (2003). The Northern Palace Square in Yogyakarta. Dalam S. Robson (Ed.), The Kraton. Selected essays on Javanese court (pp. 1–12). KITLV Press.

Poerwadarminta, W. J. S. (1939). Baoesastra Djawa. J.B. Wolters.

Prasasti pada Tugu Golong Gilig. (2018, 9 April). Kraton Jogja. https://www.kratonjogja.id/tata-rakiting-wewangunan/11/tugu-golong-gilig-simbol-persatuan-raja-dan-rakyat

Prawiroatmodjo, S. (1981). Bausastra Jawa-Indonesia Jilid 1–2. Gunung Agung.

Priyono, U., Pratiwi, D. L., Tanudirjo, D. A., Suwito, Y. S., Suyata, & Albiladiyah, I. (2015). Buku profil Yogyakarta City of Philosophy. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Prawiroatmojo, S. (1981). Bausastra Jawa-Indonesia jilid 1–2. Gunung Agung.

Puzey, G. (2016). Linguistic landscapes. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (395–411). Oxford University Press.

Rachman, B. M. (1999). Dari keseragaman menuju keberagaman wacana multikultural dalam media. Lembaga Studi Pers & Pembangunan.

Rahyono, F. X. (2015). Kearifan budaya dalam kata (Edisi Kedua). Wedatama Widya Sastra.

Rais, J., Lauder, M. R. M. T., Sudjiman, P., Ayatrohaedi, Sulistiyo, B., Wiryaningsih, A., Suparwati, T., & Santoso, W. E. (2008). Toponimi Indonesia. Sejarah budaya yang panjang dari permukiman manusia dan tertib administrasi. Pradnya Paramita.

Raymond, C. M., Brown, G., & Weber, D. (2010). The measurement of place attachment: Personal, community, and environmental connections. Journal of Environmental Psychology, 30(4), 422–434. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2010.08.002

Rochkyatmo, A. (1997). Pelestarian dan modernisasi aksara daerah: Perkembangan metode dan teknis menulis aksara Jawa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rose-Redwood, R. (2016). “Reclaim, rename, reoccupy”: Decolonizing place and the reclaiming of PKOLS. ACME, 15(1), 187–206.

Rose-Redwood, R., Alderman, D., & Azaryahu, M. (2010). Geographies of toponymic inscription: New directions in critical place-name studies. Progress in Human Geography, 34(4), 453–470. https://doi.org/10.1177/0309132509351042

Rose-Redwood, R., Alderman, D., & Azaryahu, M. (2018). The urban streetscape as political cosmos. Dalam R. Rose-Redwood, D. Alderman, & M. Azaryahu (Eds.), The political life of urban streetscapes naming, politics, and place (1–24). Routledge.

Rose-Redwood, R. S. (2008). From number to name: Symbolic capital, places of memory and the politics of street renaming in New York City. Social & Cultural Geography, 9(4), 431–452. https://doi.org/10.1080/14649360802032702

Salamun. (1988). Inventarisasi dan dokumentasi nama-nama jalan di daerah Kotamadya Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Salazar, N. B. (2010). Envisioning Eden: Mobilizing imaginaries in tourism and beyond. Berghahn Books.

SEAlang Library Javanese. (t.t.). Diakses pada 11 November, 2017, dari http://sealang.net/java/dictionary.htm

Scollon, R., & Scollon, W. S. (2003). Discourse in place. Language in the matherial world. Routledge.

Shakespeare, W. (2005). Romeo and Juliet. Webster’s French thesaurus edition (3rd ed.). Icon Classics.

Sheldon, K. M., & Lyubomirsky, S. (2012). The challenge of staying happier: Testing the hedonic adaptation prevention model. Personality and Social Psychology Bulletin, 38(5), 670–680. https://doi.org/10.1177/0146167212436400

Shohamy, E., & Waksman, S. (2009). Linguistic landscape as an ecological arena: Modalities, meanings, negotiations, education. Dalam E. Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic landscape. Expanding the scenery (313–331). Routledge.

Smith, G. W. (2016). Theoretical foundations of literary onomastics. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (295–309). Oxford University Press.

Smithies, M. (1986). Yogyakarta. Cultural heart of Indonesia. Oxford University Press.

Stroud, C., & Mpendukana, S. (2009). Towards a material ethnography of linguistic landscape: Multilingualism, mobility and space in a South African township1. Journal of Sociolinguistics, 13(3), 363–386. https://doi.org/10.1111/j.1467-9841.2009.00410.x

Suaka dan peninggalan sejarah dan purbakala. (1999). Laporan pendokumentasian Gereja Protestan di Indonesia bagian barat Gereja Marga Mulya Yogyakarta.

Sulistyowati, N. A., & Priyatmoko, H. (2019). Toponim Kota Yogyakarta (T. Wulandari, Ed.). Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sunjata, I. P., Tashadi, & Astuti, S. R. (1995). Makna simbolik tumbuh-tumbuhan dan bangunan kraton: Suatu kajian terhadap serat salokapatra. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Susanti, N., Lauder, M. R. M. T., Wuryandari, N. W., Rahayu, A., & Munawarah, S. (2016). Rekam jejak relokasi pemukiman di Jakarta: Kajian toponimi wilayah Kalijodo, Kampung Pulo, dan Luar Batang-Pasar Ikan [Laporan tidak diterbitkan]. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Tanpoaran. (1978). Sangkan paraning dumadi. Yayasan Djojo Bojo.

Taylor, S. (2016). Methodologies in place-name research. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (99–119). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.17

Tirtakoesoema, R. S. (2003). The procession with Kangjeng Kyai Tunggul Wulung at Yogyakarta. Dalam Stuart Robson (Ed.), The Kraton. Selected essays on Javanese court (91–106). KITLV Press.

Topografische Dienst. (1933). Jogjakarta [Schaal 1:25000]. Topografische Dienst.

Topografische Dienst in Nederland-Indie. (1925). Djogjakarta en Omstreken 1: 10000 uit. Topografische Dienst in Nederland-Indie.

Toussaint, J. (2007). Processing of odonyms in Québec, Canada. Ninth United Nations conference on the standardization of geographical names, 1–5. https://unstats.un.org/unsd/geoinfo/UNGEGN/docs/9th-uncsgn-docs/econf/9th_UNCSGN_e-conf-98-108-add1-en.pdf

Trask, R. L. (2010). Why do languages change? Cambridge University Press.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. (2012). http://jdih.jogjaprov.go.id/storage/15417_UUNomor13Tahun2012.pdf

United Nations Group of Experts on Geographical Names. (2001). Consistent use of place-names. United Nations Group of Experts on Geographical Names.

United Nations Group of Experts on Geographical Names. (2006). Manual for the national standardization of geographical names. United Nations group of experts on geographical names. United Nations Publication.

Usman, S., Kristiadi, D., Pramono, W. D., R., L., Syafarudin, & Rudianto, A. (2006). Malioboro. Mitra Tata Persada.

Utomo, S. S. (2009). Kamus lengkap Jawa-Indonesia. Kanisius.

Valentine, T., Brennen, T., & Brédart, S. (1996). The cognitive psychology of proper names: On the importance of being Ernest. Taylor & Frances/Routledge.

Van Langendonck, W., & Van de Velde, M. (2016). Names and grammar. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford handbook of names and naming (17–38). Oxford University Press.

Van Langendonck, W. (2007). Theory and typology of propoer names. Mouton de Gruyter.

Wardany, I. (2015). Toponimi nama stasiun kereta api Commuter Jabodetabek: Sebuah kajian linguistik [Tesis tidak diterbitkan]. Universitas Indonesia.

Wibowo, E., Nuri, H., & Hartadi, A. (2011). Toponim Kotagede. Asal muasal nama tempat. Rekompak; Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Cipta Karya; Jaya Reconstruction Fund; Forum Joglo.

Williams, D. R., & Vaske, J. J. (2003). The measurement of place attachment: Validity and generalizability of a psychometric approach. Forest Science, 830–340.

Yudoyono, B. (2017). Jogja memang istimewa. Jogja Bangkit Publisher.

Zimmerman, V. (2003). The Kraton of Surakarta in the year 1915. Dalam S. Robson (Ed.), The Kraton. Selected essays on Javanese court (pp. 41–64). KITLV Press.

Zoetmulder, P. J. (1995). Kamus Jawa Kuna Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Scroll to Top
×