Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Kritik Seni Pertunjukan

Screenshot 2024-01-22 101340

Categories



Published

August 7, 2023

HOW TO CITE

Michael H.B. Raditya

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.738

Keywords:

Criticism, Performing Arts, Performance Studies, Contemporary Arts, Traditional Arts, Moment, Review, Seni Pertunjukan, Kritik, Budaya

Synopsis

Menjadi seorang kritikus seni tidaklah mudah. Menurut Sal Murgiyanto, salah seorang maestro tari Indonesia, seorang kritikus harus memiliki kemampuan untuk membaca atau memahami sebuah seni pertunjukan, serta menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan pertunjukan tersebut. Ia harus memiliki wawasan/pengetahuan yang luas dan mendalam tentang sejarah, agama, budaya, sosial, dan politik yang dapat memberikan makna bagi sebuah pertunjukan. Michael H.B. Raditya hadir dengan peran tersebut dalam buku yang kini berada di genggaman Anda. Melalui buku ini, ia menyelipkan catatan kritis terhadap beberapa karya seni, termasuk tari, musik, ataupun teater yang telah ia tonton, baik secara luring maupun daring. Catatan kritis terhadap pertunjukan-pertunjukan tersebut yang diipadupadankan dengan pengalaman dan pengetahuan seni penulis tentu akan menghidupkan dialog antara penampil dan penonton. Tentu dari buku ini kemudian diharapkan media ataupun ruang obrolan untuk merawat pertumbuhan dan kelestarian seni pertunjukan di Indonesia akan tetap terjaga.

Author Biography

Michael H.B. Raditya

Michael H.B. Raditya, seorang peneliti, penulis, dan kritikus yang mempunyai perhatian lebih pada kajian musik, performance studies, kajian tari, dan seni-budaya. Michael tengah menempuh studi doktoral di Faculty of Arts, University of Melbourne, Victoria, Australia sejak Februari 2022. Ia adalah penerima beasiswa Melbourne Research Scholarship. Disertasinya akan membahas mengenai dangdut di era milenial. Sementara untuk jenjang master, Michael mendapat­kan gelar M.A. dari Prodi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (2011–2013). Tesisnya bertajuk “Esensi Senggakan pada Dangdut Koplo sebagai Identitas Musikal”. Sejak tahun 2011, Michael mengonsentrasikan musik dangdut dan musik populer sebagai objek material penelitiannya. Sementara untuk jenjang sarjana, ia mendapatkan gelar S.Ant. dari Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (2006–2011). Skripsinya membahas tentang konsep Gemeinschaft dan Gesellschaft pada komunitas mahasiswa. Di luar pendidikan formal, Michael juga mengikuti workshop mengenai kritik seni pertunjukan sebanyak lima kali. Tiga di antaranya terjadi pada tahun 2014 dan diadakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Satu lainnya dihelat pada tahun 2014 dan diadakan oleh Jogja International Performing Arts (JIPA). Sementara satu tersisa terjadi pada tahun 2016 yang diadakan oleh Indonesian Dance Festival. Dua tahun berselang, tahun 2018, Michael menjadi tutor untuk lokakarya kritik Indonesian Dance Festival. Sementara pada tahun 2021, Michael turut menjadi tutor untuk lokakarya kritik di program Selisik Aksara dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Sejak tahun 2014, Michael aktif menulis kritik seni pertunjukan yang dipublikasikan di koran, majalah, dan media online, baik dalam negeri maupun mancanegara. Sebagai tenaga pengajar, Michael sempat mengajar di beberapa kampus, yakni menjadi dosen CPNS di Prodi Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2014 hingga 2017; menjadi dosen tamu di Program Studi Event, Universitas Prasetiya Mulya pada 2018 hingga 2021; serta membantu mengajar (dan mengasisteni) di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2017 hingga 2021. Pada rentang waktu tersebut (2014–2021), ia juga bekerja sebagai editor Jurnal Kajian Seni, UGM dan pembuat seminar serta diskusi di Prodi PSPSR, Sekolah Pascasarjana, UGM. Untuk aktivitas penelitian, ia juga menjadi peneliti di komunitas peneliti musik, LARAS–Studies of Music in Society (www.laras.or.id) dan komunitas peneliti tari, Senrepita. Pada tahun 2019, ia juga menjadi pendiri serta pimpinan dari Pusat Kajian Dangdut (www.dangdutstudies.com). Pusat Kajian Dangdut dibuat sebagai ruang diseminasi atas penelitian, pencatatan, dan informasi mengenai dangdut. Michael juga tergabung sebagai anggota dari International Council for Traditional Music (ICTM) dan menjadi perwakilan untuk program Next Generation pada kegiatan TPAM Performing Arts Meeting in Yokohama, Jepang tahun 2020. Pada tahun 2020, Michael dipercaya menjadi kurator seni pertunjukan untuk akun YouTube @budayasaya milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun tersebut, Michael juga menjadi programmer untuk Symposium Equator di Yayasan Yogyakarta Biennale. Sedangkan pada tahun 2021, Michael menjadi programmer dis­kusi dan programmer musik di Festival Kebudayaan Yogyakarta. Selain itu, Michael juga mengeditori beberapa buku, antara lain Arts and Beyond yang ditulis oleh Matthew Issac Cohen, Lono Simatupang, Sal Murgiyanto (2015), Jalan Tari Pak Sal (2016), Sal Murgiyanto: Hidup untuk Tari yang ditulis oleh Anderson Sutton dkk. (2016), Musik Suku Dayak ditulis oleh Haryanto (2016), Daya Seni: Bunga Rampai 25 Tahun PSPSR UGM ditulis oleh Bambang Sugiharto, Paul Rae dkk. (2017), The Power of Arts (2017), Prof. Dr. Mickey Mouse dan Human Error: Percikan Kebijaksanaan ditulis oleh Suka Hardjana (2017), Karya Cipta Seni Pertunjukan ditulis oleh Jakob Sumardjo dkk. (2017), Estetika Musik ditulis oleh Suka Hardjana (2018), Membaca Jawa ditulis oleh Sal Murgiyanto (2018), Kembara Seni I Wayan Dibia: Sebuah Autobiografi ditulis oleh I Wayan Dibia (2018), Play and Display: Dua Moda Pergelaran Reyog Ponorogo di Jawa Timur ditulis oleh G.R. Lono Lastoro Simatupang (2019), Para Penabuh Tubuh: Sehimpun Tulisan Tentang Tari Saman ditulis oleh Nyak Ina Raseuki, Sal Murgiyanto, Lono Simatupang dkk. (2019), dan lain-lain. Sementara pada bidang kepenulisan, Michael aktif menulis artikel jurnal, bunga rampai, artikel populer, majalah, hingga koran. Dua tulisan terbarunya diterbitkan oleh Routledge, yakni “The Popularisation and Contestation of Dangdut Koplo in the Indonesian Music Industry” pada buku Made in Nusantara: Studies in Popular Music (2021) dan “Revealing Cultural Representation in Indonesia Contemporary Dance” pada buku The Routledge Companion to Dance in Asia and the Pacific: Platforms for Change (2021). Beberapa tulisan lainnya dapat dilihat pada Google Scholar (Michael H.B. Raditya) atau https://linktr.ee/michaelhbraditya. Tidak hanya itu, Michael juga telah menerbitkan tiga buku, yakni Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Kritik Seni Pertunjukan (2018), OM Wawes: Babat Alas Dangdut Anyar (2020), dan Dangdutan: Kumpulan Tulisan Dangdut dan Praktiknya di Masyarakat (2022). Alamat surel: michael.raditya@gmail.com atau michael@dangdutstudies.com. Instagram: @michaelhbraditya. Facebook: Michael Haryo Bagus Raditya. YouTube: Michael HB Raditya. Twitter: @michaelhbradity.

References

Alexander, H., Chambers, Q., & Draeger, D. F. (1970). Pentjak-Silat: The Indonesian fighting art. Kodansha International.

Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice. Cambridge University Press.

Bujono, B. (2014). Mengupayakan seni (dan seniman) yang diharapkan. Dalam St. H. B. Prasetya & A. Widyasmoro (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Festival Kesenian Indonesia ke-8 “Spirit of the Future: Art for Humanizing” (277–284). Badan Penerbit ISI Yogyakarta.

Coomaraswamy, A. (1957). The dance of Shiva. Noonday Press.

Damono, S. D. (2012). Namaku Sita: Sebuah sajak. Editum.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Gennep, A. van. (1961). The rites of passage. University of Chicago Press.

Hardjana, S. (2003). Corat coret musik kontemporer dulu dan kini. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Hardjana, S. (2004a). Esai dan kritik musik. Galang Press.

Hardjana, S. (2004b). Musik antara kritik dan apresiasi. Penerbit Buku Kompas.

Hardjana, S. (2008). Jas wakil rakyat dan tiga kera: Percikan kebijaksanaan. Penerbit Buku Kompas.

Hardjana, S. (2018). Estetika musik: Sebuah pengantar (M. H. B. Raditya & E. Setiawan, Eds.). Art Music Today.

Hardjoprasonto, S. (2017). Darah seni mengalir dari kakeknya. Dalam A. Melati & M. H. B. Raditya (Ed.), Sal Murgiyanto: Membaca Jawa. ISI Press.

Huizinga, J. (1988). Homo Ludens: Essai sur la fonction sociale de jeu. Gallimard.

Kaye, N. (2000). Site-specific art: Performance, place, and documentation. Routledge.

Mendut, S. (2002). Kosmologi Gendhing Gendheng (Intercosmolimagination). IndonesiaTera.

Meyer-Dinkgräfe, D. (2015). Phelan, Auslander, and After. Journal of Dramatic Theory and Criticism, 29(2), 69–79.

Murgiyanto, S. (1993). Ketika cahaya merah memudar. CV Deviri Ganan.

Murgiyanto, S. (2002). Kritik tari: Bekal dan kemampuan dasar. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Murgiyanto, S. (2004). Tradisi dan inovasi: Beberapa masalah tari di Indonesia. Wedatama Widya Sastra.

Murgiyanto, S. (2015). Pertunjukan budaya dan akal sehat (D. Pramayoza, Ed.). Penerbit Fakultas Seni Pertunjukan IKJ.

Murgiyanto, S. (2017). Kritik pertunjukan dan pengalaman keindahan (Edisi baru) (D. Pramyoza, Ed.). Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Lintas Disiplin, Universitas Gadjah Mada.

Murgiyanto, S., Melati, A., & Raditya, M. H. B. (2016). Jalan tari Pak Sal: Penerima penghargaan seni Sasminta Mardawa 2016 (M. H. B. Raditya & A. Melati, Ed.). Penerbit Lintang Pustaka Utama.

Raditya, M. H. B. (2016). Jalan tari Pak Sal. Dalam Jalan tari Pak Sal: Penerima penghargaan seni Sasminta Mardawa 2016 (pp. 3–40). Komunitas Senrepita dan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa.

Setiawan, E. (2013, Agustus). 75 tahun Suka Hardjana. Tempo.

Soedarsono, R. M. (1999). Seni pertunjukan Indonesia dan pariwisata. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Sunardi, S., & Supratiknya, A. (Eds.). (2014). Manusia anomali tanpa kompromi. Universitas Sanata Dharma.

Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.

Walujo, D. (2016). Pekerja seni yang gigih, peka, dan penari sala ‘betulan’. Dalam M. H. B. Raditya (Ed.), Sal Murgiyanto: Hidup untuk tari. ISI Press.

Widaryanto, F. (2005). Kritik tari: Gaya, struktur, dan makna. Kelir.

Widaryanto, F. (2016). Pernak pernik bersama Mas Sal Murgiyanto. Dalam M. H. B. Raditya (Ed.), Sal Murgiyanto: Hidup untuk tari. ISI Press.

Yohanes, B. (2017). Metode kritik teater: Teori, konsep, dan aplikasi. Kalabuku.

Scroll to Top
×