Mengenal Kebudayaan Keo: Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial

Screenshot 2024-02-06 140053

Categories



Published

July 19, 2021

HOW TO CITE

Philipus Tule

Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

DOI: https://doi.org/10.14203/press.395

Keywords:

sejarah, asal-usul masyarakat Keo, pelestarian Budaya, NTT

Synopsis

Keo dalam publikasi ini dipakai dalam artian nama sebuah etnis dan nama suatu kawasan atau wilayah dari Kabupaten Nagekeo di Flores Tengah, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai nama etnis, orang Keo menghuni kawasan wilayah seputar lereng gunung Ebulobo bagian selatan dan juga sekitar Gunung Koto di Kecamatan Keo Tengah serta Kedi Diru di Kecamatan Nangaroro. Dalam publikasi Belanda, nama Kéo tertulis dalam laporan Freijss (1860), untuk menjelaskan sekelompok penduduk nelayan yang berdomisili sepanjang pantai selatan Flores Tengah, yang dibedakannya dengan penduduk dari etnis Nage. Pada saat yang sama, Freijss mencatat tentang Puncak Kéo (Kéopiek) yang dimaksudkannya adalah Ebu Lobo, dan ‘Teluk Kéo’ atau ‘Kéo Bay’.  Menurut catatan sejarah dan tuturan lisan, jauh sebelum ada  misionaris  dan  pedagang  Portugis  dan  Belanda di persada Flores, sesungguhnya nama etnis Keo itu telah tenar dan dikenal oleh para misionaris Dominikan dari Portugis yang telah melanglang buana pada abad ke-16 di kawasan itu untuk mewartakan Injil hingga menjangkau beberapa stasi di kawasan Keo seperti stasi Kewa, Mari dan Lena. Dalam pelbagai literatur Belanda, hingga abad ke-19. nama Keo nampaknya selalu menjadi rujukan untuk seluruh kawasan Keo dan Nage. Intervensi kolonial di kawasan ini sesungguhnya jauh kemudian (1907) dibandingkan dengan kawasan lainnya di Indonesia dan NTT. Ketika tiba di Indonesia, termasuk di Keo, para pejabat kolonial mulai melakukan restrukturisasi ‘pemerintahan lokal’ sesuai bentuk administrasi kolonial, sambil merujuk pada struktur organisasi asli masyarakat adat. Transisi dan perubahan sistem administrasi sering dilakukan, karena para penguasa asing itu sering   mengalami   kesulitan   untuk menyelaraskan   sistem asing dengan sistem adat setempat. Namun sejak tahun 1920-an, situasi politik berubah dan pemerintah Belanda mulai terbuka untuk mendengar para penguasa adat lokal. Seluruh kepulauan nusantara (Indonesia) dibagi ke dalam Gewesten atau Propinsi yang dikepalai oleh Governeur atau Residen.  Gewesten itu dibagi-bagi   lagi   atas   bagian-bagian   yang   dikepalai   oleh Asisten Residen, yang selanjutnya dibantu lagi oleh seorang Controleur. Pulau-pulau di luar Jawa, termasuk Timor dan Flores dibagi lagi ke dalam sub-divisi (Onderafdeeling) yang dikepalai oleh seorang Controleur atau Gezaghebber.

Beberapa sistem pemerintahan lokal  yang  dipadukan  dengan  sistem  administrasi  kolonial sesungguhnya telah  diterapkan  dimana-mana  seperti  sistem  pemerintahan desa  dari  Jawa,  sistem  marga  dari  Sumatera  Selatan,  dan sistem nagari dari Sumatera Barat. Di kepulauan Timor dan Flores, beberapa penguasa lokal dengan sistem penguasa asli setempat  yang  dikenal  dengan  nama  penatua  adat (adathoofden atau mosa daki) dan pengawas  atau pengatur tanah  (grondvoogden  atau  ine  tana  ame  watu)  difungsikan oleh penjajah. Hingga tahun 1910-an, pemerintah kolonial sering memandang Keo  sebagai  kawasan  dan  masyarakat yang keras kepala, sulit diperintah, dikuasai dan diatur. Kesan itu timbul karena di wilayah Keo masa itu telah terjadi 2 (dua) pemberontakan local, yakni pemberontakan yang dipimpin oleh Kaka Dupa di wilayah Tana Dea (1907) dan pemberontakan Lejo, yang dikenal dengan Perang Lejo (1912) di bawah pimpinan Lewa Wula. Belanda yang lasim menerapkan sistem “divide et impera” (membagi-bagi dan menguasai), di kawasan Keo menerapkan  sistem,  yang  bisa  dinamakan  “unifica  et impera” (menyatukan dan menguasai). Berhadapan dengan sikap  non-kooperatif  masyarakat  Keo  dan  kebutuhan mendesak  untuk  menciptakan  wilayah-wilayah  administrative berdasarkan kesamaan budaya, bahasa dan organisasi social lokal,  maka  penjajah  memperlakukan  Keo  sebagai bagian  dari  Nage,  sambil  mendaftarkan  semua  kampung di kawasan Keo dalam wilayah Nage sebagaimana tertera dalam laporan kolonial tahun 1910-an. Latar belakang dari usaha unifikasi Keo bersama Nage adalah situasi dan kondisi sosial politik yang tidak aman di kawasan Keo antara tahun 1908 hingga 1912, yang dipicu umumnya oleh pemberontakan dan  ketidak-puasan  individual  dalam  hal  pembayaran  pajak dan kerja rodi (kerja paksa). Pada tahun 1913, setelah pemberontakan Sela Lejo, sebuah rapat akbar diadakan di kampung Wajo. Dalam rapat itu Muwa Tunga dari kampung Kota terpilih sebagai administrator lokal sementara. Muwa Tunga akhirnya menjadikan kampungnya Kota sebagai pusat distrik, yang dikenal kemudian dengan nama Kota Keo. Ketika   situasi   dan   kondisi   pemberontakan   di   Keo semakin meredah, pada tahun 1915, pejabat kolonial A. R. Herns mengusulkan agar Keo dan Nage dipersatukan menjadi satu  landschap  (distrik)  bernama  Nage  dan  diperintah  oleh Roga Ngole. Pada prinsipnya usulan  tersebut  diterima baik oleh Belanda. Namun, dalam sebuah rapat di Boawae pada tanggal 8 April 1917, usulan itu tidak dapat disahkan oleh para pemimpin kedua wilayah, baik dari Nage maupun dari Keo. Memperhatikan hasil pertemuan Boawae tersebut, maka pimpinan  Afdeeling  Flores  dan  Gezagheber  Ngada,  dalam laporan  yang  ditulis  tanggal  20  April  1917  (no.  798/15) menginformasikan   kepada   Residen   Timor   bahwa   kedua wilayah Nage dan Keo itu hendaknya tidak dipersatukan di bawah kekuasan Roga Ngole. Wilayah Keo hendaknya tetap diakui sebagai distrik atau landschap tersendiri dengan Muwa Tunga sebagai administratornya. Maka dengan dekrit pemerintah Belanda tertanggal 28 Nopember 1917 (no.57), Muwa Tunga ditunjuk sebagai administrator (atau Bestuurder) yang juga telah diembannya sejak 1913, dan yang kemudian dikukuhkan dengan sumpah jabatan.

Pada tanggal 2 Maret 1918, disaksikan oleh Gezagheber Ngada, Muwa Tunga mengambil sumpah (Korte Verklaring), dan  lalu  ditanda-tangani  olehnya  dan  oleh  para  saksi.  Di bawah  kepemimpinan  Muwa  Tunga,  landschap  Keo  dibagi atas 10 (sepuluh) Haminte dan dipimpin oleh masing-masing secundaire hoofden  atau  Kepala Mere.  Hamilton  mendaftar ke-10 Hamente dengan masing-masing Kepala Mere sebagai berikut: Tonggo dengan Kepala Mere Pua Mera, Riti dengan Kepala Mere Goo Bhoko, Lewa dengan Kepala Mere Aja Mbaa,  Wajo  dengan  Kepala  Mere  Aja  Ari,  Wuji  dengan Kepala Mere Mere Muku, Pau Tola dengan Kepala Mere Ora Ari, Kota dengan Kepala Mere Ego Ari, Sawu dengan Kepala Mere Mite Ebu, Lejo dengan Kepala Mere Tado Toyo, dan Worowatu dengan Kepala Mere Seme Rau.

Kendatipun yurisdiksi administrasi sementara telah diciptakan oleh Belanda sesuai dengan lembaran negara, yang selanjutnya menjadi satu wilayah administratif yang tetap dengan ibukotanya di Bajawa, Belanda tetap saja berusaha merevisi kemungkinan untuk mempersatukan Keo dengan Nage selama dua dekade pertama masa pemerintahan kolonial  di  kawasan  ini.  Usaha  lain  untuk  mempersatukan kedua wilayah itu juga gagal pada tahun 1928. Tiga tahun kemudian, unifikasi terjadi pada tanggal 26 Januari 1931. Swapraja  Nagekeo terbentuk dan berlangsung hingga tahun 1950.

Menurut   informasi   lisan   dan   catatan   yang   kurang lengkap yang diperoleh bahwa meskipun unifikasi menjadi Swapraja  Nagekeo  itu  berhasil,  namun  eksistensi  Hamente Keo  Tengah  tetap  berjalan dengan  kepemimpinan  beberapa Kepala Mere secara bergantian dan berlanjut secara berturut- turut a.l: Kepala Mere Goa Tunga, Yosef Taa, Frans Tua Bara, Mikhael Bhebhe, Felix Dhedhu. Selanjutnya dijadikan Kecamatan Keo,  yang  dimekarkan  lagi  menjadi  Kecamatan Keo  Timur (Nangaroro)  dan  Keo  Barat  (Mauponggo)  serta Keo Tengah yang berpusat di Maundai, di wilayah Hamente Worowatu.

Menurut struktur administrasi modern, wilayah Keo pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur NTT, tertanggal 22 Pebruari   1962,   bernomor   PEM.66/1/2,   nama   Keo   pada awalnya tetap dipertahankan sebagai nama dari sebuah Kecamatan   dari   enam   Kecamatan   di   Kabupaten   Ngada. Namun, setahun kemudian, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur NTT yang baru, tertanggal 22 Juli 1963, bernomor: Pem.66/1/32,  Kecamatan  Keo  dimekarkan  menjadi  2  (dua) Kecamatan   yakni   Keo   Barat   dengan   nama   Kecamatan  Mauponggo dan Keo Timur dengan nama Kecamatan Nangaroro. Lalu berdasarkan Surat   Keputusan   Gubernur   NTT   bernomor:   Pem.9/2002, sebuah Kecamatan baru bernama Kecamatan Keo Tengah dibentuk, dengan  wilayah  mencakupi  8  (delapan) desa dari kawasan Timur Kecamatan Mauponggo yakni desa Keli, Lewa Ngera, Wajo, Koto Wuji Timur, Koto Wuji Barat, Mbae Nuamuri, Worowatu, dan Witu Romba Ua, dan ditambahkan dengan 3 (tiga) desa dari kawasan Barat Kecamatan Nangaroro yaitu desa Koto Diru Mali, Lado Lima dan Pau Tola.  Lalu berdasarkan Undang-Undang No.2/2007 tentang Pembentukan  Kabupaten  Nagekeo,  sejak  peresmian Kabupaten baru itu Kecamatan Keo Barat, Keo Tengah dan Keo Timur beralih menjadi bagian dari Kabupaten Nagekeo.

References

Adam, Jack, et al., 1997 Baktiku Untuk Nusa Tenggara Timur. Kupang: Yayasan Citra Insan Pembaharu.

Arndt, Paul, SVD, 1951 Religion auf Ostflores, Adonare und Solor. Studia Instituti Anthropos, Wien-Mödling.

———————–, 1954 Gesellschaftliche Verhältnisse der Ngadha. Studia Instituti Anthropos (8), Friburg.

Baird, Louise, 2002 A Grammar of Keo: An Austronesian Language of East Nusa Tenggara (PhD Thesis di The Australian National

University, Canberra).

Baird, Louise dan Philippus Tule, SVD 2003 Cerita Rakyat Keo (dalam Bahasa Keo, Indonesia, Inggris). Ende: Penerbit Nusa Indah.

Barnes, R.H. 1974, Kedang: A Study of the Collective Thought of an Eastern Indonesian People. Oxford: Clarendon Press.

Biermann, Benno, M. O.P 1924 Die alte Dominikanermission auf den Solorinseln. Zeitschrift fur Missions- wissenschaft 14:12-48.

Bourdieu, Pierre 1977 Outline of A Theory of Practice. Cambridge : University Press.

———————–, 1990 The Logic of Practice. Cambridge: Polity Press.

BPS, Ngada 2006 Ngada Dalam Angka 2006. Bajawa: Central Bureau of Statistics.

Clamagirand, B. 1975 La Maison Ende (Timor Portugais). Asie du Sud-est Monde Insulindien 6:35-60.

———————-, 1980 The Social Organization of the Ema of Timor. In the Flow of Life: Essays on Eastern Indonesia, edited by James J.

Fox, pp. 134-151. Cambridge: Harvard University Press.

Couvreur, A. 1924 Memorie van overgave van den aftredenden Resident van Timor en Onderhoorigheden. Algemeen Rijksarchief,

Manuscript.

Cunningham, Clark, E. 1964 Order in Atoni House. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 120:34-68.

Dhakidae, Daniel (ed.). 2013. Soekarno: Membongkar Sisi- Sisi Hidup Putra Sang Fajar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

——————————. 2007.“Tantangan Ekonomi Politik Kabupaten Nagekeo”, dalam Philipus Tule dan Theofilus Woghe (ed), Rancang

Bangun Nagekeo. Maumere: Penerbit Ledalero.

Dietrich, Stefan 1989 Kolonialismus Und Mission Auf Flores (ca.1900-1942). Klaus Renner Verlag, Hohenschaftlarn.

Djawanai, Stephanus 1983 Ngadha Text Tradition: The Collective Mind of the Ngadha People, Flores. Department of Linguistics,

RSPAS, The Australian National University, Canberra

Evans-Pritchard, E.E. 1956 Nuer Religion. Oxford: Clarendon Press.

Firth, Raymond 1969 Essays on social organisation and values. London: The Athlone Press, University of London.

Fontijne, L. 1940 Grondvoogden in Kelimado. (unpublished, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), Kupang.

———————, 1996 Guardians of the land in Kelimado. Manuscript, translated by Forth, G.

Frazer, J. 1890/1963 The Golden Bough: A study in Comparative Religion. Macmillan, London.

Forth, Gregory 1981 Rindi: An Ethnographic Study of a Traditional Domain in Eastern Sumba. Martinus Nijhoff, The Hague.

——————–, 1991 Space and Place in Eastern Indonesia. Paper presented at CSEAS, University of Kent (Occasional Paper 9),

Canterbury.

——————, 1994 Consideration of Kéo as an Ethnographic Category. Oceania 64 (4): 302-315.

——————, 1998 Beneath the Volcano: Religion, Cosmology and Spirit Classifications Among the Nage of Eastern Indonesia.

KITLV, Leiden.

———————, 1995 Two Terminologies from Eastern Kéo. Sociologus 45 (2): 153-168.

———————, 1996 Blood, sacrifice and efficacy among the Nage of central Flores. In For the sake of our future; Sacrificing in eastern

Indonesia, edited by S. Howell, pp. 73-91. CNWS, Leiden.

———————–, 1998 Beneath The Volcano: Religion, Cosmology and Spirit Classifications Among the Nage of Eastern Indonesia.

KITLV, Leiden.

——————–, 2001 Dualism and hierarchy: processes of binary combination in Kéo society. Oxford University Press, Oxford.

Fox, James, J. 1993 Memories of Ridge-poles and Cross-beams: The Categorical Foundation of a Rotinese Cultural Design. In Inside

Austronesian Houses, edited by James Fox, J., pp. 141-179. Department of Anthropology, RSPAS, ANU, Canberra.

———————-, 1995 Installing the Outsider Inside: The Exploration of an Epistemic Austronesian Cultural Theme and its Social

Significance. Leiden: Leiden University.

——————–, 1996 The Transformation of Progenitor Lines of Origin: Patterns of Precedence in Eastern Indonesia. In Origins,

Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography, edited by James J. Fox and Clifford Sather, pp.

-153. Department of Anthropology, RSPAS, The Australian National University, Canberra.

————————, 1997 The Poetic Power of Place: Comparative Perspectives on Austronesian Ideas of Locality, edited by

James J. Fox. Department of Anthropology, RSPAS, The Australian National University, Canberra.

———————–, 1999 Precedence in Practice Among the Atoni Pah Meto of Timor. In Structuralism’s Transformations: Order and

Revision in Indonesian and Malaysian Societies, edited by Lorraine V. Aragon and Susan D. Russell, pp. 3-36. Program

for Southeast Asian Studies, Arizona State University, Arizona.

———————, 1996 The Paradox of Powerlessness: Timor in Historical Perspective. Paper presented at The Nobel Peace Prize

Symposium: Focus on East Timor, University of Oslo, December, 9.

Hamilton, H.A.L. 1918 Inleiding van een verslag over het landschap Kéo. Algemeen Rijksarchief, The Hague. Heuven, B.H.F.van

———————, 1916 Nota Betreffende de Onderafdeeling Ngada (Manuscript).

Hooker, M.B. 1978 Adat Law in Modern Indonesia. Oxford University Press, Kuala Lumpur.

Hocart, A.M. 1936 Kings and Councillors. Chicago: The University of Chicago Press.

——————-, 1952 The Life Giving Myth. Harper & Row Publishers, Inc.,

——————-, 1954 Social Origins. C.A. Watts & Co Ltd, London. Howell, Signe

——————, 1996 A Life for Life: Blood and Other Life- Promoting Substances in Northern Lio Moral Discourse. In For the Sake

of our Future: Sacrifice in Eastern Indonesia, edited by S. Howell, pp. 92-109. Leiden: Research School CNWS.

Izikowitz, Karl Gustav, and Per Sørensen 1982 The House in East and Southeast Asia: anthropological and architectural aspects.

London: Curzon Press.

Kohl, Karl-Heinz. 1998. Der Tod der Reisjungfrau: Mythen, Kulte und Allianzen in einer ostindonesischen Lokalkultur. Koln:

W.Kohlhammer GmbH.

——————–, 2009. Raran Tonu Wujo: Aspek-Aspek Inti Sebuah Budaya Lokal di Flores Timur. Ledalero: Penerbit Ledalero.

Lévi-Strauss, C. 1983 The Way of the Masks. Washington: The University of Washington Press.

———————, 1987 Anthropology and Myth: Lectures 1951-1982. Basil Blackwell, New York.

Maier E. G. Th. 1917 Mailrapport No.2688/15 (Letter to the Governor General of the Netherland Indies in Buitenzorg, from the

Commissioner of Timor and Dependencies, dated 7th May 1917). National Archives, Jakarta.

McKinnon, John, and Bhruksasri Wanat 1983 Highlanders of Thailand. Oxford: Oxford University Press.

Molnar, Katalin, A. 2000 Grandchildren of the Ga’e Ancestors: Social Organization and Cosmology among the Hoga Sara of Flores.

Leiden: Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde Press.

Nakagawa, S. and Aoki, E. 1993 Endenese-English Dictionary (manuscript).

Nordholt, Schulte, H.G. 1971 The Political System of the Atoni of Timor. The Hague: Martinus Nijhoff.

Pigafetta, A. 1969 Magellan’s Voyage. New Haven: Yale University Press.

Rawls, 1971 A Theory of Justice. Cambridge MA: Bellknap Press.

Russell, J. Burton 1988 The Prince of Darkness: radical evil and the power of good in history. New York: Cornell University Press.

Robertson-Smith, W. 1889/1956 Lectures on the religion of the Semites. New York: The Meridian Books.

Rockhill, W.W. 1915 Notes on relations and trade of China with the Eastern Archipelago and the coasts of the Indian Ocean during

the Fourteenth Century. T’oung Pao 16.

Suchtelen, Jhr.B.C.C, M.M., van 1921 Endeh (Flores). Mededeelingen van Het Bureau Voor De Bestuurszaken der Buitengewesten,

Bewerkt Door Het Encyclopaedisch Bureau 26.

Therik, Tom, G. 1995 Wehali: The Four Corner Land, The Cosmology and Traditions of a Timorese Ritual Centre. PhD Thesis, The

Australian National University, Canberra.

Traube, Elizabeth, G. 1986 Cosmology and social life: ritual exchange among the Mambai of East Timor. Chicago: Univ, of Chicago Press.

Tule, Philippus, SVD 1998 The Indigenous Muslim Minority Group in Ma’undai (Kéo) of Central Flores. Antropologi Indonesia XXII

(56):68-85.

——————-, 1998 House-posts and the Baskets: Social Organisation of ‘Udi Worowatu People, Eastern Kéo of Central Flores.

Antropologi Indonesia XXII (57):110-118.

——————–, 2003 Cerita Rakyat Keo. Ende: Penerbit Nusa Indah.

——————–, 2004 Longing for the House of God, Dwellin in the House of the Ancestors: Local Belief, Christianity and Islam

Among the Keo of Central Flores. Fribourg/ Zwitzerland: Academic Press.

Verheijen, Jilis, J.A., SVD. 1990 Dictionary of Plants Names in the Lesser Sunda Islands. Department of Linguistics, RSPAS, The

Australian National University, Canberra.

Vischer, Michael, P. 1992 Children of the Black Patola Stone: Origin Structures in a Domain on Palu’e Island (Eastern Indonesia).

PhD Thesis, The Australian National University, Canberra.

Weber, M. 1890 Ethnographische Notizen uber Flores und Celebes. Internationales Archiv fur Ethnographie III (Supplement).

Waterson, Roxana 1991 The Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia. Oxford University Press,

Singapore.

Scroll to Top
×