Sadar Kawasan: Kapan dan di Mana Manusia Bebas, Berbatas, Hingga Tak Punya Akses

Screenshot (169)

Categories

, , ,

Published

September 15, 2022

HOW TO CITE

Pepep Didin Wahyudin

Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.426

Keywords:

sadar kawasan, cagar alam, saveciharus, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, suaka marga satwa, taman nasional, taman buru, taman hutan raya, taman wisata alam, suaka alam, pelestarian alam, sistem penyangga kehidupan, pendaki gunung, ciharus, rakutak, gunung, pencinta alam, pendaki, papandayan, tangkubanparahu, kamojang, guntur, gunung tilu, junghuhn, malabar, gunung simpang, burangrang, ciremai, gede pangrango, sempu, semeru, lingkungan, alam, konservasi

Synopsis

Sadar kawasan adalah usaha, ikhtiar untuk memperkenalkan gunung-gunung, hutan, dan totalitas alam beserta aturan dan ketentuan pada umumnya agar masyarakat dapat mengenal dan mengetahui alam, yang pada akhirnya bisa mencintai alam sebagai sumber hidup dan kehidupan. Untuk itu, diharapkan dengan sendirinya muncul kesadaran untuk menjaga keutuhan alam. Buku ini selain membahas relasi konsep kawasan dan dampak lingkungan, di dalamnya juga memuat kerusakan dan pelanggaran pada cagar alam serta implikasinya bagi lingkungan. Tak hanya itu saja, buku ini juga mengulas tentang masa depan upaya pelestarian alam berbasis kawasan. Buku ini sangat tepat bagi generasi muda, pelajar, dan mahasiswa, serta para pencinta alam karena memberikan informasi tentang karakteristik kawasan konservasi, baik itu kawasan pelestarian alam maupun kawasan suaka alam. Hadirnya buku ini diharapkan masyarakat dapat memahami kembali pentingnya sadar kawasan, terlebih lagi cagar alam, karena seharusnya kita dapat menjaga alam supaya tetap lestari agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Author Biography

Pepep Didin Wahyudin, Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia

Pepep D.W., atau yang karib dipanggil Mang Pepep, merupakan penulis kelahiran tahun 1984 di Bandung, tepatnya Majalaya di kaki Gunung Rakutak. Kampung halamannya dialiri langsung Sungai Citarum yang bersumber dari Ciharus di sebelah timur dan Cisanti di sebelah barat. Perhatiannya pada gunung, lingkungan, dan kelestarian alam di­wariskan langsung oleh kedua orang tuanya. Di setiap akhir pekan, sejak sekolah dasar, ia selalu dilibatkan dalam aktivitas menggarap sawah. Bersamaan dengan itu, ia dikenalkan lanskap pegunungan yang berada di sekitar, karenanya memori tentang cerita gunung selalu melekat dalam perjalanan karya-karya tulisnya. Pada tahun 2002, Mang Pepep hijrah ke kota untuk menimba ilmu di Jurusan Karawitan STSI Bandung, sesekali mengikuti kuliah ekstensi di Filsafat Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad). Pada tahun 2007–2010 sempat mengikuti Program Magister Kajian Budaya di Unpad, kemudian menuntaskan Magister Kajian Seni Pertunjukan di almamater yang sama kala sarjana. Beberapa buku karya penulis di antaranya Traditional Children’s Games of Indonesia (2013) dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan secara internasional. Kemudian, buku Pendidikan Karakter dalam Mainan dan Permainan Tradisional Jawa Barat (2012), Manusia & Gunung: Teologi, Bandung, Ekologi (2018) yang diakuisisi LIPI tahun 2021, serta buku Sadar Kawasan (2022) yang diakuisisi BRIN. Saat ini, tengah menuntaskan beberapa buku dalam tema seni budaya dan gender, di antaranya Tubuh Perempuan dalam Panggung Pertunjukan, serta Pe­rempuan dalam Karawitan Sunda: Paradigma Semiotika-Hermeneutika dalam Membongkar Konsep Pengarusutamaan Gender dalam Seni Pertunjukan Tradisi.

References

Abdurrahman, M. (2007). Eko-Terorisme: Membangun Paradigma Fikih Lingkungan . Bandung : Yayasan Islam Baiturrahman .

Ateew, J. N. (2009). Pesona Tiga Naskah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.

Danadibrata, R. (2009). Kamus Basa Sunda. Bandung: Kiblat.

Iskandar, J. (2012). Ekologi Perladangan Orang Baduy: Pengelolaan Hutan Berbasis Adat Secara Berkelanjutan . Bandung : Alumni .

KBBI. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kemendikbud. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Keraf, A. S. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas. PDF

KLHK. (2013). Wisata Alam di Kawasan Konservasi. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mangunjaya, F. M. (2005). Konservasi Alam dalam Islam. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Pepep. (2016). Mendaki Gunung dalam Sejarah Budaya Masyarakat Lama . Rmol.

Pepep. (2018). Manusia dan Gunung: Teologi, Bandung, Ekologi. Yogyakarta: Djeladjah.

Perhutani. (2016). Wilayah Perhutani. Perum Perhutani. Diakses dari https://perhutani.co.id/tentang-kami/

Rigg, J. (1862). A Dictionary of The Sunda Language of Java: Kamus Sunda-Inggris. Batavia.

Rindawan, I. K. (2017, Maret ). Peranan Awig-Awig dalam Melestarikan Adat dan Budaya di Bali. Jurnal Kajian Pendidikan Widya Accarya FKIP Universitas Dwijendra.

Rosidi, A. (2000). Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya . Bandung : Pustaka Jaya.

Sartini. (2004). Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. Diakses dari https://repository.ugm.ac.id/273938/1/JF%202004%20Menggali%20Kearifan%20Lokal%20Nusantara%20sebuah%20Kajian%20Filsafat.pdf

Sobirin. (2008). Kearifan Budaya dan Lingkungan Kota . DPKLTS .

Suhartini. (2009). Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan: Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Yogyakarta: Uiversitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Ir.%20Suhartini,%20MS./Shtn%20Semnas%20MIPA%2009%20Kearifan%20Lokal.pdf

Suroto. (2019). Ini Penyebab Lain Banjir Bandang di Sentani Jayapura, Selain Curah Hujan Tinggi. detikcom. Diakses dari https://regional.kompas.com/read/2019/03/18/19373421/ini-penyebab-lain-banjir-bandang-di-sentani-jayapura-selain-curah-hujan

Scroll to Top
×