Merawat Kearifan Lokal melalui Sanggar Budaya

Screenshot (263)

Categories



Published

September 30, 2020

HOW TO CITE

Romi Isnanda

Universitas Bung Hatta

DOI: https://doi.org/10.14203/press.250

Keywords:

Merawat Kearifan Lokal melalui Sanggar Budaya

Synopsis

Kebudayaan hadir di tengah-tengah kehidupan manusia bukanlah seperti seorang pesulap yang memainkan kecepatan tangannya untuk mengubah suatu benda menjadi bentuk benda yang lainnya atau menggeser posisi benda, dari tempat yang satu ke tempat lainnya, namun melalui proses tindakan dan pemikiran bijak dengan dilandasi rasa memiliki yang tinggi oleh para tetua dan masyarakat yang hidup di massa lampau. Dengan dilandasi rasa memiliki yang tinggi itulah kebudayaan menjadi suatu penciri secara kolektif bagi kelompok masyarakat yang berada di sekitarnya. Apabila ada satu di antara kelompok masyarakat yang merusak marwah budaya, baik disengaja atau pun tidak maka yang akan terkena dampaknya bukan hanya individu/kelompok tertentu, melainkan kelompok masyarakat secara kolektif.

Mengingat bagaimana proses dan fungsi kehadiran kebudayaan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, sudah selayaknyalah setiap generasi yang hidup dari zaman ke zaman menyadari arti penting kedudukan, peran, dan fungsi kebudayaan. Hal tersebut tentunya menjadi tanggung jawab bersama bagi setiap lapisan masyarakat, baik dalam bentuk formal maupun non-formal melalui strategi, media, dan metode yang bisa dipahami.  Dengan demikian, marwah budaya yang menjadi salah satu jati diri masyarakat tetap terjaga dengan baik di tengah-tengah perubahan zaman. Oleh sebab itu, buku ini mencoba menguraikan permasalahan kebudayaan di lingkaran zaman dan alternatif upaya untuk menjaga serta merawatnya yang dimulai dari kebudayaan daerah/kearifan lokal.  Alternatif upaya menjaga dan merawat kebudayaan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang bersifat kekinian.

References

DAFTAR PUSTAKA

Banks, James A. (2007). Educating citizens in multicultural society. Second edition. New York: Teachers College Columbia University.

Danandjaya, James. (1991). Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Endraswara, Suwardi. (2013). Teori kritik sastra. Yogyakarta: Center for Academic publishing Sevice (CAPS).

Dictio.id. (2018). Apa saja jenis-jenis seni grafis?. Diakses pada 24 April 2019 dari https://www.dictio.id/t/apa-saja-jenis-jenis-seni-grafis/68438/2.

Fatin, Nur. (2018). Pengertian tari modern dan jenisnya. Diakses pada 2 Mei 2019dari http://seputarpengertian.blogspot.com/2018/02/pengertian-tari-modern-dan-jenisnya.html.

Hasanuddin W. S. (2004). Ensiklopedi sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.

Hoerudin, Cecep Wahyu. (2011). Menumbuhkembangkan pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa dan budaya. Dalam Prosiding Seminar Nasional. Padang: Sukabina Press Padang.

Isnanda, Romi. (2018). Sastra lisan sebagai cerminan kebudayaan dan kearifan lokal bagi masyarakat”. Prosiding Seminar Lingkungan Lahan Basah, Vol. 3(2): 500. LPPM Universitas Lambung Mangkurat.

Isnanda, R., & Azkiya, H. (2019). Fungsi kesenian rakyat dalam penataan sanggar sebagai upaya menjaga eksistensi budaya lokal. Bahastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(2), 215–220.

Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan mentalitas dan pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Koentjaraningrat. (2002). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Kosasih, E. (2012). Dasar-dasar keterampilan bersastra. Bandung: Yrama Widya.

Kurnia, S. D. (2015). Pengaruh kegiatan painting dan keterampilan motorik halus terhadap kreativitas anak usia dini dalam seni lukis. Jurnal Pendidikan Usia Dini, 9(2), 285–302.

L, Siany. & C. B. Atiek. (2009). Khazanah antropologi. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Mawardi, K. (2013). Seni sebagai ekspresi profetik. IBDA: Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 11(2), 131–147.

Muhardi & Hasanuddin, W. S. (1992). Prosedur menulis fiksi. Padang: IKIP.

Muslich, Masnur. (2011). Pendidikan karakter; Menjawab tantangan krisis multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Nugroho, A. (2005). Permainan tradisional anak–anak sebagai sumber ide dalam penciptaan karya seni grafis [Disertasi Doktor, tidak dipublikasikan]. Universitas Sebelas Maret.

Nurgiyantoro, Burhan. (2005). Sastra anak: Pengantar pemahaman dunia anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

“11 aliran seni lukis dan penjelasannya”. (tanpa tahun). Sridianti.com. Diakses pada 3 April 2019 dari https://www.sridianti.com/11-aliran-seni-lukis-dan-penjelasannya.html.

Ratna S. U., & Nyoman, Kutha. (2014). Peran karya sastra seni, dan budaya dan pendidikan karakter. Yogyakarya: Pustaka Pelajar.

Rusyana, Y., Jaruki, M., & Djati, W. (2000). Prosa tradisional: Pengertian, klasifikasi, dan teks. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Sarwadi, H. (2004). Sejarah sastra Indonesia modern. Yogyakarta: Gama Media.

Setiadi, E. M., Hakam, K. A., Effendi, R. (2007). Ilmu sosial dan budaya dasar. Jakarta: Kencana.

Suneki, Sri. (2012). Dampak globalisasi terhadap eksistensi budaya daerah. Jurnal Ilmiah CIVIS, Vol. II(I): 315.

Sutardi & Kurniawan. (2012). Penulisan sastra kreatif. Graha ilmu: Yogyakarta.

Thahar, Harris Effendi. (2008). Menulis kreatif panduan bagi pemula. Padang: UNP Press.

Taum, Y. Y. (2011). Studi sastra lisan, sejarah, teori, metode, dan pendekatan disertai contoh. Yogyakarta: Lamalera.

Zamroni. (2010). The implementation of multicultural education. A reader. Yogyakarta: Graduate Program, State University of Yogyakarta.

Zamroni. (2011). Pendidikan demokrasi pada masyarakat multikultural. Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.

Scroll to Top
×