Meneroka Musisi, Mengarsip Memori

Screenshot (171)

Series



Categories



Published

August 24, 2023

HOW TO CITE

Aris Setiawan

Institut Seni Indonesia Surakarta

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.718

Keywords:

Biografi Musisi, Kisah Musik, Pemusik, Tubuh Musikal, Obituarium

Synopsis

Buku ini merupakan kumpulan esai yang menceritakan pemikiran dan perjuangan para maestro seni ataupun tokoh-tokoh yang bersentuhan dengan musik. Buku ini melihat musik bukan dari peristiwa musik itu sendiri, melainkan dari fenomena, kisah-kisah, cerita-cerita, sejarah, dan pemikiran para pemusiknya. Esai-esai dalam buku ini mencoba menempatkan sejarah sebagai perspektif untuk membangun konteks penulisan yang berdimensi lampau, kini, dan yang akan datang. Terdapat dua kategori yang dibahas dalam buku ini, yaitu Tubuh Pemusik dan Obituarium. Pada “Tubuh Pemusik”, ketokohan dan kiprah bermusik ditulis pada saat sang tokoh masih hidup, sementara “Obituarium” ditulis sesaat setelah sang tokoh meninggal. Buku ini ditulis dengan pendekatan ilmiah populer untuk memudahkan siapa pun dalam membacanya. Hadirnya buku ini selain diharapkan dapat menjadi buku referensi bagi mahasiswa jurusan musik, musikologi, etnomusikologi, dan studi kebudayaan, juga dapat menjadi bahan bacaan masyarakat umum untuk mengenal para tokoh dan hasil karyanya.

Author Biography

Aris Setiawan, Institut Seni Indonesia Surakarta

Aris Setiawan adalah seorang etnomusikolog yang rajin melakukan pencatatan peristiwa musik untuk dipublikasikan di media massa. Beberapa karya tulisnya rutin terbit di Harian Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jawa Pos, detik.com, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Majalah Basis, Republika, Basa-basi.co, Koran Jakarta, Koran Kontan, dan Etnis.id. Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah, seperti Dewa Ruci, Sorai, Gelar, Terob, Resital, Music Scholarship, Pelataran Seni, Harmonia, dan Abdi Seni. Aris tercatat sebagai penulis pada buku Pendidikan Budi Pekerti dalam Pertunjukan Wayang (2011), Para Maestro Gamelan (2018), dan Semesta Bunyi Kata (2021). Saat ini, Aris sebagai pengajar di Jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Beberapa mata kuliah penting diampunya, seperti Studi Lapangan, Analisis Musik, Survei Musik, Budaya Musik Nusantara, Kritik Musik, dan Jurnalistik Musik. Pada Jurusan Karawitan ISI Surakarta, Aris mengajar mata kuliah Kritik Karawitan, Kapita Selekta Karawitan, dan Praktik Karawitan Jawa timuran. Sejak tahun 2020, Aris juga diminta mengajar pada Program Pascasarjana ISI Surakarta untuk mata kuliah Kuratorial, Manajemen Publikasi, dan Seni-Keindonesiaan. Terkait riwayat pendidikan, tahun 2008, Aris mendapat gelar sarjananya pada Program Studi Etnomusikologi ISI Surakarta dengan predikat cumlaude, tahun 2010 pada Minat Kajian Musik di Program Pascasarjana ISI Surakarta dengan predikat cumlaude. Puncaknya, tahun 2020 pada Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, juga dengan predikat cumlaude. Aris Setiawan aktif menjadi narasumber di berbagai seminar nasional dan internasional. Saat ini, ia juga aktif dalam komunitas dan yayasan Arjasura, sebuah organisasi yang memfokuskan minat kajian dan praktik kesenian tradisi Jawa timuran. Aris Setiawan dapat dihubungi melalui surel: segelas.kopi.manis@gmail.com.

References

Aryono. (2015, 3 Desember). Cerita Sukarno dengan dalang wayang kulit kesayangannya. Historia. https://historia.id/kultur/articles/cerita-sukarno-dengan-dalang-wayang-kulit-kesayangannya-DAlxb

den Boef, A. H., & Snoek, K. (2008). Saya ingin lihat semua ini berakhir: Esai dan wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer. Komunitas Bambu. https://books.google.co.id/books?id=mXadOwAACAAJ

Dermawan, A. (2004). Bukit-bukit perhatian: Dari seniman politik, lukisan palsu sampai kosmologi seni Bung Karno. Gramedia Pustaka Utama. https://books.google.co.id/books?id=seHpvDcWg_wC

Dewantara, K. H. (1930). Serat sari swara: Kanggé mulangngaken sesekarran Jawi ing griya tuwin ing pamulangngan mawi titiswara aksara. Wolters. https://books.google.co.id/books?id=0CBQswEACAAJ

Dewantara, K. H. (1936). Wewaton kawruh gendhing Jawi. Wasita.

Dewantara, K. H. (1967). Kebudajaan. Taman Siswa.

Hardjana, S. (2004a). Esai dan kritik musik. Galang Press.

Hardjana, S. (2004b). Musik antara kritik dan apresiasi. Kompas. https://books.google.co.id/books?id=T4ifAAAAMAAJ

Hardjana, S. (2018). Estetika musik: Sebuah pengantar. Art Music Today. https://books.google.co.id/books?id=H1QJvgEACAAJ

Hidayat, W. (1997). Keluar-masuk kampung Sujud membawa kendhang. Bulanan Sosial Budaya (BUSOS), 250. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Surabaya.

Hutabarat, A. C. (2001). Meluruskan sejarah dan riwayat hidup Wage Rudolf Soepratman: Pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia “Indonesia Raya” dan pahlawan nasional. BPK Gunung Mulia. https://books.google.co.id/books?id=m3cI0iBlDEMC

Ilunk. (2009, 2 Juli). Koes Plus. Ilunk-Alone. http://ilunk-alone.blogspot.com/2009/07/koes-plus.html

Kuntowijoyo. (1985). Agama dan seni: Beberapa masalah pengkajian interdisipliner budaya Islam di Jawa, dalam pengaruh India, Islam, dan Barat dalam proses pembentukan kebudayaan Jawa. Proyek Javanologi.

Miksic, J. (1997). Music of Indonesia. Edited by Philip Yampolsky. Volume 1: “Songs Before Dawn: Gandrung Banyuwangi”, Volume 2: “Indonesian Popular Music: Kroncong, Dangdut, & Langgam Jawa”, Volume 3: “Music from the Outskirts of Jakarta: Gambang Kromong”, Volume 4: “Music of Nias & North Sumatra: Hoho, Gendang Karo, Gondang Toba”. Journal of Southeast Asian Studies, 28(1), 209–210. https://doi.org/10.1017/S0022463400015435

Mrázek, R. (1972). Tan Malaka: A political personality’s structure of experience. Indonesia, 14, 1–48. https://doi.org/10.2307/3350731

Nicholson, R. A. (1995). Aspek rohaniyah peribadatan Islam: Di dalam mencari keridhaan Allah. Raja Grafindo Persada.

Notosudirdjo, R. F. S. (2016). Modernisme musik dalam abad kedua puluh. Dalam B. Barendregt, & E. Bogaerts (Ed.), Merenungkan gema: Perjumpaan musikal Indonesia-Belanda (L. Simatupang, Penerj.) (145–168). KITLV-Jakarta Bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Nuryazmi, M. Y. (2015). Strategi dakwah ustadz Muhammad Arifin Ilham di kalangan masyarakat perkotaan. [Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]. Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26722/1/MUHAMMAD%20YUSRA%20R-FDK.pdf

Poerbatjaraka, R. M. N. (1941). Metode “Sari-Swara” dan bedanja dengan kepatihanschrift. Poedjanga Baroe, 8(11).

Rahayu, A. (2004). Perjalanan karir Koes Plus 1969–1987. [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Indonesia.

Rustopo. (2003). Panggah dan Sadra anak desa yang menjadi komponis dunia. Dalam Seni dalam Berbagai Wacana: Mengenang 20 Tahun Kepergian Gendhon Humardani (107–142). Program Pascasarjana STSI Surakarta.

Sadono, D. (2015). Proses pembuatan gender barung oleh Tentrem. [Skripsi, Institut Seni Indonesia Surakarta]. Institutional Repository ISI Surakarta. http://repository.isi-ska.ac.id/173/1/Dunung%20Sadono.PDF

Schimmel, A. (1986). Dimensi mistik dalam Islam (S.D. Damono, Penerj.). Pustaka Firdaus.

Sjukur, S.A. (2012). Virus setan: Risalah pemikiran musik. Art Music Today.

Sjukur, S.A. (2014). Sluman slumun slamet: Esai-esai Slamet Abdul Sjukur (1976-2013). Art Music Today.

Smith, M. (1994). Readings from the mystics of Islam: Translations from the Arabic and Persian, together with a short account of the history and doctrines of sufism and brief biographical notes on each sufi writer. Pir Publications. https://books.google.co.id/books?id=bfSPAAAAMAAJ

Sohib, Pratiwi, D., & Priyanto, A. (2018). Nilai-nilai kesufian pada puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Parole (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), 1(5), 829–838.

Sudarsono. (2002). Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Gadjah Mada University Press.

Sumarsam. (2003). Gamelan: Interaksi budaya dan perkembangan musikal di Jawa. Pustaka Pelajar.

Supanggah, R. (2002). Bothekan karawitan (Volume 1). Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. https://books.google.co.id/books?id=wnOfAAAAMAAJ

Supanggah, R. (2003). Campur sari: A reflection. Asian Music, 34(2), 1–20. http://www.jstor.org/stable/4098455

Supanggah, R. (2009). Bothekan Karawitan II: Garap. Program Pascasarjana bekerja sama dengan ISI Press Surakarta.

Suranto, J. (2009). Mendengarkan suara purba di tengah budaya: Telaah semiotik atas musik “Daily” karya I Wayan Sadra. [Tesis tidak diterbitkan]. Universitas Sanata Dharma.

Sutowo. (1994). Kidungan jula-juli Surabaya gaya Kartolo dan Sidik Wibisono: Studi komparatif antara Kartolo dan Sidik Wibisono pada segi cengkok, wiledan, luk, dan gregel. STKW Surabaya.

Toer, P. A. (1983). Bumi manusia. Wira Karya. https://books.google.co.id/books?id=l1-kOwAACAAJ

Toer, P. A. (2007). Panggil aku Kartini saja. Lentera Dipantara. https://books.google.co.id/books?id=p1iXuAAACAAJ

Triwuryantoro, A. (2015). Lirik lagu Leo Kristi dalam empat kumpulan lagunya: Tinjauan stilistik dan tematik. [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Indonesia.

Wibisono, J. (2012). Saling silang Indonesia-Eropa: Dari diktator, musik, hingga bahasa. Marjin Kiri. https://books.google.co.id/books?id=JV5_MwEACAAJ

Widyowati, W. (2013). Citraan personifikasi lirik lagu campursari dalam album emas Didi Kempot. [Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta]. Lumbung pustaka UNY. https://eprints.uny.ac.id/25794/

Winarno, B. (2003). Lagu kebangsaan Indonesia Raya. TSA Komunika.

Wrahatnala, B. (2006). Ngamen kreatif Sujud Sutrisno. Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Tentang Bunyi, 6(2), 3–23.

Scroll to Top
×