Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia dan Memahami Pelestariannya

Categories



Published

HOW TO CITE

Tri Atmoko (ed)

Badan Riset dan Inovasi Nasional

Hendra Gunawan (ed)

Badan Riset dan Inovasi Nasional

https://orcid.org/0000-0002-2855-801X

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602

Keywords:

Binatang Langka , Pelestarian, Satwa Indonesia

Synopsis

Indonesia adalah negara negara megabiodisersity.  Meskipun luas wilayahnya hanya 1,3%  dari luas muka bumi, namun Indonesia memiliki 12% mamalia, 16% reptilia, 10% tumbuhan, 25% ikan dan 17% burung yang ada di dunia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya perlindungan, pengawetan dan pelestarian keanekaragaman hayati, antara lain melalui pencadangan kawasan hutan sebagai hutan konservasi seperti taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru.  Disamping itu, pemerintah juga menetapkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MenLHK/Setjen/KUM.1/12/2018. Upaya konservasi satwa juga dilakukan melalui penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi spesies yang terancam punah serta penetapan 25 spesies prioritas.

Peningkatan populasi 25 spesies prioritas sebesar 10% dari baseline data 2013 merupakan salah satu yang akan dicapai pemerintah.   Upaya peningkatan populasi tersebut antara lain dilakukan melalui pembinaan populasi, penanggulangan konflik, perlindungan dan pengamanan, penyadartahuan, rehabilitasi dan pelepasliaran, pengelolaan dan pengembangan pangkalan data. 

Buku bunga rampai berjudul “Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia dan Memahami Pelestariannya” adalah karya para peneliti konservasi keanekaragaman hayati lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dirancang untuk konsumsi publik dengan tujuan mengenalkan kekayaan keanekaragaman hayati satwa dan mensosialisasikan upaya-upaya konservasinya. Harapannya adalah masyarakat bertambah pengetahuannya, meningkat pemahamannya dan akhirnya berpartisipasi serta mendukung segala upaya konservasi keanekaragaman hayati pada umumnya dan satwa langka yang terancam punah pada khususnya. Buku mencakup berbagai jenis satwa liar yang ada di Indonesia dari Pulau Sumatera hingga Papua.

Kekayaan jenis satwa liar di zoogeografi wilayah Indonesia

Tri Atmoko

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c614

Berdampingan Hidup dengan Orang Utan Tapanuli

Wanda Kuswanda

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c615

Neli, Siamang Primadona Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Aek Nauli

Sriyanti Puspita Barus

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c616

Potensi Konflik Gajah di Areal HTI dan Perkebunan Sawit

Nur M Heriyanto, Raden Garsetiasih, Anita Rianti

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c617

Menakar Manfaat dan Risiko Memulangkan ‘Si Abah’ ke Alam Liar: Sebuah dilema dalam translokasi karnivora besar

Hendra Gunawan

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c618

Banteng Jawa: Bioekologi, Genetik, dan Upaya Pelestariannya

Antonius YPBC Widyatmoko, ILG Nurtjahjaningsih, Maryatul Qiptiyah, Raden Garsetiasih

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c619

Sanctuary Banteng di TN Baluran

Mariana Takandjandji, Reny Sawitri

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c620

Harapan Baru Pengembangan Rusa Timor melalui Pola Kemitraan: Studi kasus di PT Cibaliung Sumberdaya, Banten

Mariana Takandjandji, Reny Sawitri

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c621

Manis javanica, Nasibmu Tidak Semanis Namamu

Mariana Takandjandji, Reny Sawitri

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c622

Elang Jawa, Satwa Langka Inspirasi Lambang Negara

Vivi Yuskianti

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c623

Ekosistem Riparian, Harapan Masa Depan Bekantan

Tri Atmoko

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c624

Jejak Orang Utan di Hutan yang Kian Tertekan

Tri Sayektiningsih

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c625

Merangkai Kembali Habitat Orang Utan Morio di Bentang Alam Wehea-Kelay

Tri Atmoko, Edy Sudiono, Mohamad Arif Rifqi

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c626

Tantangan dan Peluang Konservasi Bekantan di Kalimantan Selatan

Sofian Iskandar

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c627

Mungkinkah Melestarikan Sigung di Lanskap Mosaik Perkebunan Kelapa Sawit?

Rozza Tri Kwatrina

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c628

Sanca Batik, Sang Predator Cantik dan Unik

Vivin Silvaliandra Sihombing

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c629

Cica Daun, Burung Kicau yang Semakin Sepi Nyanyiannya di Alam

Tri Atmoko, Mohamad Arif Rifqi, Mukhlisi

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c630

Tarsius, Pemburu Handal Bermata Bola

Indra ASLP Putri

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c631

Anoa Breeding Center, Pioneer Konservasi Ex-situ Anoa di Sulawesi

Diah Irawati Dwi Arini, Margareta Christita

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c632

Burung Maleo, Melawan Punah di Lanskap yang Terus Berubah

Hendra Gunawan

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c633

Nuri Talaud, Sang Biduan yang Melegenda dari Bumi Porodisa

Diah Irawati Dwi Arini

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c634

Perkici Dora, Nasibmu Tak Seindah Warnamu

Fajri Ansari, Indra ASLP Putri

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c635

Suaka Alam Masbait: Secercah harapan pelestarian babirusa di Kepulauan Maluku

Ayu Diyah Setiyani, Bayu Wisnu Broto, Tri H. Kuswoyo

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c636

Kepak Elang Flores di Langit Nusa Tenggara

Oki Hidayat

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c637

Kura-kura Leher Ular Rote, Bagaimana Caranya Agar Tidak Punah?

Kayat

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c638

Kura-kura Moncong Babi, Si Yatim yang Terus Terancam

Richard Gatot Nugroho Triantoro

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c639

Epilog: Melestarikan hutan, melestarikan satwa langka Indonesia

Tri Atmoko

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.602.c640

Author Biographies

Tri Atmoko, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Trenggalek, 22 April 1981. Penulis adalah peneliti ahli madya bidang konservasi dan ekologi satwa liar pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2003–2022), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak awal 2022. Pendidikan sarjana kehutanan diselesaikan pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Malang tahun 2003. Gelar Master Primatologi diperoleh tahun 2012 dan doktor tahun 2020 pada Program Studi Primatologi IPB. Pernah mengikuti Kursus Inventarisasi Flora dan Fauna di TN Alas Purwo dan TN Meru Betiri tahun 2000, Training survei kelelawar (2005), The field Course Primate Conservation Biology and Global Health (2011), Diklat SIG bagi Analis (2015), dan Training of Occupancy Model (2018).
Menjadi Pengurus Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia (PERHAPPI), Koordinator Colobinae, Ketua Himpunan Mahasiswa dan Alumni Primatologi (HIMAPRIMA) IPB, dan anggota International Society of Tropical Foresters (ISTF). Menjadi dewan redaksi majalah Swara Samboja, editor empat buku, dan reviewer Jurnal Media Konservasi, Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa. Tenaga ahli terkait survei dan pengelolaan satwa liar di beberapa lembaga dan perusahaan.
Berbagai publikasi berupa buku, makalah populer, prosiding seminar, jurnal nasional, dan internasional telah dihasilkan. Beberapa buku yang dihasilkan bersama tim, di antaranya Praktik-Praktik Terbaik Pengelolaan Satwa Terancam Punah dalam Skala Bentang Alam (2021), Flora di Habitat Bekantan Lahan Basah Suwi (2018), Warisan Alam Wehea Kelay (2018), Jenis Tumbuhan Pakan Badak Sumatera di Kalimantan (2016), Budaya Masyarakat Dayak Benuaq dan Potensi Flora Hutan Lembonah (2016), Satwa Liar di Hutan Lembonah (2016), Burung dan Kelelawar di Lahan Bekas Tambang Batubara (2014), Kehati Hutan Rintis Wartono Kadri (2015), dan Bekantan Kuala Samboja (2012). E-mail: three.atmoko@gmail.com
Google scholar: https://scholar.google.com/citations?user=vAx8xRIAAAAJ&hl=id
Scopus: https://www.scopus.com/authid/detail uri?authorId=57197 820336

Hendra Gunawan, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Banjarnegara, 3 April 1964, adalah Peneliti Utama di Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati di Kementerian LHK dan mulai 2022 menjadi peneliti di BRIN. Penulis telah 28 tahun melakukan penelitian keanekaragaman hayati flora, fauna dan ekosistem, selain itu juga berpengalaman sebagai penyusun AMDAL, serta pernah menjadi konsultan untuk beberapa lembaga nasional dan internasional, seperti CIFOR, WWF, DFID, BAPPENAS, dan Pemerintah Daerah. Menjadi dosen tamu di Sekolah Pascasarjana IPB, Pascasarjana UI, dan SITH-ITB, juga mengajar Diklat Fungsional Peneliti di LIPI, serta beberapa diklat dan in house training. E-mail: hendragunawan1964@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?user=ks-qJfM AAAAJ&hl=en
Scopus: https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=5721 6983705

Anggota Himpunan Peneliti Indonesia, Himpunan Ekologi ­Indonesia, Perhimpunan Biologi Indonesia, Masyarakat Biodiversitas Indonesia, dan Cat Specialist Group SSC-IUCN. Ketua Forum Konservasi Macan Tutul Jawa (FORMATA) periode 2015–2019, pengurus Forum Konservasi Rafflesia dan Amorphophallus, dan Ketua Komunitas Fotografi FORDA. Koordinator Penelitian Integratif Konservasi dan Pemanfaatan Flora Fauna (2014–2015), Ketua Kelompok Peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati (2015–2020), Ketua Dewan Riset Badan Litbang KLHK (2020–2023), Dewan Redaksi Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam (2011–sekarang), peer reviewer beberapa majalah ilmiah a.l. Jurnal PHKA, Jurnal Biodiversitas, Jurnal PSL-IPB, Jurnal MHT-IPB, Buletin Kebun Raya, Biotropia, Indonesian Journal of Forestry Research, Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana (PKS), LIPI Press, Media Konservasi, Jurnal Wanariset, dan Swara Samboja.
Telah menghasilkan lebih dari 210 karya tulis ilmiah yang di­publikasikan di majalah ilmiah atau prosiding, baik nasional maupun internasional serta telah mengantongi 23 Hak Kekayaan Intelektual Buku. Ada 33 buku yang telah ditulisnya dengan tim atau sendiri.

Antonius YPBC Widyatmoko, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Adalah Peneliti Utama bidang Genetika Molekuler, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), dan sejak tahun 2022 menjadi peneliti di BRIN. Lahir di Maluku Tenggara, 17 Januari 1967. Doktor bidang Genetika Molekuler, University of Kyushu, Fukuoka, Japan, (2003); Master of Agriculture bidang Genetika Molekuler, University of Kyushu, Fukuoka, Japan, (2000); Insinyur jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1991). Kegiatan penelitian yang dikerjakan dan publikasi yang dihasilkan sebagian besar berhubungan dengan analisis genetika populasi menggunakan penanda DNA, baik untuk mendukung program konservasi flora dan fauna, maupun pemuliaan tanaman hutan. Banyak terlibat dalam proyek ITTO untuk kegiatan konservasi jenis tumbuhan hutan terancam punah sebagai National Expert. E-mail: aypbc.widyatmoko@biotifor.or.id.
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=KlXLZMAAAAAJ

Ayu Diyah Setiyani, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku

merupakan salah satu staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Konservasi Sumber Daya Alam, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada dan menyelesaikan pendidikan Master di ­Program Pengelolaan Lingkungan, Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya dan Hydrolic Engineering Land and Water Development, UNESCO-IHE Delft, Belanda. Penulis saat ini sedang berusaha mendapatkan beasiswa doktoral dalam bidang pengelolaan kawasan konservasi dan perdagangan satwa. E-mail: ayu.diyah.s@gmail.com

Bayu Wisnu Broto, Balai Penerapan Standardisasi Instrumen LHK Makassar

Memperoleh gelar sarjana di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Tahun 2009. Selanjutnya, pada tahun Agustus 2018 mendapatkan gelar Master pada bidang Konservasi Satwa Liar dari University of Maine, USA. Penulis aktif bekerja sebagai peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar sejak Tahun 2010 dan sejak 2022 berubah menjadi Balai Penerapan Standardisasi Instrumen LHK Makassar. Penulis telah tergabung dalam berbagai kegiatan penelitian satwa liar di kawasan Wallacea, khususnya Sulawesi dan Maluku dengan ketertarikan pada aspek habitat mamalia. Saat ini, penulis sedang terlibat dalam ­kegiatan penelitian babirusa di Maluku. Penulis sudah mempublikasikan lebih dari 15 publikasi baik dalam bentuk prosiding ataupun jurnal international maupun nasional.
E-mail: wisnubroto87@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=6mVZEI8AAAAJ

Diah Irawati Dwi Arini, Badan Riset dan Inovasi Nasional

dilahirkan di Semarang, 25 September 1982. Gelar Sarjana diperoleh di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (2005) pada jurusan Konservasi Sumber daya Hutan dan Ekowisata. Tahun 2012, mendapatkan beasiswa riset dari Badan Litbang Kehutanan untuk mengikuti Pendidikan pada jurusan Ilmu Pengetahuan Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta lulus tahun 2014.
Tahun 2006–2008 bergabung Project JICA–Gunung Halimun Salak Management Plan sebagai GIS Analyst. Bekerja di Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado sejak 2008, kemudian pindah di Badan Riset dan Inovasi (BRIN) mulai awal tahun 2022.
Menekuni bidang konservasi fauna langka khususnya di bioregion Wallacea termasuk spesies Nuri talaud (Eos histrio) dan Anoa (Bubalus spp.). Telah menerbitkan lebih dari 61 publikasi dalam bentuk jurnal, prosiding, karya ilmiah populer, dan buku. Buku pertama penulis adalah Keanekaragaman Jenis Burung di Beberapa Kawasan Konservasi di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo (2011), Tumbuhan obat tradisional di Sulawesi Utara Jilid I dan II (2011), Anoa dan habitatnya di Sulawesi Utara (2013), Keanekaragaman Flora dan Fauna Taman Hutan Aqua Lestari (2017), dan Manajemen Reproduksi Anoa Dataran Rendah (2019). Penulis aktif dalam program Anoa Breeding Center di bawah pengelolaan BP2LHK Manado dan BKSDA Sulawesi Utara. Tahun 2018 mengikuti pelatihan pengelolaan satwa secara ex situ di Leipzig Zoo – Jerman, dan di tahun 2019–2020 menjadi Project Coordinator pada Project ITTO PD 646/12 Rev. 3 (F) “Initiating the conservation of cempaka tree species (Elmerrillia sp.) through plantation development with the local community participation in North Sulawesi”.
E-mail: irawati.diah@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user =wuF-Xo0AAAAJ

Edy Sudiono, Yayasan Konservasi Alam Nusantara

Lahir di Banyuwangi pada tanggal 1 November 1969. Ia adalah lulusan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman di Samarinda. Mengawali karirnya sebagai Staf Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (Plasma) di Samarinda dari tahun 1989–2003, Tahun 1995–2002 bekerja sebagai staf social forestry di Sustainable forest Management Project (SFMP_GTZ). Sejak tahun 2003–2017 bergabung dengan The Nature Conservancy mengawali karier sebagai staf sertifikasi officer pengelolaan hutan-manager Proteted Area Kalimantan dan pada tahun 2017–sekarang sebagai partnership berkarya di Yayasan Konservasi Alam Nusantara. Ia adalah salah satu orang yang pertama kali mendorong Kawasan Hutan Lindung Wehea dari hutan produksi ditingkatkan fungsinya menjadi Hutan Lindung Wehea di Kabupaten Kutai Timur, Penggagas dan pionir pengelolaan kolaboratif di Bentang Alam Wehea-Kelay dan beberapa kawasan bernilai penting lainnya di Kalimantan Timur, seperti kawasan Labuan Cermin Biduk-Biduk dan Si Gendhing Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau.
E-mail: esudiono@ykan.or.id

Endang Karlina, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Bogor, Jawa Barat, 8 September 1964. Gelar sarjana kehutanan (S.Hut.) diperoleh di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Nusa Bangsa Bogor tahun 2000, selanjutnya pada Agustus 2010 mendapatkan gelar Master of Science (M.Si.) di Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan. Gelar doktor diperoleh pada Agustus 2015 di Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Penulis bekerja sebagai peneliti mulai tahun 2000 sampai saat ini di Pusat Litbang Hutan, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menduduki jabatan sebagai Ahli Peneliti Madya dan sejak tahun 2022 menjadi peneliti BRIN. Penulis telah mempublikasikan berbagai jurnal ilmiah baik jurnal internasional maupun nasional dan prosiding, serta media lainnya. Bidang kepakaran penulis adalah Konservasi Keanekaragaman Hayati. Beberapa buku yang sudah diterbitkan, antara lain berjudul Siamang: Dari Riset menuju Konservasi (2019), Evaluasi Nilai Konservasi Restorasi Ekosistem Areal PascaTambang PT KPC Berbasis Zonasi (2019). Penulis sering diminta juga sebagai narasumber dalam pertemuan ilmiah, pembimbing mahasiswa, dan aktif dalam orga­nisasi Himpunan Peneliti Indonesia.
E-mail: ek_jayadipura@yahoo.co.id
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=FtnkFdgAAAAJ

Fajri Ansari, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Bekerja di Balai Penelitian & Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Makassar sejak tahun 2002 dan sejak 2022 menjadi peneliti di BRIN. Menyelesaikan S-1 di Fakultas Kehutanan, Universitas ­Hasanuddin, Makassar. Pada tahun 2016, melanjutkan pendidikan S-2 di Forest Environmental ­Science, Seoul National University, Korea Selatan. Sejak awal bekerja, penulis merupakan anggota kelompok penelitian Konservasi Sumber Daya Hutan. Terlibat dengan beberapa kegiatan penelitian yang berkaitan dengan konservasi flora dan fauna, manajemen kawasan konservasi dan pariwisata. Sejumlah karya tulis ilmiah, baik berupa prosiding maupun jurnal telah dipublikasikan dari berbagai kegiatan penelitian yang diikuti oleh penulis.
E-mail: averhoa@gmail.com
Google scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=iUEcWmIAAAAJ

ILG Nurtjahjaningsih, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Purwokerto, 20 April 1969. Penulis menekuni sebagai peneliti ahli madya bidang genetika molekuler di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan sejak tahun 2022 menjadi peneliti di BRIN. Menempuh pendidikan Strata 1 di Institut Pertanian Bogor Fakultas MIPA jurusan Biologi-Botani. Gelar M.Sc. diperoleh dari The University of Tokyo, Graduate school of Agricultural and Life Sciences, Department of Ecosystem Study, Laboratory of Forest Ecosystem pada tahun 2005. Gelar Ph.D diperoleh pada Universitas yang sama pada tahun 2008. Salah satu bidang penelitian yang diminati oleh penulis adalah penggunaan marka DNA untuk mendukung strategi konservasi dan pemuliaan, khususnya flora dan fauna dari hutan.
E-mail: iluh_nc@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=xHFTTyoAAAAJ

Indra ASLP Putri, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Peneliti ahli madya pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar dengan bidang keahlian Konservasi dan Pengaruh Hutan lain dan sejak tahun 2022 menjadi peneliti di BRIN. Penulis yang tergabung di kelompok penelitian Konservasi Sumber Daya Hutan, merupakan lulusan S-1 Fakultas MIPA Jurusan Biologi, Universitas Hasanuddin dan melanjutkan pendidikan S-2 di Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada. Penulis menekuni berbagai penelitian yang berkaitan dengan flora dan fauna, seperti tarsius, burung, kupu-kupu, disamping menekuni penelitian di bidang manajemen kawasan konservasi, serta pengelolaan dan dampak pariwisata. Penelitian-penelitian tersebut telah dipublikasikan baik dalam bentuk prosiding, buku bunga rampai, jurnal nasional, maupun jurnal internasional.
E-mail: indra.arsulipp@gmail.com
Google scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user= OR8L_kYAAAAJ

Kayat, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Sumedang Jawa Barat, 30 Juni 1972. Penulis memulai karier sebagai Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak tahun 1999 sampai dengan saat ini. Jabatan Peneliti Ahli Madya didapat pada tahun 2018 pada Bidang Konservasi dan Pengaruh Hutan. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN.
Penulis meraih gelar Sarjana (S-1) di Fakultas Kehutanan – Institut Pertanian Bogor (1997) pada Jurusan Konservasi Sumber daya Hutan (KSH). Penulis mendapatkan gelar Master of Science (M.Sc.) pada Juli 2009 dan gelar Doktor pada Juli 2017 dari Program Studi Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Penulis telah melakukan penelitian pada bidang konservasi keanekaragaman hayati selama 20 tahun terutama pada beberapa objek penelitian skala spesies, seperti rusa timor (mamalia), burung kakatua dan burung bayan (aves), serta buaya dan kura-kura leher ular rote (reptil). Pada 10 tahun terakhir, penulis fokus pada penelitian konservasi ex situ spesies endemik dan terancam punah dari Pulau Rote, yaitu kura-kura leher ular rote (Chelodina mccordi Rhodin 1994). Selama berkarir sebagai peneliti, penulis telah mempublikasikan hasil penelitiannya pada berbagai jurnal internasional, jurnal nasional terakreditasi, prosiding, dan majalah semi populer.
E-mail: kayat_bpkk@yahoo.com & kayatkayat120799@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=rxPZrsMAAAAJ

Margareta Christita, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Jakarta, 2 Desember 1984. Gelar sarjana diperoleh pada tahun 2006 bidang konservasi sumber daya hutan dari Universitas Gadjah Mada, pada tahun 2007 melanjutkan studi master pada bidang biotechnology di Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 2017 sampai saat ini penulis melanjutkan program doktoral di Universitas Helsinski di Finlandia pada program Plant Science (melalui beasiswa LPDP).
Penulis memiliki minat dalam dunia mikrobiologi terutama plant-microbes interaction dan konservasi keanekaragaman hayati. Beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk fellowship, visiting research, dan menjadi pembicara seminar di luar negeri YSEALI Environmental Sustainability Fellowship, Washington DC, USA (2015), YSEALI Summit on environmental sustainability, Kuala Lumpur, Malaysia (2015), Visiting Research at Umea Plant Science Centre- Sweden (2017), Nordic Baltic Indonesian Scholarship Conference IV, Tartu, Estonia (2017), Mycology Course at SLU, Sweden (2017), Visiting Research of Plant Biology at Max Planck Institute for Plant Breeding, Cologne, Germany (2018), International conference of Arabidopsis researcher-Finland (2018), Nordic Baltic Indonesian Scholarship Conference V, Copenhagen, Denmark (2019), Overseas Indonesian Student Association Alliance) (OISAA-Symposium Region America-Europe, Barcelona, Spain (2019), Visiting Research of Plant Biology at VIB Ghent, Belgium (2019). Tahun 2020, penulis mendapatkan research grant untuk penelitian Silver birch-Taphrina betulina interaction dari Finnish society of Forestry Sciences, Finlandia.
Sejak 2014 penulis aktif menulis karya tulis yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, majalah popular, dan buku. Buku pertama yang diterbitkan penulis adalah Peran 50 tahun Kehutanan di Sulawesi Utara (2015). Penulis aktif dalam program Anoa Breeding Center di bawah pengelolaan BP2LHK Manado, serta bersemangat dalam melakukan kegiatan kerelawanan terutama di bidang edukasi dan konservasi satwa.
E-mail: mchristita@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user= cGn-8owAAAAJ

Mariana Takandjandji, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 8 Mei 1962. Lulus Sarjana (S-1) di Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana, Kupang NTT pada Tahun 1986. Lulus S-2 Jurusan Konservasi Biodiversitas Tropika, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor pada Tahun 2009. Saat ini sebagai Peneliti Ahli Utama dengan bidang kepakaran Konservasi Keanekaragaman Hayati pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Bogor. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Karya tulis ilmiah yang telah dihasilkan khususnya tentang rusa timor, burung paruh bengkok, trenggiling, dan banteng di penangkaran. Kelompok profesi yang pernah diikuti, yakni Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo).
E-mail: rambu_merry@yahoo.co.id
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=jAJdo58AAAAJ

Maryatul Qiptiyah, Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Yogyakarta

Lahir di Semarang, 23 Januari 1978. Penulis mengawali penelitian satwa liar sejak tahun 2002 sebagai asisten peneliti muda di Balai Penelitian Kehutanan Makassar, Kementerian Kehutanan. Pendidikan sarjana diselesaikan di Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Diponegoro pada tahun 2001. Gelar master diperoleh dari Program Studi Ilmu Kehutanan, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2008. Penulis menyelesaikan pendidikan S-3 di Program Studi Ilmu Kehutanan, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2019.
Saat ini, penulis tergabung di Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) (sebelumnya Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan).Bidang ilmu yang ditekuni adalah genetika molekuler, khususnya untuk konservasi satwa liar. Beberapa publikasi terkait dengan konservasi satwa liar, antara lain tentang populasi dan habitat tarsius dan genetika banteng.
E-mail: maryatulqiptiyah@biotifor.or.id
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=65n4mbIAAAAJ

Mohamad Arif Rifqi, Yayasan Konservasi Alam Nusantara

Lahir di Sumenep pada tanggal 19 Maret 1990. Ia adalah lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional di Jakarta. Mengawali kariernya sebagai GIS & Database Officer di Forum Orang Utan Indonesia pada tahun 2011–2014 sampai dengan menjadi Project Manager pada Program Konservasi Orang Utan Kalimantan di Koridor Taman Nasional Betung Kerihun-Danau Sentarum dan Sekitarnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat pada 2014–2017. Saat ini berkarir sebagai Orang Utan Project Specialist (2017–2020) dan Endangered Species Conservation Specialist (2020–saat ini) di Yayasan Konservasi Alam Nusantara. Selain di Kalimantan, ia juga pernah terlibat dalam penelitian keanekaragaman hayati di Jawa, Sumatra, Halmahera, hingga Timor Leste. Selama karirnya telah menghasilkan puluhan karya tulis yang diterbitkan baik dalam publikasi ilmiah maupun popular. Selain menulis dan traveling, ia juga menyukai fotografi, salah satu karyanya menjadi juara kedua pada event Forest Asia Summit 2014.
E-mail: mohamad.rifqi@ykan.or.id

Mukhlisi, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Bandar Lampung pada tanggal 18 Desember 1983. Menyelesaikan pendidikan dasar sampai jenjang Strata 1 (S-1) di kota kelahirannya. Gelar Sarjana Sains (S.Si) didapatkan dari Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung pada tahun 2006. Sejak tahun 2008 hijrah ke Samboja (Kalimantan Timur) dan menjalani karir sebagai fungsional peneliti pada sebuah instansi yang sekarang bernama Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi KSDA (Balitek KSDA). Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN.
Pendidikan S-2 diselesaikan di Universitas Diponegoro pada tahun 2014 pada program studi Ilmu Lingkungan. Memiliki ketertarikan pada area penelitian yang berkaitan dengan ekologi, konservasi biodiversitas, dan pengelolaan lingkungan. Sampai saat ini telah menghasilkan puluhan karya tulis baik dalam bentuk buku, prosiding, majalah, serta jurnal nasional/internasional.
E-mail: mukhlisi.arkan@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=vAvtTX8AAAAJ

Nur M Heriyanto, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lulus Sarjana Muda Kehutanan 1981 dan Sarjana Kehutanan 1994. Be-kerja dari tahun 1983 sampai sekarang. Tahun 2002–2006, menjadi counterpart kerja sama antara Badan Litbang Kehutanan dengan JICA mengenai Carbon Fixing Forest Management Project. Pernah mengikuti Regional Training Course on Forest Ecology in Gunung Palung National Park, West Kalimantan, Indonesia (1989), Training Course on The Use of Radio Tracking and Remote Sensing, with Special Reference to Seagrass Ecosystems and Dugong Populations, Ambon, Indonesia (1992), Individual Training Course on Joint Training for Forestry Project Counterparts, Japan (2002). Penulis adalah Peneliti Ahli Utama dari tahun 2013 di bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati, pada kelompok peneliti konservasi keanekaragaman hayati Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Meneliti bidang ekologi keanekaragaman hayati dan masalah karbon. Karya tulis ilmiah yang dihasilkan lebih dari 110 karya tulis ilmiah, berupa jurnal nasional, jurnal internasional, prosiding, maupun buku.
E-mail: nurmheriyanto88@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=sF6y5ccAAAAJ

Oki Hidayat, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Jakarta, 27 Oktober 1986. Memperoleh gelar sarjana kehutanan dari IPB University dan magister ilmu biologi ­(spesialisasi konservasi biologi) dari The University of ­Western Australia. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Ahli Muda di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam pada Balai Litbang LHK Kupang. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Selama lebih dari 10 tahun ia telah melakukan berbagai kegiatan penelitian terkait satwa liar di Nusa Tenggara Timur.
Ia telah menyukai dan memiliki passion dengan burung dari sejak kecil sehingga saat ini fokus riset yang dilakukannya adalah ornitologi, khususnya burung-burung endemik Nusa Tenggara Timur. Telah menghasilkan lebih dari 25 karya tulis ilmiah dan 1 buku. Selain menjadi peneliti, ia juga mendalami fotografi satwa liar. Beberapa karyanya telah dijadikan ilustrasi pada buku burung yang diterbitkan oleh penerbit internasional. Salah satu karya fotonya juga dipakai sebagai penghias ruang kerja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
E-mail: biokupang@gmail.com
Google scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=Qzbw5pMAAAAJ

Raden Garsetiasih, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Purwakarta, 22 Januari 1963 adalah Peneliti Ahli Utama terhitung mulai tanggal 1 Oktober 2013 dengan kepakaran Konservasi Keanekaragaman Hayati. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Menghasilkan 78 karya tulis ilmiah baik yang ditulis sendiri maupun dengan penulis lain dalam bentuk buku, jurnal, prosiding, makalah yang diterbitkan, dan makalah yang dipresentasikan, 5 di antaranya dalam bahasa Inggris. Aktif dalam organisasi profesi ilmiah, yaitu sebagai anggota Asia Pasific Forest Invasive Species (2003–sekarang), dan anggota Himpenindo (2017–sekarang). Mengikuti beberapa seminar, workshop, training di dalam dan di luar negeri yang terkait bidang kepakarannya di antaranya mengenai invasif spesies di Tiongkok, India, Bhutan, Filipina, Fiji, New Zealand, Hawaii, dan Prancis.
E-mail: garsetiasih@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=s9b4Z9UAAAAJ

Reny Sawitri, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di Semarang, 1 September 1960. Lulusan Sarjana Kehutanan IPB tahun 1985 dan lulus S-2 dari Mississippi State University tahun 1995. Ahli Peneliti Utama bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati di Pusat Litbang Hutan. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Selama lebih dari 30 tahun mengabdi, telah menulis sesuai keprofesionalan ke dalam buku, jurnal, prosiding sekitar 60 judul. Kelompok profesi yang diikuti adalah Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo).
E-mail: reny_sawitri@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=qH1cCuUAAAAJ

Richard Gatot Nugroho Triantoro, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK) Manokwari

Lahir di Manokwari, 24 Februari 1972. Menyelesaikan Sarjana pada Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih tahun 1996 dan menyelesaikan Magister pada Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor tahun 2012. Penulis saat ini bertugas di Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK) Manukwari, (sebelumnya Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manukwari) dengan bidang yang ditekuni, meliputi ekologi satwa liar dari kelompok herpetofauna. Tergabung dalam Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) dan Penggalang Herpetologi ­Indonesia (PHI).
E-mail: richard_gnt@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=eCOERcAAAAAJ

Rozza Tri Kwatrina, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Penulis yang dilahirkan di Bukittinggi, 3 April 1975 ini adalah Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan de- ngan bidang kepakaran Konservasi Keanekara-gaman Hayati. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Fokus riset yang ditekuni penulis adalah Ekologi Hutan dan Satwa Liar, serta Konservasi pada Lanskap Antropogenik.
Pendidikan Sarjana diselesaikan penulis pada Jurusan Biologi, Universitas Andalas, sedangkan gelar Master dan Doktor diperoleh dari program studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Institut Pertanian Bogor (IPB University).
Dengan latar belakang ilmu/pengalaman di bidang Biologi dan Konservasi, penulis telah mempublikasikan lebih dari 50 artikel ilmiah pada jurnal, prosiding, buku, maupun media online dalam lingkup nasional maupun internasional. Penulis adalah reviewer/mitra bestari, dan dewan redaksi pada beberapa jurnal dan publikasi ilmiah nasional maupun internasional. Selain itu, penulis juga aktif mengikuti konferensi ilmiah, workshop, serta bekerja sama dengan berbagai peneliti dalam kegiatan penelitian, kajian, dan diseminasi di bidang konservasi satwaliar.
E-mail: rozzatk317@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=hQXGZ3gAAAAJ

Sofian Iskandar, Universitas Nusa Bangsa

Dilahirkan di Bogor, 19 Juni 1962. Gelar Sarjana Biologi diperoleh di fakultas Biologi, Universitas Nasional jakarta pada tahun 1988. Pada tahun 2007 penulis meraih gelar Magister Sains dari Program Studi ­Biologi Konservasi, fakultas MIPA, Universitas ­Indonesia. Selanjutnya pada tahun 2017, penulis berhasil meraih gelar Doktor dibidang Konservasi Keanekaragaman Hayati pada Program Pascasarjana, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Penulis mulai bekerja di Departemen Kehutanan pada tahun 1990 dan memulai karir sebagai Peneliti di Pusat Litbang Hutan pada tahun 1995. Saat ini bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Kehutanan Univesitas Nusa Bangsa Penulis memasuki masa purna tugas sebagai pegawai Pusat Litbang Hutan pada 1 juli 2020.
E-mail: sofianiskandar@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=8o4RUewAAAAJ

Sriyanti Puspita Barus

Lahir di Tomohon-Sulawesi Utara pada 18 Mei 1979. Gelar Sarjana Kehutanan (S-1) diperoleh di Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar pada tahun 2002 dan gelar Magister Pertanian (S-2) diperoleh pada tahun 2005 di Program Studi Sistem-Sistem Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.
Penulis memulai tugasnya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Balai Teknologi ­Pengelolaan DAS IBT Makassar pada tahun 2006. Saat ini penulis bertugas di Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK) Aek Nauli. Penulis telah menduduki jabatan sebagai Peneliti Muda dengan bidang kepakaran Konservasi Sumber Daya Hutan. Penulis telah menghasilkan berbagai karya tulis ilmiah baik yang terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah, dan prosiding.
E-mail: sriyanti79_barus@yahoo.co.id
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=uEyVZCUAAAAJ

Tri H. Kuswoyo, Balai KSDA Maluku

Dilahirkan di Jeruk Legi, 28 Februari 1974. Gelar Sarjana diperoleh di Jurusan Budidaya Hutan Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih Tahun 1998 dengan minat utama Manajemen Hutan. Selain itu pernah mengikuti beberapa Diklat Teknis di bidang KSDA antara lain Manajemen KSDA Tingkat Ahli, Marine Conservation and Management of Protected Area, School of Environmental Conservation and Ecotourism Management.
Penulis bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak Tahun 2000 sebagai Teknisi Kehutanan di Balai KSDA Papua Barat, dan selanjutnya dimutasi ke Balai KSDA Maluku pada Agustus 2005 sampai sekarang sebagai Analis Data.
E-mail: mas3hk@gmail.com

Tri Sayektiningsih, Balai Penerapan Standardisasi Instrumen LHK Makassar

Penulis menyelesaikan pendidikan S-1 di Institut Pertanian Bogor pada Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata tahun 2008. Pada tahun 2015, penulis melanjutkan pendidikan S-2 nya di James Cook University, Australia dengan mengambil mayor Tropical Biology and Conservation dan lulus tahun 2016. Penulis mengawali masa tugasnya di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2009 tepatnya di Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam, Samboja, Kalimantan Timur sebagai peneliti. Selang 10 tahun, penulis pindah dan saat ini bertugas di Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK) Makassar sebagai pengendali ekosistem hutan. Dalam perjalanan penelitiannya, penulis pernah terlibat dalam kegiatan penelitian pembangunan koridor orang utan di zona penyangga kawasan konservasi dan pembangunan suaka orang utan di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Penulis memiliki ketertarikan pada konservasi satwa liar hubungannya dengan dimensi manusia. Salah satu shortcourse yang pernah diikuti oleh penulis adalah pengelolaan keanekaragaman hayati di hutan tanaman di Yunnan, Tiongkok tahun 2019 disponsori oleh APFNet.
E-mail: t.sayekti@yahoo.com
Google scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=dhVeNosAAAAJ

Vivi Yuskianti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 6 Juni 1973. Gelar Sarjana Pertanian diperoleh dari Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada tahun 1996 dan Master of Sains (M.Si.) pada tahun 2001 di Institut Pertanian Bogor. Penulis kemudian mendapatkan beasiswa Monbukagusho untuk melanjutkan studi S-3 dan mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Agricultural science) pada Graduate School of Bioresource and Bioenvironmental Sciences di Kyushu University pada tahun 2012.
Penulis diterima menjadi pegawai negeri sipil di Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan Propinsi DI Yogyakarta pada bulan Maret tahun 2000. Karir peneliti dimulai pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta dari tahun 2002–2019 dan kemudian bergabung ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor pada tahun 2020. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Saat ini penulis telah menduduki jabatan sebagai Peneliti Madya dengan bidang kepakaran adalah genetik hutan dan konservasi keanekaragaman hayati. Penulis telah mempublikasikan sedikitnya 32 publikasi pada prosiding dan jurnal nasional maupun internasional.
E-mail: vivi_yuskianti@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=L6Ub2pgAAAAJ

Vivin Silvaliandra Sihombing, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lahir di ­Palembang, 19 Agustus 1986. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan S2 di Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Institut Pertanian Bogor. Jabatan penulis adalah Peneliti Muda di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dengan kepakaran Konservasi dan Pe-ngaruh Hutan. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Penulis pernah terlibat kegiatan penelitian, antara lain: restorasi perairan laut, ekologi satwa liar (macan tutul, ular sanca batik, labi-labi), dan pencemaran laut (kandungan logam berat di perairan laut).
Sepanjang kariernya, penulis aktif menulis artikel populer di majalah ilmiah, prosiding nasional maupun internasional, jurnal nasional maupun internasional, serta terlibat dalam penulisan beberapa buku. Buku berjudul Sistem Penangkaran Rusa Skala Kecil adalah buku keempat yang penulis hasilkan bersama dengan beberapa penulis lainnya.
E-mail: vivavaliandra@gmail.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=o6zJ65gAAAAJ

Wanda Kuswanda, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Dilahirkan di Subang-Jawa Barat, 6 Agustus 1977. Gelar Sarjana diperoleh di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (Februari 2000) pada Jurusan Konservasi Sumber daya Hutan. Selanjutnya, pada April 2011 mendapatkan gelar Master of Science (M.Sc.) dengan predikat sebagai lulusan terbaik dari Program Studi Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penulis menamatkan Program Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan pada Universitas Sumatra Utara.
Penulis bekerja sebagai peneliti di Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli sejak Desember 2001 dan pada Desember tahun 2016 telah menduduki jabatan sebagai Peneliti Ahli Utama. Sejak tahun 2022 penulis menjadi peneliti di BRIN. Penulis telah mempublikasikan sedikitnya 47 jurnal ilmiah baik jurnal internasional maupun nasional dan 58 publikasi pada prosiding dan media lainnya. Bidang kepakaran penulis adalah konservasi satwa liar, pengelolaan taman nasional dan jasa lingkungan. Buku ini merupakan hasil karya penulis yang kelima setelah buku pertamanya berjudul Orang Utan Batangtoru Diambang Punah (2014), Konservasi dan Ekowisata Gajah: Sebuah Model dari KHDTK Aek Nauli (2018), Ekologi Orang utan Tapanuli (2019), dan Siamang: Dari Riset menuju Konservasi (2019). Penulis sering diminta juga sebagai narasumber, pembimbing mahasiswa, dan aktif dalam berbagai organisasi.
E-mail: wkuswan@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=J-9Nv2sAAAAJ

Anita Rianti, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Lulus S-1 Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang. Pada tahun 2009 penulis resmi diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Kehutanan dan ditempatkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan sejak 2022 menjadi peneliti di BRIN. Jabatan penulis saat ini adalah Ahli Peneliti Muda dengan kepakaran Konservasi dan Pengaruh Hutan. Saat ini, penulis tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana S-2 di Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Institut Pertanian Bogor.
Penulis pernah terlibat dalam penelitian ekologi satwa liar (populasi dan pemanfaatan velvet rusa di penangkaran rusa timor HP Dramaga Bogor, kajian habitat kedua badak jawa di SM Cikepuh dan Cikeusik, penelitian teknologi pakan dan reproduksi trenggiling jawa, status dan resolusi konflik gajah dan manusia di Sumatra, genetika banteng, dan trenggiling); menjadi ketua tim pelaksana penelitian kajian silvopasture di Kawasan Hutan Mangrove Kubu Raya; menjadi anggota tim penelitian tentang pengembangan stasiun riset di beberapa Taman Nasional (2015–2018); serta anggota tim kajian daya dukung ekowisata di KHDTK Aek Nauli dalam Riset Prioritas Nasional. Sepanjang kariernya, penulis aktif menulis artikel populer di majalah ilmiah, prosiding nasional maupun internasional, jurnal nasional maupun internasional, serta terlibat dalam penulisan beberapa buku.
E-mail: nietha_21@yahoo.com
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=dgHIIUsAAAAJ

References

Abdulhadi, R., Widjaja, E. A., Rahayuningsih, Y., Ubaidillah, R., Maryanto, I., & Rahajoe, J. S. (2014). Kekinian keanekaragaman hayati Indonesia. LIPI, BAPPENAS, Kementerian Lingkungan Hidup.

Badan Pusat Statistik. (2020). Jumlah penduduk hasil proyeksi menurut provinsi dan jenis kelamin (ribu jiwa), 2018–2020. https://www.bps.go.id/indicator/12/1886/1/jumlah-penduduk-hasil-proyeksi-menurut-provinsi-dan-jenis-kelamin.html

Coates, B. J., & Bishop, K. D. (2000). Panduan lapangan burung-burung di kawasan Wallacea. BirdLife International-Indonesia Programe & Dove Publications Pty. Ltd.

Kementerian LHK. (2019). Statistik lingkungan hidup dan kehutanan tahun 2018-2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Proches, S., & Ramdhani, S. (2012). The world’s zoogeographical regions confirmed by cross-taxon analysis. Bioscience. 62(3), 260–270.

Shekelle, M., Groves, C. P., Maryanto, I., Mittermeier, R. A., Salim, A., & Springer, M. S. (2019). A new tarsier species from the Togean Islands of Central Sulawesi, Indonesia, with references to Wallacea and conservation on Sulawesi. Primate Conservation 33, 65-73.

Supriatna, J., & Ramdhani, R. (2016). Pariwisata primata Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Wallace, A. R. (1976). The geographical distribution of animals Vol I. Harper & Brothers Publishers.

Alikodra, H. S. (2019). Ekologi konservasi pengelolaan satwa liar: Hidup harmoni dengan alam. IPB Press.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Selatan. (2019). Kabupaten Tapanuli Selatan dalam Angka 2019.

Departemen Kehutanan. (2008). Permenhut nomor P48/Menhut-II/2008 tentang pedoman penanggulangan konflik manusia dan satwa liar.

Kuswanda, W., Harahap, R. H., Alikodra, H. S., & Sibarani, R. (2020). Nest characteristics and populations of Tapanuli Orang utans in Batangtoru Landscape, South Tapanuli District, Indonesia. Biodiversitas, 21(7), 3398–3406. https://doi.org/10.13057/biodiv/d210765.

Kuswanda, W. (2014). Orang utan Batang Toru: Kritis di ambang punah. Forda Press.

Meijaard, E., Rijksen, H. D., & Kartikasari S. N. (2001). Diambang kepunahan!: Kondisi orang utan liar diawal abad ke-21. Publikasi the Gibbon Foundation Indonesia.

Putro, H. R., Rinaldi, D., Arief, H., Soekmadi, R., Kuswanda, W., Noorchasanatun, F., Rahman, D. A., Kosmaryandi, N., Mijiarto, J., Yudiarti, Y., Hakim, F., Priantara, F. R. N., & Simangunsong, Y. D. (2019). Ekologi orang utan tapanuli. kelompok kerja pengelolaan lansekap batang toru.

Wich, S. A., Utami-Atmoko, S. S., Setia, T. M., Rijksen, H. D., Schurmann, C., van Hooff, J. A. R. A. M. & van Schaik, C. P. (2004). Life history of wild Sumatran orang utans (Pongo abelii). Journal of Human Evolution, 47, 385–398. https://doi.org/10.1016/j.jhevol.2004.08.006

Wich, S. A., de Vries, H., Ancrenaz, M., Perkins, L., Shumaker, R. W., Suzuki A. & van Schaik, C. P. 2009. Orang utan life history variation. dalam S. A. Wich, S. S. Utami Atmoko, T. Mitra Setia, & C. P. van Schaik (eds), Orang utans: Geographic variation in behavioral ecology and conservation. Oxford University Press.

Chivers, D. J. (1977). The lesser apes. Prince Rainier III of Monaco & Bourne GH, [Ed.]. Primate conservation. Academic Press.

Gittins, S. P., & Raemaekers, J. J. (1980). Siamang, lar, and agile gibbons. Journals of Mammology, 53(1), 198–201. 10.1007/978-1-4757-0878-3_3

Google. (t.t.). [Taman Wisata Kera Sibaganding]. Diakses pada 2 Maret, 2023, dari https://www.google.com/maps/place/Monkey+Forest+Umar+Manik+Sibaganding/@2.6931519,98.9228761,17z/data=!4m9!1m2!2m1!1staman+primata+di+dekat+Sibaganding,+Simalungun+Regency,+North+Sumatra!3m5!1s0x3031ed88c3a8253b:0x895b849241557858!8m2!3d2.6931522!4d98.9269824!16s%2Fg%2F11fmq9zlkq

Gron, K. J. (2008). Primate Factsheets: Siamang (Symphalangus syndactylus) Taxonomy, Morphology, & Ecology. Wisconsin National Primate Research Center. http://pin.primate.wisc.edu/ factsheets/entry/siamang

Kuswanda, W., & Pratiara, L. (2017). Rencana Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli dengan Konsep Edutainment. BP2LHK Aek Nauli.

Kuswanda, W., & Garsetiasih, R. (2016). Daya dukung dan pertumbuhan populasi siamang (Hylobates syndactylus Raffles, 1821) di Cagar Alam Dolok Sipirok, Sumatera Utara. Jurnal Plasma Nutfah, 22(1), 67–80. http://dx.doi.org/10.21082/blpn.v22n1.2016.p67-80

Mubarok, A. (2012). Distribusi dan kepadatan simpatrik ungko (Hylobates agilis) dan siamang (Symphalangus syndactylus) di Kawasan Hutan Batang Toru, Sumatera Utara. [Skripsi tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Napier, J. R., & Napier P. H. (1985). The natural history of the primates. Academic Press.

Nijman, V., Geissmann, T., Traeholt, C., Roos, C., & Nowak, M.G. (2020). Symphalangus syndactylus. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: e.T39779A17967873. Diakses pada 7 November, 2022, dari https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T39779A17967873.en.

Palombit, R. A. (1997). Inter and intraspecific variation in diets of sympatric siamang (Hylobates syndactylus) and lar Hylobatidaes (Hylobates lar). Folia primatol, 6, 321–337. https://doi.org/10.1159/000157260

Permatasari, B. I. (2018). Deskripsi kondisi habitat siamang (Symphalangus syndactylus) di Hutan Lindung Register 28 Pematang Neba Kabupaten Tanggamus. [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Lampung.

Sultan, K., Mansjoer, S. S., & Bismark, M. (2009). Populasi dan distribusi ungko (Hylobates agilis) di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara. Jurnal Primatologi Indonesia, 6(1), 25–31.

Abdullah, Asiah, & Japisa, T. (2012). Karakteristik habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kawasan Ekosistem Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Biologi Edukasi, 4(1), 41–45. https://jurnal.usk.ac.id/JBE/article/view/476;p[p;

Febriani, R. (2009). Pemetaan daerah rawan konflik gajah menggunakan sistem informasi geografis di Taman Nasional Gunung Leuser [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Sumatera Utara.

Garsetiasih, R., Heriyanto, N. M., Rianti A., & Eman. (2018). Penguatan stakeholder dalam resolusi konflik habitat gajah di Sumatera. [Laporan hasil penelitian tidak dipublikasikan]. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan.

Garsetiasih, R., Rianti, A., & Takandjandji, M. (2018). Potensi vegetasi dan daya dukung untuk habitat gajah sumatra (Elephas maximus) di areal perkebunan sawit dan hutan produksi Kecamatan Sungai Menang Kabupaten Ogan Komering Ilir. Berita Biologi, 17(1), 49–64.

Jajak, M. D. (2004). Binatang-binatang yang dilindungi. Progres.

Kuswanda, W., & Garsetiasih, R. (2016). Daya dukung dan pertumbuhan populasi siamang (Hylobates syndactylus Raffles, 1821) di Cagar Alam Dolok Sipirok, Sumatra Utara. Buletin Plasma Nutfah, 22(1), 67–80. http://dx.doi.org/10.21082/blpn.v22n1.2016.p67-80

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2017). Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Moestrup, S. F., Harum, Sunjaya, Purwanto, E., Irawan, U. S., Gunawan, H., Digdo, A. A., Wijayanto, A., Rahman, A., Idris, N., Adhiguna, Y., & Lestari, I. (2012). Manual pelatihan pengelolaan sumber daya alam untuk masyarakat pedesaan. PNPM Support Facility (PSF).

Nuryasin, Yoza, D., & Kausar. (2014). Dinamika dan resolusi konflik gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) terhadap manusia di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Jurnal Online Mahasiswa Faperta, 1(2), 1–14. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFAPERTA/article/view/3628

Syahri, B.F., Gunawan, H., & Sudoyo, H. (2015). Analisis mikrosatelit pada sampel feses gajah sumatra (Elephas maximus) di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Jurnal Online Mahasiswa FMIPA, 2(1): 42–49. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFMIPA/article/view/4139

WWF-Indonesia. (2017). Modul MP2CE untuk mitigasi konflik gajah-manusia terpadu.

Yoza, D. (2009). Pemetaan sebaran gajah di areal konsesi PT. Chevron Pacific Indonesia. Laporan Penelitian Bekerja sama dengan PT Chevron Pacific Indonesia.

Yoza, D. (2003). Inventarisasi, identifikasi dan keanekaragaman jenis satwa liar di Tahura SSH. Laporan Penelitian Bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Riau.

Yoza, D. (1995). Dampak perkebunan kelapa sawit terhadap keanekaragaman jenis burung di PT. Ramajaya Pramukti Kabupaten Kampar. [Skripsi tidak dipublikasikan]. Universitas Gadjah Mada.

Bandung Zoological Garden. (2020). Hasil pemeriksaan kesehatan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) [laporan]. Bandung Zoological Garden.

Gunawan, H. (2020, 9 Juni 2020). Langkah antisipatif konservasi macan tutul jawa di masa pandemi Covid-19 [Paparan Webinar]. Teras Inovasi Bincang Cara Professor. Pusat Litbang Hutan, Bogor.

Gunawan, H. (2019). Inovasi konservasi habitat macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di Lanskap Hutan Terfragmentasi. Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Gunawan, H., Ario, A., Rianti, A., Sihombing, V. S., Sultan, K., Rangkuti, U., & Fadillah, R. R. (2017, 27–30 November 2017). Investigasi konflik macan tutul jawa dan manusia di sekitar Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat [Presentasi makalah]. Konferensi Karnivora Indonesia “Upaya Konservasi Mamalia Karnivora”, Banyuwangi.

Gunawan, H., Sihombing, V. S, & Wienanto, R. (2016). Metapopulasi macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) di Pulau Jawa bagian barat. Dalam Jumilawaty, E. J., Fitmawati, Jamilah, I., Situmorang, M., & Hutahaean, S. (Ed.), Prosiding seminar nasional biologi “Implementasi riset hayati dan pengembangannya di era masyarakat ekonomi asean (MEA)” (130–140), USU Press. https://repository.usu.ac.id/handle/123456789/62937

Gunawan, H., & Alikodra, H. S. (2013). Bio-ekologi dan konservasi karnivora spesies kunci yang terancam punah. Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi, Badan Litbang Kehutanan. Kementerian Kehutanan.

Gunawan, H., & Wienanto, R. (2016, 4 November 2015). Sebaran ekologis dan ancaman kepunahan lokal macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) di Jawa bagian barat [Presentasi makalah]. Seminar Nasional menyambut Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional Tahun 2015.

International Union for Conservation of Nature [IUCN]. (2000). IUCN Guidelines for the Placement of Confiscated Animals. Gland, Switzerland: IUCN.

International Union for Conservation of Nature [IUCN]. (2019). Guidelines for the Management of Confiscated, Live Organisms. IUCN.

IUCN/SSC. (2013). Guidelines for Reintroductions and Other Conservation Translocations. Version 1.0. IUCN Species Survival Commission

Alikodra, H. S. (2011). Konservasi sumber daya alam dan lingkungan suatu upaya untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan. Gadjah Mada University Press.

Alikodra, H. S. (1983). Ekologi banteng (Bos javanicus d’Alton, 1832) di Taman Nasional Ujung Kulon [Disertasi tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Balai Taman Nasional Baluran (BTNB) & Copenhagen Zoo. (2015). Monitoring populasi banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran tahun 2015 [Laporan]. Balai Taman Nasional Baluran.

Balai Taman Nasional Meru Betiri (BTNMB). (2002). Identifikasi dan inventarisasi banteng (Bos javanicus), di seksi konservasi wilayah Ambulu [Laporan]. Balai Taman Nasional Meru Betiri.

Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK). (2019). Inventarisasi banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Ujung Kulon [Laporan]. Balai Taman Nasional Ujung Kulon.

Blog.act.id. (t.t). Bali susun strategi kurangi impor daging sapi. Diakses pada 26 Februari, 2023, dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20170720/99/673474/bali-susun-strategi-kurangi-impor-daging-sapi.

Castello, J. R. (2016). Bovids of the world: antelopes, gazelles, cattle, goats, sheep, and relatives. Princeton University Press

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE). (2017). Perjumpaan banteng di Taman Nasional Meru Betiri. http://ksdae.menlhk.go.id/info/1745/perjumpaan-langsung-banteng-di-tn-meru-betiri.html

Gardner, P. C. (2014) The natural history, non-invasive sampling, activity patterns and population genetic structure of the Borneanbanteng (Bosjavanicuslowi) in Sabah, Malaysian Borneo [Disertasi tidak diterbitkan]. Cardiff University.

Garsetiasih, R. (2013). Daya dukung padang perumputan banteng (Bos javanicus): Studi kasus di Sadengan dan Sumber Gedang, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam,10(2),103–240. https://doi.org/10.20886/jphka.2013.10.2.229-240

Garsetiasih, R. (2006). Kajian populasi banteng (Bos javanicus ) di Taman Nasional Meru Betiri [Hasil Penelitian Tahun Anggaran 2006]. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam.

Garsetiasih, R. (2012). Manajemen konflik konservasi banteng (Bos javanicus) dengan masyarakat di Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur [Disertasi tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Hassanin, A., & Ropiquet, A. (2007) What is the taxonomic status of the Cambodian banteng, and does it have close genetic links with the kouprey? J Zool, 271, 246–252. https://doi.org/10.1111/j.1469-7998.2006.00272.x

Hoogerwerf, A. (1970). Udjung Kulon, the land of the last Javan rhinoceros. Brill Archive.

International Union for Conservation of Nature. (2006). IUCN Red List of Threatened Species. Diakses 13 Januari, 2020, dari https://www.iucnredlist.org/about/background-history.

Kementerian Pertanian. (2016). Lewat UPSUS SIWAB, kementan selamatkan 16 ribu sapi betina dari pemotongan. Villagers. https://villagerspost.com/wp-content/uploads/2016/11/sapi-bali-pertanian.jpg

Peraturan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia Nomor P. 58/MENHUT-II/2011 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Banteng (Bos javanicus) Tahun 2010–2020. (2011). https://peraturan.go.id/common/dokumen/bn/2011/bn446-2011.pdf

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://peraturan.go.id/common/dokumen/bn/2019/BN%2032-2019.pdf.

Permata, T. J. (2016, 7 Januari). Ada 60 banteng tersebar di Taman Nasional Meru Betiri di Jember, Banyuwangi. Tribunnews. https://surabaya.tribunnews.com/2016/01/07/ada-60-banteng-tersebar-di-taman-nasional-meru-betiri-di-jember-banyuwangi

Populasi banteng Taman Nasional Meru Betiri menurun. (2013, Februari 25). Detik. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-2178490/populasi-banteng-taman-nasional-meru-betiri-menurun

Qiptiyah, M., Pudyatmoko, S., Widyatmoko, A. Y. P. B. C., Imron, M. A., & Nurtjahjaningsih, I. L. G. (2019a). Cytochrome b mitochondrial DNA characteristic from non invasive samples of wild population Javan Banteng (Bos javanicus D’Alton, 1823).Biodiversitas, 20(2),350–355. https://doi.org/10.13057/biodiv/d200207

Qiptiyah, M., Pudyatmoko, S., Widyatmoko, A. Y. P. B. C., Imron, M. A., & Nurtjahjaningsih, I. L. G. (2019b). Phylogenetic position of Javan banteng (Bos javanicus javanicus) from conservation area in Java base on mtDNA analysis, Biodiversitas, 20(11), 3352–3357. http:// 0.13057/biodiv/d201131

Sawitri, R., Zein, M. S. A., Takandjandji, M., & Rianti, A. (2014). Keragaman genetik banteng (Bos javanicus) dari berbagai lembaga konservasi dan Taman Nasional Meru Betiri. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 11(2),155-169. https://doi.org/10.20886/jphka.2014.11.2.155–159

Siswanto, & Noerwidi, S. (2016). Posisi Fauna Situs Patiayam dalam Biostratigrafi Jawa. Berkala Arkeologi Sangkhakala, 19(2), 149–166. https://doi.org/10.24832/sba.v19i2.31

Subiandono, E. (2004). Kajian teknik pembinaan habiat banteng (Bos javanicus) di TN Meru Betiri, Jawa Timur [Laporan]. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam.

Timmins, R. J., Duckworth, J. W., Hedges, S., Steinmetz, R., & Pattanavibool, A. (2008). Bos javanicus, The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T2888A9490684. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T2888A9490684.en.

Gardner, P. C., Hedges, S., Pudyatmoko, S., Gray, T. N. E., & Timmins, R. (2016). Bos javanicus. The IUCN Red List of Threatened Species.’ e.T2888A463 62970. Diakses 8 Juni, 2020, dari https://www.iucnredlist.org/species/2888/46362970

Marsudi. (2015, 18–19 Desember 2015). Arah kebijakan pemerintah Kabupaten Situbondo dalam rangka mendukung pengelolaan Taman Nasional Baluran. Bappeda Situbondo. Workshop: Rancangan Pengelolaan Stasiun Riset di Taman Nasional, Banyuwangi, Indonesia.

Novianto, B. (2015, 16–18 November 2015). Arahan kebijakan dalam pengembangan kawasan konservasi [Presentasi makalah]. Workshop: Rancangan Pengelolaan Stasiun Riset di Taman Nasional. FGD Pembentukan Stasiun Riset di 3 (tiga) Taman Nasional (TN Baluran, TN Gn Halimun Salak, TN Ujung Kulon), Bogor, Indonesia.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.58/Menhut-II/2011 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Banteng (Bos Javanicus) Tahun 2010–2020. (2011). https://jdih.menlhk.go.id/new2/home/portfolioDetails/58/2011/5#

Riski, P., & Fajar, J. (2014, 30 Agustus 2014). Menengok keanekragaman hayati di Taman Nasional Baluran. Apa sajakah? Mongabay. https://www.mongabay.co.id/2014/08/30/menengok-keanekaragaman-hayati-di-taman-nasional-baluran-apa-sajakah/

Sawitri, R., Zein, M. S. A., Takandjandji, M., & Rianti, A. (2011). Keanekaragaman genetika banteng (Bos javanicus d’Alton) dari berbagai lembaga konservasi dan Taman Nasional Meru Betiri. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 11(2),155–169. https://doi.org/10.20886/jphka.2014.11.2.155-159

Setyawati, T. (2011). Ancaman jenis asing invasif di kawasan hutan Indonesi. [Makalah]. Jambore Penyuluhan Kehitanan Jakarta: Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Badan Litbang Kehutanan.

Suwarni, E. E. (2015, 18–19 Desember 2015). Riset dan Implementasinya di Taman Nasional Baluran. Workshop: Rencana Pengelolaan dan Pembangunan Stasiun Riset di Taman Nasional Baluran. Banyuwangi, Indonesia.

Suriani, N. E., & Razak. M. N. (2011). Pemetaan Ekowisata di Taman Nasional Baluran. Tahun 2011. Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 24(3), 251–260.

Taman Nasional Baluran. (2013). Laporan sensus banteng di Taman Nasional Baluran. [Laporan tidak diterbitkan]. Balai Taman Nasional Baluran: Situbondo.

Taman Nasional Baluran. (2019, 8 Oktober 2019). Beberapa kegiatan riset yang dilaksanakan di TN Baluran. Workshop: Pengelolaan Stasiun Riset. Hotel Ketapang Indah, Banyuwangi.

Adiati, U., & Brahmantiyo, B. (2015). Karakteristik morfologi rusa timor (Rusa timorensis) di Balai Penelitian Ternak Ciawi. Dalam Susan M. N., Eko H., Eny M., Raphaella W., Ria S. G. S., Tati H., Maijon P., Yenny N. A., & Aron B. (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner (Jakarta, 8–9 Oktober 2015). Indonesian Agency for Agricultural Research dan Development (IAARD) Press. https://www.researchgate.net/publication/308105605_Prosiding_Seminar_Nasional_Teknologi_Peternakan_dan_Veteriner_-_Tahun_2015.

Destomo, A., Syawal, M., & Batubara, A. (2020). Kemampuan reproduksi induk dan pertumbuhan anak kambing Peranakan Etawah, Gembrong, dan Kosta. Jurnal Peternakan, 17(1), 31–38. http://dx.doi.org/10.24014/jupet.v17i1.7692

Hamdani, I. D. (2015). Perbandingan berat lahir, persentase jenis kelamin anak dan sifat prolifik induk kambing Peranakan Etawah pada paritas pertama dan kedua di Kota Metro. J. Ilmiah Peternakan Terpadu, 3(4), 245–250. http://dx.doi.org/10.23960/jipt.v3i4.p%25p

Hidayat, R., Toharmat, T., Boediono, A., & Permana, I. G. (2009). Manipulasi kondisi fisiologis semen melalui pengaturan perbedaan kation anion ransum dan suplementasi asam lemak pada domba garut. J. Ilmu Ternak dan Veteriner, 14(1), 25–35. 10.14334/jitv.v14i1.360

Kaunang, D., Suyadi, & Wahjuningsih, S. (2014). Analisis litter size, bobot lahir dan bobot sapih hasil perkawinan kawin alami dan inseminasi buatan kambing Boer dan Peranakan Etawah (PE). J. Ilmu-Ilmu Peternakan, 23(3), 41–46. https://jiip.ub.ac.id/index.php/jiip/article/view/131/143

Setio, P., & Takandjandji, M. (2018). Reproduksi dan produktivitas rusa di penangkaran. Sintesis Hasil-hasil Litbang: Pengembangan Penangkaran Rusa Timor. Ed Ketiga.

Takandjandji, M., Iskandar, S., & Wienanto, R. (2016). Pemberdayaan masyarakat Cibaliung melalui penangkaran rusa timor. Dalam M. Bismark & E. Santoso (Ed.), Membangun hasil hutan yang tersisa. Forda Press.

Yanuartono, Indarjulianto, S., Nururrozi, A., Purnamaningsih, H., & Raharjo, S. (2018). Review: Peran pakan pada kejadian kembung rumen. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan, 28(2), 141–157. https://jiip.ub.ac.id/index.php/jiip/article/view/430

Gaubert, P., Antunes, A., Neng, H., Miao, L., Peigne, S., July, F., & Love, S. J. (2018). The complete phylogeny of pangolin: Scaling up resources for the moleculer tracing of the most trafficked mamals on Earth. J. of Heredity, 109, 347–359. https://doi.org/10.1093/jhered/esx097

Gaubert, P., & Antunes, A. (2005). Assesing the taxonomic status of the palawan pangolin Manis culionensis (Pholidota) using discrete morphological characters. Journal of Mammalogy, 86(6), 1068–1074. https://doi.org/10.1644/1545-1542(2005)86[1068:ATTSOT]2.0.CO;2

IUCN. (2012). IUCN Red List of Threatened Species. Diakses 30 Oktober, 2012, dari http://www.iucnredlist.org.

Jacobs, R. L., Mc Clure, P. J., Baker, B. W., & Espinoa, E. O. (2019). Myth debunked: Keratinous pangolin scales do not contain analgesic tremadol. Conservation Science and Practice, 1(9), e82. https://doi.org/10.1111/csp2.82

Kuswanda, W., & Setyawati, T. (2015). Preferensi habitat trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822) di sekitar Suaka Margasatwa Siranggas, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan & Konservasi Alam, 13(1), 43–56. https://doi.org/10.20886/jphka.2016.13.1.43-56

Maneesai, R., & Chavalviwat, S. (2008). Issues and challenges of pangolin enforcement in Thailand. Dalam S. Pantel & S. Y. Chin (Ed.), Proceedings in Trade & Conservation of Pangolins native to South & SE Asia. Singapore Zoo. https://portals.iucn.org/library/node/9669

Manshur, A., Kartono, A. P., & Masy’ud, B. (2015). Karakteristik habitat trenggiling jawa (Manis javanica) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Media Konservasi, 20(1),77–83. https://doi.org/10.29244/medkon.20.1.%25p

Mohapatra, R. K., Panda, S., Achairyyo, L., Nair, M., & Challender, D. W. (2015). A note on the illegal trade and use of pangolin body parth in India. TRAFFIC Bulletin, 27(1), 33–40. https://www.pangolinsg.org/?attachment_id=2051

Pantel, S., & Anak, N. A. (2010, 30 September 2010). A preliminary assessment of sunda pangolin trade in Sabah. Traffic. https://www.traffic.org/publications/reports/a-preliminary-assessment-of-pangolin-trade-in-sabah/

Sawitri, R., & Takandjandji, M. (2016). Konservasi trenggiling jawa (Manis javanica, Desmarest 1822). Forda Press.

Soewu, D. A., & Adekanola, T. A. (2011). Traditional-medicinal knowledge and perception of pangolins (Manis sp.) among the Awori People, Southwest Nigeria. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine, 7, 25. https://doi.org/10.1186/1746-4269-7-25

Takandjandji, M., & Sawitri, R. (2016a). Ukuran morfometrik dan meristik pada trenggiling jawa (Manis javanica Desmarest, 1822) dari Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Buletin Plasma Nutfah, 22(2), 149-160. http://dx.doi.org/10.21082/blpn.v22n2.2016.p149-160

Takandjandji, M., & Sawitri, R. (2016b). Analisis penangkapan dan perdagangan trenggiling jawa (Manis javanica, Desmarest 1822) di Indonesia. Jurnal Analisis Kebijakan, 13(2), 85–101. https://doi.org/10.20886/jakk.2016.13.2.85-101

The Maritime Executive. (t.t). Indonesia struggles to protect pangolins. https://maritime-executive.com/media/images/map(103).jpg

TRAFFIC South East Asia. (2008). Armored but endangered. Asian Geographic.

Wihardandi A. (2013, 15 Agustus). Enam ton trenggiling Indonesia disita di Vietnam. Mongabay. http://www.mongabay.co.id/2013/08/15/enam-ton-trenggiling-Indonesia.

Aryanti, N. A. (2021). Spatial modelling of Javan Hawk-Eagle (Nisaetus bartelsi) habitat suitability in Bromo Tengger Semeru National Park. Jurnal Sylva Lestari, 9(1), 179–189. DOI: https://doi.org/10.23960/jsl19179-189

Azmi, N., Syartinilia, & Mulyani, Y. A. (2016). Model distribusi spasial habitat Elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang tersisa di Jawa Barat. Media Konservasi, 21(1), 9–18. https://doi.org/10.29244/medkon.21.1.9-18

Baan, M. R. (2017, 01 Juni). Kapan disahkan Garuda Pancasila lambang Negara Indonesia. Netralnews. https://archive.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/79032/kapan-disahkan-garuda-pancasila-lambang-negaraindonesia#:~:text=Garuda%20Pancasila%20yang%20diresmikan%20penggunaannya,posisi%20cakar%20di%20belakang%20pita

BBTN Gunung Gede Pangrango [@TNGedePangrango]. (2019, 21 April). Lahirnya sang penguasa langit Jawa [Tweet]. Twitter. https://twitter.com/tngedepangrango/status/1119812918910914563

Burung elang jawa Nisaetus bartelsi. (2017, 11 April). Kehati.jogjaprov. http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/burung-elang-jawa-nisaetus-bartelsi

Cahyana, A. N., Hernowo, J. B., & Prasetyo, L. B. (2015). Pemodelan spasial kesesuaian habitat Elang jawa (Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924 di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Media konservasi, 20(3), 211–219. https://doi.org/10.29244/medkon.20.3.%25p

Danang (2020, 17 Juli). Kisah sukses pelestarian elang jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dimensinews. https://www.dimensinews.co.id/77274/kisah-sukses-pelestarian-elang-jawa-di-taman-nasional-gunung-halimun-salak.html

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber daya Alam dan Ekosistem. (2019). Laporan Kinerja tahun 2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Eks. (2019, 23 April). Mengenal elang jawa, garuda si ‘penguasa langit Jawa’. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190423133918-199-388824/mengenal-elang-jawa-garuda-si-penguasa-langit-jawa

Fahmi, I., & Syartinilia. (2020). The 11th Asian Raptor research and Conservation Network International Symposium: Habitat preferences of current record of javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi) in lowland forest in Ujung Kulon National Park. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 590 012004. https://doi:10.1088/1755-1315/590/1/012004

Ferlazafitri, Syartinilia, & Mulyani, Y. A. (2020). The 11th Asian Raptor research and Conservation Network International Symposium: Habitat patch connectivity of javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi) in eastern part of Java, Indonesia. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 590 012003. https://doi:10.1088/1755-1315/590/1/012003

Fitriana, I. (2020, 14 Februari). Jokowi lepas sepasang elang jawa, Abu dan Rosy, di lereng Merapi. Kompas. https://today.line.me/id/v2/article/Jokowi+Lepas+Sepasang+Elang+Jawa+Abu+dan+Rossy+di+Lereng+Merapi-57DQZM

Gunawan, N., Fauziah, R., Zulham, Djamaludin, Pramono, H., & Yuniar, A. (2016). New homes on misty mountains: Javan Hawk-eagle Nisaetus bartelsi and changeable Hawk-eagle Nisaetus cirrhatus nesting in Gunung Halimun Salak National Park, West Java, Indonesia. Podoces, 11(1),1–6. https://wesca.net/Podoces/Podoces11.1.html.

Hermawan, W. (2019, 07 Juli). Elang jawa. Tribunnewswiki. https://www.tribunnewswiki.com/2019/07/07/elang-jawa

IUCN. Javan Hawk-eagle Nisaetus bartelsi. iucnredlist.org. Diakses pada 07 Maret, 2022, dari https://www.iucnredlist.org/species/22696165/110050373

Kibrispdr.org. (t.t). Detail gambar burung elang jawa koleksi nomer 29. https://www.kibrispdr.org/detail-28/gambar-burung-elang-jawa.html.

Maula, A., & Subeno. (2016). Distribusi dan karakteristik habitat elang jawa (Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924) di Gunung Ungaran Jawa Tengah [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Gadjah Mada.

Murad, A. R. P., & Syartinilia. (2021). The 5th ISSLD: Patch dynamics in the javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi) habitat of East Java. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 879 (2021) 012038. https://doi:10.1088/1755-1315/879/1/012038

Nijman, V., van Balen, S., & Sozer, R. (2000). Breeding biology of javan hawk-eagle Spizaetus bartelsi in West Java, Indonesia. Emu 100, 125–132. https://doi.org/10.1071/MU9826

Nijman, V., Shepherd, C. R., & van Balen, S. (2009). Declaration of the javan hawk eagle Spizaetus bartelsi as Indonesia’s national rare animal impedes conservation of the species. Fauna & Flora International, Oryx, 43(1), 122–128. https://doi.org/10.1017/S0030605307001081

Nurfatimah, C., Syartinilia, & Mulyani, Y. A. (2018). LISAT 2017: GIS-based aproach for quantifying landscape connectivity of javan hawk-eagle habitat. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 149 (2018) 012017. https://doi:10.1088/1755-1315/149/1/012017

Nursamsi, I., Partasasmita, R., Cundaningsih, N., & Ramadhani, H. S. (2018). Modelling the predicted suitable habitat distribution of javan hawk-eagle Nisaetus bartelsi in the Javan Island, Indonesia. Biodiversitas, 19(4), 1539–1551. https://doi:10.13057/biodiv/d190447

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor P.58/Menhut-II/2013 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa tahun 2013–2022. (2013). https://jdih.menlhk.go.id/new/uploads/files/P.58%20(6).pdf

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Pradopo, S. T. (2012). Risk assessment of javan hawk-eagle’s (Nisaetus bartelsi) habitat: The impact of human encroachment and wildfire to the degradation (A case on the Mount Ciremai National Park, Indonesia [Tesis tidak diterbitkan]. Universitas Gadjah Mada.

Prawiradilaga, D. (2006). Ecology and conservation of endangered javan hawk-eagle Spizaetus bartelsi. Ornithological Science, 5(2), 177–186. https://doi.org/10.2326/1347-0558(2006)5[177:EACOEJ]2.0.CO;2

Pribadi, D. P. (2014). Studi populasi elang jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) di Gunung Salak. Bioma, 10(1), 17–24. https://doi.org/10.21009/Bioma10(1).3

Riatmoko, F. I. (2013). Apakah burung garuda dan elang sama?. Kompas. https://www.kompas.com/skola/image/2020/02/16/170000769/apakah-burung-garuda-dan-elang-sama?page=1

Literasipublik. (2019). Sejarah Terbentuknya Lambang Negara Garuda Pancasila. https://www.literasipublik.com/wp-content/uploads/2019/02/garuda-pancasila.jpg

Sejarah Terbentuknya Lambang Negara Garuda Pancasila. (2019, 9 Februari). Literasipublik. https://www.literasipublik.com/sejarah-terbentuknya-lambang-negara-garuda-pancasila

Sitorus, D. N., & Hernowo, J. B. (2016). Habitat dan perilaku elang jawa (Nisaetus bartelsi) di SPTN 1 Tegaldlimo Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Media Konservasi, 21(3), 278–285. https://doi.org/10.29244/medkon.21.3.278-285

Suciptoardi. (2008, 12 Agustus). Asal usul Garuda Pancasila dan penciptanya. Suciptoardi. https://suciptoardi.wordpress.com/2008/08/12/asal-usul-lambang-negara-kita-burung-garuda/

Van Balen, S., Nijman, & V., Sozer, R. (1999). Distribution and conservation of the javan hawk-eagle Spizaetus bartelsi. Bird Conservation International, 9, 333-349. https://doi.org/10.1017/S0959270900003695

Wibisono, A. (2020, 14 Februari). Usai erupsi, Jokowi lepas elang jawa di lereng Gunung Merapi. Kompas TV. https://www.kompas.tv/article/66621/usai-erupsi-jokowi-lepas-elang-jawa-di-lereng-gunung-merapi?page=all

Yudhi (2018, 03 April). Sejarah dan asal usul burung Garuda dijadikan simbol Negara Indonesia. Jatengpost. https://www.jatengpost.com/sejarah/pr-3562416168/sejarah-dan-asal-usul-burung-garuda-dijadikan-simbol-negara-indonesia

Yuliamalia, L., Sunarto, & Utami, T. (2020) Seminar nasional Magister Agroteknologi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur: Peran masyarakat terhadap elang jawa (Nisaetus bartelsi) di Kawasan Cagar Alam Gunung Picis Ponorogo. NST Proceedings. pages 98-107. https://doi: 10.11594/ nstp.2020.0611

Chivers, D. J. (1994). Functional anatomy of the gastrointestinal tract. Dalam G. Davies & J. Oates (Ed.), Colobine Monkeys: Their Ecology, Behaviour and Evolution. Cambridge University Press.

Drumm, A., & Moore, A. (2005). Ecotourism Development, A manual for conservation planners and managers. Volume I: An Introduction to ecotourism planning. Dalam A. Singer (Ed.), The nature conservancy. https://pdf.usaid.gov/pdf_docs/Pnadg549.pdf

Duvat, V. K. E., Magnan, A. K., Wise, R. M., Hay, J. E., Fazey, I., Hinkel, J., Stojanovic, T., Yamano, H., & Ballu, V. (2017). Trajectories of exposure and vulnerability of small islands to climate change. Wiley Interdiscip. Rev. Clim. Chang, 8(6). doi:10.1002/wcc.478.

MacArthur, R. H., & Wilson, E. O. (1967) The theory of biogeography. Princeton University Press.

Manansang, J., Traylor-Holzer, K., Reed, D., & Leus, K. (2005). Indonesian proboscis monkey PHVA Indonesian. IUCN/SSC Conserv. Breed. Spec. Gr:76.

Meijaard, E., & Nijman, V. (2000). Distribution and conservation of the proboscis monkey (Nasalis larvatus) in Kalimantan, Indonesia. Biol. Conserv., 92(1), 15–24. https://doi.org/10.1016/S0006-3207(99)00066-X

Nijman, V. (2001). Forest (and) Primates. Conservation and ecology of the endemic primates of Java and Borneo. Tropenbos International. https://www.tropenbos.org/file.php/429/tbi_kalimantan_5.pdf

Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Nomor P.8/KSDAE/BPE2/KSA.4/9/2016 tentang Pedoman Penentuan Koridor Hidupan Liar sebagai Ekosistem Esensial. (2016). http://ksdae.menlhk.go.id/assets/uploads/Perdirjen%20Pedoman%20Penentuan%20Koridor.pdf

Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.48/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemulihan Ekosistem pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. (2014). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/Permenhut_48_Tahun_2014_Tata_Cara_pemulihan_Ekosistem.pdf

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. (2017). https://peraturan.bpk.go.id/Details/51463

Ralls, K., Ballou, J. D., Dudash, M. R., Eldridge, M. D. B., Fenster, C. B., Lacy, R. C., Sunnucks, P., & Frankham, R. (2018). Call for a paradigm shift in the genetic management of fragmented populations. Conservation Letters, 11, e12412. https://doi.org/10.1111/conl.12412

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. (1999). https://jdih.esdm.go.id/peraturan/uu-41-1999.pdf

Yeager, C. P. (1989). Feeding ecology of the proboscis monkey (Nasalis larvatus). Int. J. Primatol. 10(6), 497–530. https://doi.org/10.1007/BF02739363

Johnson, A. E., Knott, C. D., Pamungkas, B., Pasaribu, M., & Marshall, A. J. (2005). A survey of the orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) population in and around Gunung Palung National Park, West Kalimantan, Indonesia based on nest counts. Biological Conservation, 121, 495–507. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2004.06.002

Meijaard, E., Rijksen, H., & Kartikasari, S. (2001). Di ambang kepunahan! Kondisi orang utan liar di awal abad ke 21. Gibbon Foundation.

Sayektiningsih, T., & Ma’ruf, A. (2017). Karakteristik vegetasi habitat orang utan (Pongo pygmaeus morio) di hutan tepi Sungai Menamang, Kalimantan Timur. Jurnal Wasian, 4(1), 17–26. https://doi.org/10.20886/jwas.v4i1.2617

Wich, S., Buij, R., & van Schaik, C. (2004). Determinants of orangutan density in the dryland forests of the Leuser Ecosystem. Primates, 44, 177–182. https://doi.org/10.1007/s10329-004-0080-1

Atmoko, T., Rifqi, M. A., Muslim, T., Purnomo, & Maruf, A. (2018). Warisan alam Wehea-Kelay. E. Sudiono & P. Setio (Ed.). Forda Press. https://balitek-ksda.or.id/wp-content/uploads/2020/09/35-Buku-Warisan-Alam-Wehea-Kelay-Upload.pdf

Coolidge, H. J. (1940). Mammal and bird collections of the Asiatic Primate Expedition. Bull. Museum Comp. Zool. 87, 121–211. https://www.biodiversitylibrary.org/part/13705

Groves, C. P. (2001). Primate Taxonomy. Smithsonian Institution Press.

Hutan Wehea Raih Penghargaan Internasional (2008, Oktober 22). Kompas. https://nasional.kompas.com/read/2008/10/22/09094242/hutan.wehea.raih.penghargaan.internasional.

Kalpataru untuk Lembaga Adat Dayak Wehea (2009, Juni 2). Kompas. https://megapolitan.kompas.com/read/2009/06/02/17363532/kalpataru.untuk.lembaga.adat.dayak.wehea

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 11/Menhut-II/2009 tentang Sistem Silvikultur Dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Produksi. (2009). https://jdih.mkri.id/mg58ufsc89hrsg/P11_09.pdf

Pokja KEE Wehea-Kelay. (2016). Pengelolaan kawasan ekosistem esensial koridor orangutan bentang alam Wehea-Kelay di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. I. Yassir & E. Sudiono (Ed.). The Nature Conservancy.

Utami-Atmoko, S., Traylor-Holzer, K., Rifqi, M. A., Siregar, P. G., Achmad, B., Priadjati, A., Husson, S., Wich, S., Hadisiswoyo, P., & Saputra F. (2019). Orangutan population and habitat viability assessment 2019 (Final Report). Ministry of Environment and Forestry of Indonesia and IUCN/SSC Conservation Planning Specialist Group. https://www.cbsg.org/sites/cbsg.org/files/documents/2016%20Orangutan%20PHVA.pdf

Xu, X., & Arnason, U. (1996). The mitochondrial DNA molecule of sumatran orangutan and a molecular proposal for two (Bornean and Sumatran) species of orangutan. J Mol Evol, 43, 431–437. https://doi.org/10.1007/BF02337514

Yuwono, E. H., Susanto, P., Saleh, C., Andayani, N., Prasetyo, D., & Utami-Atmoko, S. S. (2007). Petunjuk teknis penanganan konflik manusia-orang utan di dalam dan sekitar perkebunan kelapa sawit. WWF Indonesia. https://rspo.org/publications/download/56f109ed4ebdae6

Alikodra, H. S., & Srimulyaningsih, R. (2015). Populasi bekantan di Rawa Gelam. Dalam H. S. Alikodra, Efransjah, M. Bismark (Ed.), Bekantan: Perjuangan melawan kepunahan. IPB Press.

Bismark, M., & Iskandar. S. (2002). Kajian total populasi dan struktur sosial bekantan (Nasalis larvatus) di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Bul. Pen. Hut., 631, 17–29.

Iskandar. S., Alikodra, H. S., Bismark, M., & Agus, P. K. (2017). Status populasi dan konservasi bekantan (Nasalis larvatus Wurmb. 1787) di habitat Rawa Gelam, Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 14(2), 123–132. https://doi.org/10.20886/jphka.2017.14.2.123-132

Iskandar, S., Alikodra, H. S., Bismark, M., & Agus, P. K. (2016). Daily activity of proboscis monkey (Nasalis larvatus Wurmb. 1878) in disturbed and degraded habitat of peat swamp-riparian ecosystem of rawa gelam, at Tapin Regency, South Kalimantan-Indonesia. International Journal of Science: Basic and Applied Research, 29(3), 261–277. https://gssrr.org/index.php/JournalOfBasicAndApplied/article/view/6289

Jolly, C. J. (1972). The classification and natural history of Theropithecus (Simopithecus) (Andrews, 1916) babbons of the African Plio-Pleistocene. Bull. Brit. Mus. Nat. Hist. Geol., 22, 1-123.

Manansang, J., Traylor-Holzer, K., Reed, D., & Leus, K. (2005). Indonesian proboscis monkey population and habitat viability assessment [Final Report]. IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group.

Meijaard, E., & Nijman, V. (2000). Distribution and conservation of proboscis monkey (Nasalis larvatus) in Kalimantan Indonesia. Biol. Conserv., 92, 15–24. https://doi.org/10.1016/S0006-3207(99)00066-X

Milton, K. (1981). Food choice and digestive strategies of two sympatric primate species. Am. Nat., 117(4), 495–505. https://www.jstor.org/stable/2460457

Napier, J. R., & Napier, P. H. (1985). The natural history of the primates. The M.I.T Press

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. (1999). https://peraturan.bpk.go.id/Details/54143/pp-no-7-tahun-1999

Salter, R. E., Mackenzie, N. A., Nightingale, N., Aken, K. M., & Chai, P. K. (1985). Habitat use, ranging behavior, food habits of proboscis monkeys (Nasalis larvatus Wurmb.) in Sarawak. Primates, 26(4), 436–451. https://doi.org/10.1007/BF02382458

Soendjoto, M. A. (2005). Adaptasi bekantan (Nasalis larvatus) terhadap hutan karet: Studi kasus di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan [Disertasi tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Soendjoto, M. A., Akhdiyat, M., Hatami, & Kusumajaya, I. (2001). Persebaran dan tipe habitat bekantan (Nasalis larvatus) di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Media Konservasi, 7(2), 55–61. https://doi.org/10.29244/medkon.7.2.%25p

Soendjoto, M. A., Alikodra, H. S., Bismark, M., & Setijanto, H. (2005). Vegetasi tepi baruh pada habitat bekantan (Nasalis larvatus) di hutan karet Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Biodiversitas, 6(1), 40–44. https://doi.org/10.13057/biodiv/d060108

Soendjoto, M. A., Budiarto, C., Muhardiansyah, H., & Mahrudin. (2013, 20–21 November 2013). Sebaran dan status bekantan (Nasalis larvatus) di luar kawasan konservasi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan [Presentasi Makalah]. Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Ekologi dan Konservasi, Universitas Hasanuddin.

Austin, K. G., Mosnier, A., Pirker, J., McCallum, I., Fritz, S., & Kasibhatla, P. S. (2017). Shifting patterns of oil palm driven deforestation in Indonesia and implications for zero-deforestation commitments. Land Use Policy, 69, 41–48. https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2017.08.036

Forman, R. T. T., & Godron, M. (1986). Landscape Ecology. John Wiley and Sons Ltd.

Gaveau, D. L. A., Sheil, D., Husnayaen, Salim, M. A., Arjasakusuma, S., Ancrenaz, M., Pacheco, P., & Meijaard, E. (2016). Rapid conversions and avoided deforestation: Examining four decades of industrial plantation expansion in Borneo. Scientific Reports, 6, 1–13. https://doi.org/10.1038/srep32017

Gunarso, P., Hartoyo, M. E., Agus, F., & Killeen, T. (2013). Oil palm and land use change in Indonesia, Malaysia and Papua New Guinea. Reports from the Technical panels of the 2nd Greenhouse Gas Working Group of Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Hitchman, S. M., Mather, M. E., Smith, J. M., & Fencl, J. S. (2018). Identifying keystone habitats with a mosaik approach can improve biodiversity conservation in disturbed ecosystems. Global Change Biology, 24, 308–321. https://doi.org/10.1111/gcb.13846

Hwang, Y. T., & Larivière, S. (2003). Mydaus javanensis. Mammalian Species, 723, 1–3. http://www.jstor.org/stable/3504440

Koh, L.P., & Wilcove, D. S. (2008). Is palm oil agriculture really destroying tropical biodiversity?. Conservations Letter, 1, 60–64. https://doi.org/10.1111/j.1755-263X.2008.00011.x

Kwatrina, R. T. (2018). Efektifitas areal nilai konservasi tinggi dalam konservasi keanekaragaman hayati di lanskap perkebunan kelapa sawit: Studi kasus di Kalimantan Tengah [Disertasi tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Kwatrina, R. T., Santosa, Y., & Sunkar, A. (2019). The use spatial analysis in confirming the environmental issue on oil palm and biodiversity. AIP Conference Proceedings 2120. 040006. http://doi.org/10.1063/1.5115644.

Long, C. A. & Killingley, C. A. (1983). The Badger of the World. Springfield, Illinois.

Meijaard, E., Odom, K., Kwatrina, R. T., Nardiono, & Santosa, Y. (2019). Records of Sunda stink-badger Mydeus javanicus confirm the species’ presence across the Indonesian Borneo. Small Carnivore Conservation 57, 20–24.

Molotoks, A., Kuhnert, M., Dawson, T. P., & Smith, P. (2017). Global hotspot of conflict risk between food security and biodiversity conservation. Land. 6(67). https://doi.org/10.3390/land6040067

Nowak, R. M. (1999). Walker, s Mammals of the World. Johns Hopkins University Press.

Santosa, Y., Sunkar, A., Erniwati, & Purnamasari, I. (2016). Sejarah perkembangan status, penggunan lahan dan keanekaragaman hayati kebun kelapa sawit Indonesia [Laporan Riset]. Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa Sawit dan Lembaga Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat.

Odum, E. P. (1971). Fundamentals of ecology. WB Saunders Company.

Rustam, & Giordano, A. J. (2014). Records of Sunda Stink-badger Mydaus javanensis from Rajuk Forest, Malinau, North Kalimantan, Indonesia. Small Carnivore Conservation 50, 74–76.

Samejima, H., Meijaard, E., Duckworth, J. W., Yasuma, S., Hearn, A. J., Ross, J., Mohamed, A., Alfred, R., Bernard. H., Boonratana, R., Pilgrim, J. D., Eaton, J., Belant, J. L., Kramer-Schadt, S., Semiadi, G., & Wilting, A. (2016). Predicted distribution of the Sunda Stink-badger Mydaus javanensis (Mammalia: Carnivora: Mephitidae) on Borneo. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement, 33, 61–70.

U.Name.Me. (2018). Mydaus javanensis. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/57/Mydaus_javanensis.jpg/800px-Mydaus_javanensis.jpg?20181129133400

Vijay, V., Pimm, S. L., Jenkins, C. N., & Smith, S. J. (2016). The impacts of oil palm on recent deforestation and biodiversity loss. Plos One 11 (7), e0159668. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159668

Wiens, J. A. (1995). Landscape mosaics and ecological theory. Dalam L. Hansson, L. Fahrig, G. Merriam (Ed.), Mosaic landscapes and ecological processes. Springer, Dordrecht. https://doi.org/10.1007/978-94-011-0717-4_1

Wong, S. T., Belant, J. L., Sollmann, R., Mohamed, A., Niedballa, J., Mathai, J., Meijaard, E., Street, G. M., Kissing, J., Mannan, S., & Andreas Wilting. (2018). Habitat associations of the Sunda stink-badger Mydaus javanensis in three forest reserves in Sabah, Malaysian Borneo. Mammalian Biology, 88, 75–80. https://doi.org/10.1016/j.mambio.2017.11.010

Barker, D. G., Barker, T. M., Davis, M. A., & Schuett. G. W. (2015). A review of the systematics and taxonomy of Pythonidae: an ancient serpent lneage. Zoological Journal of the Linnean Society, 175, 1–19. https://doi.org/10.1111/zoj.12267

Das, I. (2015). Field guide to the reptiles of South East Asia. Bloomsbury Publishing.

Enok, S., Simonsen, L. S., Wang, T. (2013). The contribution of gastric digestion and ingestion of amino acids on the postprandial rise in oxygen consumption, heart rate and growth of visceral organs in pythons. Comparative Biochemisty and Physiology Part A, 165, 46–53. https://doi.org/10.1016/j.cbpa.2013.01.022. Epub 2013 Feb 4.

Mattison, C. (2005). Encyclopedia of reptiles and amphibians: an essential guide to reptiles and amphibians of the world. The Grange Books.

Mexico, T. (2008). Python reticulatus. Diakses pada 6 Maret, 2020, dari http://animaldiversity.ummz.umich.edu

Orr, T. B. (2015). Reticulated python. Cherry Lake.

Rawlings, L. H. Rabosky, D. L., Donnellan, S. C., & Hutchinson, M. N. (2008). Python phylogenetics: inference from morphology and mitochondrial DNA. Biological Journal of the Linnean Society, 93(3), 603–619. https://doi.org/10.1111/j.1095-8312.2007.00904.x

Relox, R. E., Emmanuel, P. L., & Fritzie, B. A. C. (2011). Herpetofaunal endemism and diversity in tropical forests of Mt. Hamiguitan in the Philippines. Herp. Cons. Biol. 6(1), 107-113. http://www.herpconbio.org/Volume_6/Issue_1/Relox_etal_2011.pdf

Sihombing, V. S., & Takandjandji, M. 2019. Karakterikstik habitat, parameter demografi dan tata niaga ular sanca batik (Python reticulatus) di Kalimantan Timur. IPB Press.

Takandjandji, M., Gunawan, H., & Sihombing, V. S. (2018). Rapid assessment method for population estimation of softshell turtle (Amyda cartilaginea Boddaert, 1770) and reticulated python (Python reticulatus Schneider, 1801). Biodiversitas 19, 265–271. https://doi.org/10.13057/biodiv/d190136

BirdLife International. (2019a). Chloropsis sonnerati. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T22704950A156863893. Diakses pada 12 September 2020.

BirdLife International. (2019b). Chloropsis cochinchinensis. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T103775551A156811213. Diakses pada 12 September 2020.

BirdLife International. (2016). Chloropsis cyanopogon. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T22704953A93992611. Diakses pada 12 September 2020.

Biro Humas KLHK. (2018). Presiden lepas liarkan burung, KLHK: akan digelar se-indonesia. Siaran Pers Nomor : SP. 131/HUMAS/PP/HMS.3/03/2018. http://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers/4087/presiden-lepas-liarkan-burung-klhk-akan-digelar-se-indonesia.

Chng, S. C. L., Eaton, J. A., & Miller, A. E. (2017). Greater green leafbirds: The trade in South-east Asia with a focus in Indonesia. Traffic Bulletin, 29(1), 4–8

Ginanjar, D. (2020, 4 Januari). 178 cucak hijau dan cucak jenggot dikirim ke taman nasional Kutai. Jawa Pos. https://www.jawapos.com/surabaya/04/01/2020/178-cucak-hijau-dan-cucak-jenggot-dikirim-ke-taman-nasional-kutai/

Moltesen, M., Irestedt, M., Fjeldsa, J., Ericson, P. G. P., & Jonsson, K. A. (2012). Molecular phylogeny of Chloropseidae and Irenidae–Cryptic species and biogeography. Molecular Phylogenetics and Evolution, 65, 903–914.

Perputaran Bisnis Penangkaran Burung Tembus Rp 2 Triliun. (10 Agustus 2020). liputan6.com. https://www.liputan6.com/bisnis/read/4327278/perputaran-bisnis-penangkaran-burung-tembus-rp-2-triliun

Rosadi, S. (2019, 20 November). Penyelundupan 45 burung khas Kalimantan ke Parepare digagalkan petugas karantina. Merdeka. https://www.merdeka.com/peristiwa/penyelundupan-45-burung-khas-kalimantan-ke-parepare-digagalkan-petugas-karantina.html.

Suba, R. B., Rakhman, A., & Rustam. (2011). Pola kecenderungan penangkapan burung-burung liar bernilai ekonomis dan implikasi konservasinya: Studi kasus di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Berita Biologi, 10(6), 797–806.

Sucipto. (2020, 5 Juni). Penjual 167 cucak hijau secara daring ditangkap di Samarinda. Kompas. https://kompas.id/baca/humaniora/2020/06/05/penjual-167-cucak-hijau-secara-daring-ditangkap-di-samarinda/

Sutriyanto, E. (2018, 16 November). 80 Ekor burung cucak ijo gagal diselundupkan lewat Pelabuhan Semayang. Tribunnews.com. https://www.tribunnews.com/regional/2018/11/16/80-ekor-burung-cucak-ijo-gagal-diselundupkan-lewat-pelabuhan-semayang

Utomo, D.P. (2018, 8 November). 481 ekor burung selundupan dari balikpapan gagal masuk Surabaya. Detik News. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4292775/481-ekor-burung-selundupan-dari-balikpapan-gagal-masuk-surabaya.

Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (1990). https://peraturan.bpk.go.id/Details/46710/uu-no-5-tahun-1990

Satwa dilindungi disita KLHK: Cucak hijau, kakatua jambul, tiong mas hingga poksai sumatra. (2019, 18 November). Prokal. https://kaltim.prokal.co/read/news/363634-97-satwa-dilindungi-disita-klhk.html

Burton, J. A., & Nietsch, A. (2010). Geographical variation in duet songs of Sulawesi tarsiers: Evidence for new cryptic species in south and southeast Sulawesi. International Journal of Primatology, 31(6), 1123–1146. DOI: 10.1007/s10764-010-9449-8

Crompton, R. H., Blanchard, M. L., Coward, S., Alexander, R. M., & Thorpe, S. K. (2010). Vertical clinging and leaping revisited: Locomotion and habitat use in the Western Tarsier, Tarsius bancanus explored via loglinear modeling. International Journal of Primatology, 31(6), 958–979. doi:10.1007/s10764-010-9420-8

Farida, W. R., Wardani, K. K., Tjakradidjaja, A. S., & Diapari, D. (2008). Feed consumption and utilisation in female western tarsier (Tarsius bancanus) in captivity. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 9(2). DOI: 10.13057/biodiv/d090214

Fleagle, J. G. (2013). Primate adaptation and evolution. Academic press.

Gursky, S. (2000). Effect of seasonality on the behavior of an insectivorous primate, Tarsius spectrum. In. J. of Primatology, 21(3), 477–495. DOI: 10.1023/A:1005444020059

Hadiatry, M. (2003). Tingkah laku tarsius (Tarsius spectrum) di dua lokasi penangkaran di Bogor [Skripsi tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Jablonski, N. G., & Crompton, R. H. (1994). Feeding behavior, mastication, and tooth wear in the western tarsier (Tarsius bancanus). International Journal of Primatology, 15(1), 29–59. https://doi.org/10.1007/BF02735233

Kappeler, P. M. (2012). The behavioral ecology of strepsirrhines and tarsiers. Dalam J. C. Mitani, J. Call, P. M. Kappeler, R. A. Palombit, J. B. Silk (Ed.), The Evolution of Primate Societies (17–42). University of Chicago Press.

Nijman, V., & Nekaris, K. (2010). Checkerboard patterns, interspecific competition, and extinction: lessons from distribution patterns of tarsiers (Tarsius) and slow lorises (Nycticebus) in insular Southeast Asia. International Journal of Primatology, 31(6), 1147–1160. DOI: 10.1007/s10764-010-9458-7

Polyak, S. (1957). The vertebrate visual system (Vol. 277). University of Chicago Press.

Roos, C., Boonratana, R., Supriatna, J., Fellowes, J. R., Rylands, A. B., & Mittermeier, R. A. (2013). An updated taxonomy of primates in Vietnam, Laos, Cambodia and China. Vietnamese J. of Primatology, 2(2), 13–26. http://www.primate-sg.org/vjp22/

Shekelle, M., & Leksono, S. M. (2019). Strategi konservasi di Pulau Sulawesi dengan menggunakan tarsius sebagai flagship spesies. Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati, 9(1), 1–10. https://doi.org/10.24002/biota.v9i1.2791

Williams, E., Cabana, F., & Nekaris, K. (2015). Improving diet and activity of insectivorous primates in captivity: Naturalizing the diet of Northern Ceylon gray slender loris, Loris lydekkerianus nordicus. Zoo Biology, 34(5), 473–482. doi: 10.1002/zoo.21231

Arini, D. I. D., & Kafiar, Y. (2014). Preferensi pakan Anoa (Bubalus sp.) di penangkaran Balai Penelitian Kehutanan Manado. Jurnal Wasian, 1(2), 83–90.

Burton, J. A., Hedges, S., & Mustari, A. H. (2005). The taxonomic status, distribution and conservation of the lowland anoa Bubalus depressicornis and mountain anoa Bubalus quarlesi. Mammal Review, 35(1), 25–50. https://doi.org/10.1111/j.1365-2907.2005.00048.x

Direktorat Jenderal Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam (PJLWA). (2007). Pedoman pendidikan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Departemen Kehutanan.

Mustari, A. H. (2019). Ekologi, perilaku dan konservasi anoa (1st ed.). IPB Press. https://www.researchgate.net/publication/339788077

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Rachman, M. (2012). Konservasi nilai dan warisan budaya. Indonesian Journal of Conservation, 1(1), 30–39. DOI: https://doi.org/10.15294/ijc.v1i1.2062

Suryaningsih, R., Arini, D.I.D., Kinho, J., Halawane, J.E., Suryawan, A., Mayasari, A., Cristita, M., & Simamora, T.A.J. (2018). Nilai kemanfaatan Anoa Breeding Center ditinjau dari motivasi pengunjung. Prosiding seminar nasional meningkatkan sinergitas dalam upaya pelestarian sumber daya alam, Manado: 24 Oktober 2018. 49–62.

Alamendah. (2009, 12 Oktober). Burung maleo si langka anti poligami. Alamendah. https://alamendah.org/2009/10/12/burung-maleo-si-langka-anti-poligami/comment-page-10/

Baker, G. C. (2002). Conservation status of maleo Macrocephalon maleo nesting grounds: an update. Megapode Newsletter, 16, 4–6.

BirdLife International. (2020). Species factsheet: Macrocephalon maleo. Diakses pada 23 Juni, 2020, dari http://www.birdlife.org.

BirdLife International. (2016). Macrocephalon maleo. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T22678576A92779438. Diakses pada 22 June, 2020, dari https://www.iucnredlist.org/species/22678576/194673255.

Butchart, S. H. M., & Baker, G. C. (2000). Priority sites for conservation of Maleos (Macrocephalon maleo) in central Sulawesi. Biological Conservation, 94(1), 79–91.

Dekker, R. W. R. J., Fuller, R. A., & Baker, G. C. (2000.) Megapodes. Status Survey and Conservation Action Plan 2000-2004. IUCN and World Pheasant Association, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.

Dua puluh dua provinsi belum selesaikan rencana tata ruang wilayah. (2010, 4 Agustus). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. https://pu.go.id/berita/22-provinsi-belum-selesaikan-rencana-tata-ruang-wilayah

Filatelis Indonesia. (2012, 5 September). prangko hari cinta puspa dan satwa tahun 1995. Filatelis Indonesia. https://filatelisindonesia.wordpress.com/2012/09/05/prangko-hari-cinta-puspa-dan-satwa-tahun-1995/

Gunawan, H. (2014). Dampak rencana pembangunan jalan melintasi kawasan lindung terhadap keseimbangan ekosistem dan habitat. Makalah disampaikan pada National Inception Workshop dengan tema “Membangun ketahanan hutan hujan tropis sumatera untuk mitigasi perubahan iklim and keanekaragaman hayati”, UNESCO-Pokja Wardun, Medan, 23–24 September 2014.

Gunawan, H. (2000). Strategi burung maleo (Macrocephalon maleo SAL. MULLER 1846) dalam seleksi habitat tempat bertelurnya di Sulawesi [Tesis tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Gunawan, H., & Sugiarti. (2014). Perlunya penunjukkan kawasan konservasi baru untuk mengantisipasi degradasi keanekaragaman hayati akibat perubahan RTRW di kawasan Wallacea (Lesson Learnt inisiasi pengusulan Taman Nasional Mekongga, Sulawesi Tenggara). Bio Wallacea 1(3), 122–123. http://jurnal.unram.ac.id/index.php/ Biowallacea/article/view/766

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2018). Statistik Direktorat Jenderal KSDAE. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Nurudin. (2011, 20 Oktober). Maskot Tumbuhan dan Satwa dari Sulawesi Tengah. Noerdblog. https://noerdblog.wordpress.com/2011/10/20/emaskot-tumbuhan-dan-satwa-dari-sulawesi-tengah/

Pemerintah Kabupaten Banggai. (t.t.). Lambang Daerah Kabupaten Banggai. Diakses pada 17 Maret, 2022, dari http://beranda.banggaikab.go.id/lambang-daerah/

Pemerintah Kabupaten Banggai. (t.t). Lambang Daerah Kabupaten Banggai. Diakses pada 17 Maret, 2022, dari https://beranda.banggaikab.go.id/banggaikonten/uploads/2017/02/logo_kab-bgi-warna1.jpg

Pemerintah Kabupaten Boalemo. (t.t.) Profil sejarah Kabupaten Boalemo. Diakses pada 17 Maret, 2022, dari http://www.boalemokab.go.id/

Pemerintah Kabupaten Boalemo. (t.t.). Profil sejarah Kabupaten Boalemo. Diakses pada 22 Maret, 2022, dari https://boalemokab.go.id/logo.png

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi

Peraturan Daerah Kabupaten Tojo Una-Una Nomor 1 Tahun 2005 Seri E Nomor 1 Tentang Lambang Daerah Kabupaten Tojo Una-Una. (2005). https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/74976/perda-kab-tojo-una-una-no-1-tahun-2005

Taman Nasional Boganinani Wartabone. (t.t.) Profil Sejarah Taman Nasional Boganinani Wartabone. Diakses pada 15 April, 2022, dari http://www.boganinaniwartabone.org/portal/sejarah

Taman Nasional Boganinani Wartabone (t.t). Profil Sejarah Taman Nasional Boganinani Wartabone. Diakses pada 15 April, 2022, dari https://www..org/uploads/kontakkami/isi201905034616.jpg

Amama, F. P. (2006, 30 Oktober). Burung-burung yang “berlayar” (jejak-jejak perdagangan nuri talaud). Inlanderz. http://inlanderz.blogspot.com/2006/10/burung-burung-yang-berlaya_116220336130483615.html

Arini, D. I. D., Pudyatmoko, S., & Poedjirahajoe, E. (2017). Seleksi pohon tidur burung nuri talaud (Eos histrio Muller, 1776) di Pulau Karakelang Sulawesi Utara. Jurnal penelitian kehutanan Wallacea 6(1), 61–71.

Beehler, B. M., Pratt, T. K., & Zimmerman, D. A. (2001). Burung-burung di kawasan Papua. Puslitbang Biologi LIPI.

Lee, R. J., Riley, J., Merrill, R., & Manoppo, R. P. (2001). Keanekaragaman hayati dan konservasi di Sulawesi Utara. WCS-IP dan NRM.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Roesone. (2014). Boneka maskot Porkab KORPRI Talaud 2014 burung nuri. https://roesone.com/wp-content/uploads/2014/06/Boneka-Maskot-PORKAB-KORPRI-Talaud-2014-Burung-Nuri.jpg

MacKinnon, J., Philips, K., & Van Balen, B. (1998). Burung-burung di Sumatera, Jawa Bali dan Kalimantan. Puslitbang Biologi LIPI, Birdlife International Programme.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 57 Tahun 2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008–2018. (2008). https://legalitas.org/download/write_pdf.php?url=pdf/peraturan_menteri/kementerian_kehutanan/2008/Peraturan-Menteri-Kementerian-Kehutanan-P.57-MENHUT–II-2008-tahun-2008.pdf

Snyder, N., McGowan, P., Gilard, J., & Grajal, A. (2000). Parrots. status survey and conservation action plan. Glan, Switzerland and Cambridge. IUCN.

White, C.M.N., & Bruce, M.D. (1986) The birds of Wallacea (Sulawesi, The Mollucas and Lesser Sunda Islands Indonesia). British Ornithologist’ Union.

Andrew, P., & Holmes, D. A. (1990). Sulawesi bird report. Kukila, 5(1), 4–26. http://kukila.org/index.php/KKL/article/view/78

BirdLife International. (2016). Trichoglossus ornatus. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T22684531A93034664. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-3.RLTS.T22684531A93034664.en. Diakses pada 17 Maret 2023.

Boinau, J., Layuk, D. S., & Puspaningrum, D. (2020). Keanekaragaman jenis burung pada berbagai tipe habitat perkebunan kakao. Gorontalo Journal of Forestry Research, 3(1), 11–22. https://doi.org/10.32662/gjfr.v3i1.796

Bororing, R., Hunowu, I., Hunowu, Y., Maneasa, E., Mole, J., Nusalawo, M., & Wangko, M. (2011). Birds of the manembonembo nature reserve, North Sulawesi, Indonesia. Kukila, 11, 58–72. http://kukila.org/index.php/KKL/article/view/227

CITES. (2020). Species data base: CITES species list. Diakses pada 10 April, 2022, dari http://www.speciesplus.net.

Coates, B. J., Bishop, K. D., & Gardner, D. (2000). Panduan lapangan: burung-burung di kawasan wallacea: Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Indonesia: Birdlife International-Indonesia Programmed and Dove Publication Pty. Ltd.

Gibbs, D. (1990). Wallacea. Unpublished site guide for birdwatchers

Gunawan, H., Putri, I. A., & Qiptiyah, M. (2005). Keanekaragaman jenis burung di Wanariset Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 2(3), 241–250. https://doi.org/10.20886/jphka.2005.2.3.241-250

Holmes, D., & Phillips, K. (1999). Burung-burung di Sulawesi. Birdlife International Indonesia Programme-LIPI.

Jamili, A., & Amnawati, W. O. (2014). Keanekaragaman jenis burung pada hutan mangrove di Kawasan sungai Lanowulu Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) Sulawesi Tenggara. Biowallacea, 1(2), 71–81. http://dx.doi.org/10.33772/biowallacea.v1i2.132

Kelly, D., & Marples, N. (2010). Bird population of the Wakatobi. Dalam Clifton, J., Unsworth, R.K.F., Smith, D,J, (eds). Environmental Science, Engineering and Technology Series. Marine research and conservation in the Coral Triangel, The Wakatobi National Park. Operation Wallacea. Nova.

Khaeruddin, I. (2007). TNC finds new plant species in Central Sulawesi. Forest Science News, 3(12), 1.

Kinnaird, M. F. (2002). Sulawesi utara: Sebuah Panduan sejarah alam. Yayasan Pengembangan Wallacea.

Krell, R. (1996). Value-Added Products From BeeKeeping. Diakses pada 26 Mei 2010, dari http://www.fao.org/docrep/w0076e/w0076e00.HTM.

Martin, T. E., & Blackburn, G. A. (2010). Impacts of tropical forest disturbance upon avifauna on a small island with high endemism: implications for conservation. Conservation and Society, 8(2), 127–139. https://doi.org/10.4103/0972-4923.68914

Nurdiansyah, Labiro, E., & Sustri. (2019). Kesamaan komunitas burung di Kawasan Cagar Alam Pangi Binangga Kabupaten Parigi Moutong. Jurnal Warta Rimba, 7(3), 137–146.

O’Connell, D. P. (2018). Avian speciation and biodiversity in South-east Sulawesi, Indonesia: drivers of diversification [Disertasi tidak diterbitkan]. The University of Dublin.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Prahara, W. (2003). Pemeliharaan dan penangkaran burung paruh bengkok yang dilindungi. Penebar Swadaya.

Prijono, S. N., & Handini, S. (1999). Memelihara, menangkar dan melatih nuri. Penebar Swadaya.

Pudjihastuti, E., Pangemanan, S. P., & Kaunang, C. L. (2007, 3–6 Mei). A study of carcass and meat chemical composition of babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis Deniger) [Presentasi Makalah]. Proceeding of the Mini Workshop Southeast Asia Germany Alumni Network (SEAG)“Empowering of Society through the Animal Health and Production Activities with the appreciation to the Indigenous Knowledge”. Kota, Negara

Putri, I. A. (2006). Preferensi dan konsumsi pakan berprotein tinggi pada burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) dalam Penangkaran. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 3(3), 259–270. https://doi.org/10.20886/jphka.2006.3.3.259-270

BKSDA Maluku. (2019). Rekomendasi evaluasi kesesuaian fungsi SA Masbait Tahun 2019. Balai KSDA Maluku.

Brooks, T., Mittermeier, R., da Fonseca, G. A., Gerlach, J., Hoffman, M., Lamoreux, J. F., Mittermeier, C. G., Pilgrim, J. D., & Rodrigues, A. S. L. (2006). Global biodiversity conservation priorities. Science 313, 58–62. https://doi.org/10.1126/science.1127609

Clark, J. S. (2007). Models for ecological data: An introduction. Princeton University Press

Dschwen. (2010). BabirusaGray. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7b/BabirusaGray.jpg

Eaton, J. A., & Hutchinson, R. O. (2015). Surveys on Buru and Taliabu fail to reveal sign of babirusa. Ecology and Conservation, 27–28.

Macdonald, A. A., Burton, J., & Leus, K. (2008). Babyrousa babyrussa. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T2461A9441445. https://dx.doi.org/ 10.2305/IUCN.UK. 2008.RLTS. T2461A9441445.en. Diakses pada 28 September 2020 dari https://www.iucnredlist.org/species/2461/9441445.

Macdonald, A. A., & Pattikawa, M. J. (2017). Babirusa and other pigs on Buru Islands, Maluku, Indonesia–New Findings. Suiform Sounding 16(1), 5–18.

Margules, C., & Pressey, R. (2000). Systematic Conservation Planning. Nature, 405, 243–253. https://doi.org/10.1038/35012251

Meijaard, E., d’Huart, J. P., & Oliver, W. L. R. (2011). Family Suidae (pigs). dalam D. E. Wilson, R. A. Mittermeier (Ed.). Handbook of the mammals of the world, Vol 2. Barcelona, Spain, Lynx Edicions; p. 248–291.

Meijaard, E., & Groves, C. (2002). Proposal for taxonomic changes within the genus Babyrousa. Asian Wild Pig News 2(1), 9–10.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P. 55/Menhut-II/2013 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Babirusa (Babyrousa Babyrussa) Tahun 2013–2022. (2013). https://jdih.menlhk.go.id/new2/uploads/files/P.55%20(4).pdf

Tjiu, B., & Macdonald, A. A. (2016). Babirusa (Babyrousa babyrussa). Suiform Soundings 15(1), 20–16.

Verbelen, F. (2003). Short communication: Babirusa sightings on Taliabu and Buru. Asian Wild Pig News 3, 13.

BirdLife International. (2018). Nisaetus floris (amended version of 2017 assessment). The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T22732096A125448523. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK. 2017-3.RLTS.T22732096A125448523.en. Downloaded on 22 July 2020.

BKSDA Nusa Tenggara Barat. (2019). Upaya konservasi elang flores melalui penyusunan strategi dan rencana aksi konservasi. http://ksdae.menlhk.go.id/info/5747/upaya-konservasi-elang-flores-melalui-penyusunan-strategi-dan-rencana-aksi-konservasi.html

Gjershaug, J. O., Kvaløy, K., Røv, N., Pwariradilaga, D. M., Suparman, U., & Rahman, Z. (2004). The taxonomic status of flores hawk eagle spizaetus floris. Forktail 20, 55–62.

Jempau, A. (2018, 7 Desember). Perburuan satwa masif, warga Kota Ruteng: Pemda segera buatkan Perda. Floresa. https://floresa.co/2018/12/07/perburuan-satwa-masif-warga-kota-ruteng-pemda-segera-buatkan-perda/

Kuspriyangga, & Hidayat, O. (in prep). Breeding Ecology of Flores Hawk-eagle (Nisaetus floris) at Wolojita, Ende, East Nusa Tenggara, Indonesia.

Lee, A. (2012, 15 Juli). Perangko burung terancam punah diluncurkan. Kompas. https://amp.kompas.com/internasional/read/2012/07/15/13030175/perangko.burung.terancam.punah.diluncurkan

Litbang KLHK. (2020). Gandeng BUMN, BP2LHK Kupang jajaki kerja sama konservasi satwa endemik NTT. Diakses pada. https://www.menlhk.go.id/site/single_post/3038/gandeng-bumn-bp2lhk-kupang-jajaki-kerja-sama-konservasi-satwa-endemik-ntt

Morrison, J. (t.t.). Southeastern Asia: Lesser Sundas Islands, Indonesia. Diakses pada 12 April, 2022, dari https://www.worldwildlife.org/ecoregions/aa0201

Monk, K.A., De Fretes, Y., & Reksodihardjo-Lilley, G. (1997). The ecology of Nusa Tenggara and moluccas: Ecology of Indonesian series Vol. V. Prenhallindo.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional tahun 2008–2018. (2008). https://legalitas.org/download/write_pdf.php?url=pdf/peraturan_menteri/kementerian_kehutanan/2008/Peraturan-Menteri-Kementerian-Kehutanan-P.57-MENHUT–II-2008-tahun-2008.pdf

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.106_tahun_2018_Jenis_TSL_dilindungi_.pdf

Raharjaningtrah, W., & Rahman, Z. (2004). Study on the distribution, habitat and ecology of Flores hawk-eagle Spizaetus cirrhatus floris in Lombok, Sumbawa, Flores, Komodo and Rinca Islands, Nusa Tenggara, Indonesia. Pro Natura Fund Annual Report Volume 13.

Suparman, U. (2013). Final report distribution, abundance and habitat selection of flores hawkeagle (Nisaetus floris) in Sumbawa Island, West Nusa Tenggara, Indonesia. West Java, Indonesia: Raptor Conservation Society.

Suparman, U. (2012). Final Report distribution, population and ecological aspect of flores hawk-eagle nisaetus floris in and around Flores Island, East Nusa Tenggara, Indonesia. West Java, Indonesia: Raptor Conservation Society.

Trainor. C., Verbelen, P., & Johnstone, R. E. (2012). The avifauna of alor and pantar, lesser Sundas, Indonesia. Forktail 28, 77–92.

Winasis, S., Hakim, L., & Imron, M. A. (2018). The utilization of burungnesia to detect citizen scientist participation preference in birding sites observation in Java Island. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies 6(1), 49–54.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.57/Menhut-II/2008 Tahun 2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008–2018. (2008). https://legalitas.org/peraturan-menteri-kementerian-kehutanan-no-p-57-menhut-ii-2008-tahun-2008-tentang-arahan-strategis-konservasi-species-nasional-2008-2018

IUCN. (2000). The IUCN red list of threatened species. https://www.iucnredlist.org.

Kayat, Hidayatullah, M., Hidayat, O., & Naikulas, A. (2012). Karakteristik habitat dan dugaan populasi kura-kura leher ular rote (Chelodina mccordi Rhodin, 1994) di Pulau Rote [Laporan Hasil Penelitian]. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.

Kayat, Saragih, G. S., da Silva, M. M., Hidayat, O., & Naikulas, A. (2015). Pemulihan populasi, pemanfaatan, dan konflik satwa liar di NTT [Laporan Hasil Penelitian]. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.

Kayat, Saragih, G.S., Kurniadi, R., & Naikulas, A. (2010). Kajian habitat dan sebaran populasi kura-kura leher ular (Chelodina mccordi Rhodin, 1994) [Laporan Hasil Penelitian]. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. (2005). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.69_.pdf

Shepherd, C. R., & Ibarrondo, B. (2005). The trade of the Roti island snake-necked turtle Chelodina mccordi, Indonesia. TRAFFIC South East Asia. Petaling Jaya, Malaysia. https://www.traffic.org/site/assets/files/9695/the-trade-of-the-roti-island-snake-necked-turtle.pdf

Eisemberg, C. C., Rose, M., Yaru, B., & Georges A. (2011). Demonstrating decline of an iconic species under sustained indigenous harvest-the pig-nosed turtle (Carettochelys insculpta) in Papua New Guinea. Biol Conserv 144, 2282–2288. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2011.06.005

Eisemberg, C. C., van Dijk, P. P., Georges, A., & Amepou, Y. (2018). Carettochelys insculpta. The IUCN Red List Of Threatened Species 2018: e.T3898A2884984. Diakses pada 4 September, 2020, dari http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2018-2.RLTS.T3898A2884984.en

Georges, A., Alacs, E., Pauza, M., Kinginapi, F., Ona, A., & Eisemberg, C. (2008). Freshwater turtles of the Kikori Drainage, Papua New Guinea, with special reference to the pig-nosed turtle, Carettochelys insculpta. Wildlife Res 35(7), 700–711. https://doi.org/10.1071/WR07120

Georges, A., Guarino, F., & Bito, B. (2006). Freshwater turtles of the TransFly region of Papua New Guinea–notes on diversity, distribution, reproduction, harvest and trade. Wildlife Research 33, 373–384. https://doi.org/10.1071/WR05087

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. (2018). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.20_Jenis_TSL_.pdf

Triantoro, R. G. N. (2018). Kura-kura moncong babi: Status dan tantangan survey. Warta Matoa 5(1), 20–23.

Triantoro, R. G. N. (2016). Wilayah adat pemanenan telur labi-labi moncong babi dan pemanfaatan sumber makanan alami oleh suku lokal di Sungai Vriendschap Kabupaten Asmat, Papua. Prosiding Symbion, 257–267.

Triantoro, R. G. N. (2012). Ekologi peneluran dan intensitas pemanfaatan Labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta Ramsay 1886) di Sungai Vriendschap Kabupaten Asmat, Papua [Tesis tidak diterbitkan]. Institut Pertanian Bogor.

Triantoro, R. G. N., Kusrini, M. D., & Prasetyo, L. B. (2017). Intensitas perburuan dan pola perdagangan kura-kura moncong babi di Sungai Vriendschap, Kabupaten Asmat, Papua. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indonesia 3(3), 339–344.

Triantoro, R. G. N., & Yuliana, S. (2017). Jenis vegetasi pada pasir peneluran dan pengaruhnya terhadap keberadaan sarang kura-kura moncong babi di Kaimana, Papua. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indonesia 3(3), 287–293.

van Dijk, P. P., Iverson, J. B., Rhodin, A. G. J., Shaffer, H. B., & Bour, R. (2014). Turtles of the world, 7th edition: annotated checklist of taxonomy, synonymy, distribution with maps, and conservation status. In: A. G. J. Rhodin, P. C. H. Pritchard, van Dijk, P. P., R. A. Saumure, K. A. Buhlmann, J. B. Iverson, R. A. Mittermeier. (Ed.). Conservation Biology of Freshwater Turtles and Tortoises: A Compilation Project of the IUCN/SSC Tortoise and Freshwater Turtle Specialist Group. Chelonian Research Monographs, 5(7), 000.329–479, doi:10.3854/crm.5.000.checklist.v7, www.iucn-tftsg.org/cbftt/.

Atmoko, T., Sudiono, E., Rifqi, M. A., & Dharma, A. P. (2021). Praktik Terbaik Pengelolaan Habitat Satwa Terancam Punah Dalam Sekala Bentang Alam: Sebuah pembelajaran dari Kawasan ekosistem Esensial Wehea-Kelay. IPB Press.

Deere, N. J., Guillera-Arroitab, G., Swinfieldc, T., Milodowskie, D. T., Coomesc, D. A., Bernard, H., Reynolds, G., Daviesa, Z. G., & Struebig, M. J. (2020). Maximizing the value of forest restoration for tropical mammals by detecting three-dimensional habitat associations. PNAS 117(42), 26254–2626. www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.2001823117

Dirjen PKTL (2019). Data and information Indonesian forestry thematic mapping, Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan. Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. https://geoportal.menlhk.go.id/~appgis/publikasi/Lainnya/Booklet%2C%20Leaflet%2C%20dan%20Brosur/Booklet%20Data%20dan%20Informasi%20Peta%20Tematik%20Kehutanan%202019%20%28English%29.pdf

Mardiastuti, A. (2018). Ekologi satwa : pada lanskap yang didominasi manusia. IPB Press.

Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.69/Menhut-II/2013 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 19/MENHUT-II/2005 Tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. (2013). https://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/P.69_.pdf

Tisdell, C. (2003). Economic aspects of ecotourism: wildlife-based tourism and its contribution to nature. Sri Lankan Journal of Agricultural Economics 5(1), 83–95. https://doi.org/10.4038/sjae.v5i0.3478

König, H. J., Kiffner, C., Kramer-Schadt, S., Fürst, C., Keuling, O., Ford, A. T. (2020). Human–wildlife coexistence in a changing world. Conservation Biology 34(4), 786–794. https://doi.org/10.1111/cobi.13513

König, H. J., Kiffner, C., Kramer-Schadt, S., Fürst, C., Keuling, O., Ford, A. T. (2020). Human–wildlife coexistence in a changing world. Conservation Biology 34(4), 786–794. https://doi.org/10.1111/cobi.13513

König, H. J., Kiffner, C., Kramer-Schadt, S., Fürst, C., Keuling, O., Ford, A. T. (2020). Human–wildlife coexistence in a changing world. Conservation Biology 34(4), 786–794. https://doi.org/10.1111/cobi.13513

Scroll to Top
×