Manusia dan Gunung: Teologi, Bandung, Ekologi

Screenshot 2024-02-05 110558

Categories



Published

October 22, 2021

HOW TO CITE

Pepep Didin Wahyudin

Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia

DOI: https://doi.org/10.55981/brin.417

Keywords:

gunung, Al-Quran, Sejarah, pelestarian alam

Synopsis

Buku ini berusaha menyajikan pembahasan gunung berdasarkan konteks ketuhanan, sejarah, budaya, bentang alam, hingga hubungannya dengan ekologi. Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya sekadar mendaki ketinggian pengetahuan gunung, melainkan juga menyelami kedalaman kebijaksanaan gunung. Pada bagian “teologi gunung”, dalam buku ini dipaparkan pembahasan tentang gunung yang disebutkan sebanyak 60 kali dalam alquran, penyebutan tersebut mewakili keberadaan manusia sebelum diturunkan ke muka bumi, mewakili keberadaan manusia ketika hidup di muka bumi, dan mewakili akhir keberadaan manusia di muka bumi (kiamat). Pada bagian ini dipaparkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW juga merupakan “pendaki gunung”, ia mendaki dalam konteks tahannuts; mendaki untuk merenungkan setiap persoalan dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ilahiah, ia kemudian mendapatkan pencerahan di Gunung Hira (642 Mdpl [?]), dan setelah itu ia kemudian “turun gunung” untuk mengamalkannya apa yang ditemukannya, ke tengah masyarakat. Catatan Peziarah & Pendaki ,Bagian ini menceritakan sejarah “backpacker”, “traveling” dan kisah-kisah yang identik dengan petualangan, khususnya terkait gunung. Dalam kultur Timur, salah satu catatan budaya bertualang bisa ditemukan pada naskah “bujangga manik” di sekitar abad ke XV, sedangkan catatan eropa yang dijadikan pembahasan merujuk pada buku “bergenweelde” yang ditulis C.W Wormser awal abad ke XX (1890-1900). Gunung Para Petapa Jika Rosul pergi ke gunung untuk melakukan tahannuts, di Timur peristiwa tersebut disebut tapabrata, jika Nabi kemudian mengamalkan temuannya di gunung pada masyarakat, di Timur beberapa sosok berakhir dengan moksa, ngahiang, “abadi” di gunung-gunung. Maka, gunung pada bagian ini dikenal juga sebagi tempat yang identik dengan para petapa. Bagian ini membahas gunung Bandung yang dijadikan pertapaan Bujangga Manik sebelum akhirnya ngahiang di tempat lain. Gunung yang sakral sebagai tempat bertapa tersebut kondisinya hari ini begitu sangat memperihatinkan, bahkan kerusakannya telah menyentuh bagian puncak. 700 Gunung Bandung ,Gunung dalam bahasa Sunda merupakan konsep tentang “unggul – unggulan”, dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “khusus”, merujuk pada sesuatu hal yang “spesial”, “menonjol” dalam arti memiliki keunggulan atau kelebihan. Dalam bahasa populer “unggul – unggulan” disebut “prominen” asal kata dari “prominence”, dan dalam bahasa Sunda setiap “prominen” diklasifikasikan pada dua hal, yakni; “gunung” dan “pasir”, secara umum (dan pragmatis) tidak dikenal istilah “bukit”. Merujuk pada konsep prominen, di bandung melalui telaah yang dilakukan komunitas JGB ditemukan kemungkinan jumlah 700 dengan kecenderungan merujuk pada konsep “gunung”. Mandala Rakutak ,Gunung Rakutak merupakan gunung yang belakangan berhenti dikunjungi karena statusnya cagar alam. Berhenti mendaki gunung adalah hal mudah bagi siapa pun yang menyatakan dirinya “pencinta kelestarian alam”. Sebab jika berhenti mendaki merupakan bagian dari proses melestarikan alam, sungguh “berhenti” merupakan tindakan yang paling sederhana dari kata “berbuat banyak”. Gunung Rakutak spesial karena secara histori banyak kisah melekat pada dirinya, sebut saja misalnya peristiwa “pagar betis”, di mana seorang kawan Soekarno pada akhirnya memilih “menyerah” dalam pertarungan ideologi di masa awal kelahiran Negara bernama “Indonesia” ini. Mitos Aul, Bagian ini membahas keberadaan manusia berkepala serigala di gunung bandung yang “pernah” menjadi penjaga kelestarian alam. Ia menjaga sumber-sumber mata air, menjaga keutuhan hutan di gunung-gunung, serta mendisiplinkan masyarakat yang hidup di sekitarnya untuk tidak merusak alam. Sosok manusia berkepala serigala ini banyak ditemukan di hampir setiap bagian arah mata angin gunung di bandung raya, khususnya bagian selatan, timur dan barat. Gunung Artefak Nusantara Jauh sebelum disebut “nusantara”, kepulauan Indonesia lampau dikenal dengan nama “nusakendeng”. Nusantara merujuk pada konsep kepulauan yang identik dengan laut, sedangkan Nusakendeng merujuk pada konsep daratan yang identik dengan gunung. Catatan Nusakendeng relatif sulit ditemukan, kecuali kode-kode dari kidung pantun Sunda dan catatan Eropa seperti; Raffles dan Jonathan Rigg pada awal abad XIX, serta pengetahuan masyarakat Nusantara yang terrekam dalam cara memperlakukan gunung-gunung. Bagian ini membahas sisi gunung sebagai pencatat sebuah peradaban, sebab melalui kajian tentang gunung, khususnya gunung kendeng, kita bisa menemukan peradaban lampau yang sudah mengenal jarigan gunung-gunung yang barangkali hari ini identik dengan konsep “ring of fire”.

Author Biography

Pepep Didin Wahyudin, Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia

Pepep DW. ‘Seni’ dan ‘Kearifan Lokal’–baik dalam akademisi maupun praktisi– begitu melekat pada dirinya. Ayah satu anak ini mendapat gelar Sarjana Seni pada tahun 2007 di STSI Bandung (sekarang Institut Seni Bandung Indonesia), kemudian menyusul gelar Magister Seni di belakang namanya pada tahun 2014 dari kampus yang sama. Bahkan, serentang 2007 sampai 2009, Pepep DW mendapatkan extension course perihal Filsafat Budaya di Universitas Parahyangan Bandung.

Dua buku karya sebelumnya; Pendidikan Karakter dalam Mainan dan Permainan Tradisional Jawa Barat (Pemprov Jabar, 2012) dan Traditional Children’s Game of Indonesia (Ministry of Tourism
and Creative Economy Republic of Indonesia, 2013), masih memiliki unsur seni meski dibalut kearifan lokal pada isinya. Bahkan, buku yang diterbitkan pada tahun 2013 tersebut telah dipublikasikan secara internasional ke dalam bahasa Inggris. Dari tangannya lahir banyak publikasi ilmiah dan populer, riset, serta pengembangan pergerakan, seperti Penelitian Mursih: Biografi Lagu Es Lilin, Penelitian Relasi Mitos dan Lingkungan, menginisiasi Ensiklopedi Gunung Bandung: Sejarah – Lanskap – Budaya, menginisasi The Gunung Institute, menulis Posibilisme dalam Konservasi Lingku-ngan (2009), menulis Berakhirnya Sejarah Buku ini tidak diperjualbelikan. Tari Sunda (Tribun Jabar, 2013), menyusun Gunung Bandung: Selatan, Lanksap, Budaya (2015), dan masih ada sembilan aktivitas ilmiah lainnya.


Pepep DW juga mendapat banyak penghargaan atas pemikiran serta kegiatannya, di antaranya adalah Wacana Pengarusutamaan Gender dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan (2008),
Issue Maker: Masyarakat Antinarkoba dari Universitas Maranatha (2010), Membangun Iklim Organisasi dari STSI (2010), Penulis Berwawasan Lingkungan dari Gubernur Jawa Barat (2014), dan
masih banyak lagi. Saat ini, lelaki yang banyak terpengaruh oleh tokoh-tokoh seperti Strauss, Berger, dan Foucault ini secara konsisten bergerak di bidang konservasi, terutama tentang kawasan, bersama sahabat-sahabat lain dari Save Ciharus, Sadar Kawasan, dan kelompok konservasionis lainnya. Minatnya terhadap gunung tidak menyurutkan
pergerakannya dalam menggaungkan apa yang semestinya LESTARI, salah satunya; Cagar Alam, sehingga lahirlah buku ini sebagai medium menuju apa yang diperjuangkannya bersama sahabat-
sahabat konservasionis yang lain.

Pepep DW dapat ditemui melalui surel; pepep.dw@gmail.com

References

Danadibrata. RA. 2006. Kamus Basa Sunda. Bandung. Kiblat.

Dewanto, Nugroho (editor). 2011. Kartosoewirjo: Mimpi Negara Islam (Seri Buku TEMPO: Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan). Jakarta. Gramedia.

Haekal, Muhammad Husain. 2015. Sejarah Hidup Muhammad. Miftah A. Malik (penerjemah). Pustaka Ahlak.

Ibnu Ishaq (Syarah & Tahqiq: Ibnu Hisyam). 2015. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah. Jakarta. Akbar Media.

J. Noorduyn & A. Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Hawe Setiawan (Penterjemah). Jakarta. Pustaka Jaya.

Jonathan Rigg. 1862. A dictionary of the Sunda Language of Java. Batavia. Lange & Co Lubis, Nina. 1998. Sejarah Bandung Selatan. Bandung. Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.

Purwoko, Agus. 2013. Gunungan: Nilai-nilai Filsafat Jawa. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Robert Dick-Read. 2008. Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara Di Afrika. Edrijani Azwaldi (penterjemah). Bandung. Mizan.

Rosidi. Adjip dkk. 200. Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya. Jakarta. Pustaka Jaya.

Suryana, Jajang. 2002. Wayang Golek Sunda: Kajian Estetika Rupa Tokoh Golek. Bandung. Kiblat

Wormser, C. (1996). Kemewahan Gunung-Gunung terjemah dari Bergenweelde. Jakarta: Pusat Dokumentasi dan Informasi Manggala Wana Bakti

Scroll to Top
×