Jejak Budaya Dayak Meratus dalam Perspektif Etnoreligi

Screenshot (270)

Categories

,

Published

September 16, 2020

HOW TO CITE

Hartatik Hartatik

Kemendikbud (Balai Arkeologi Kalsel)

Keywords:

Dayak Meratus, arkeologi, etnoreligi

Synopsis

Pada masa kolonial, kata dayak dan melayu digunakan oleh para peneliti pada masa itu untuk membedakan antara penduduk Kalimantan yang masih menganut kepercayaan leluhur dan yang telah menjadi muslim. Penduduk yang muslim dan tinggal di sekitar muara disebut orang Melayu, sedangkan yang tinggal di bagian hulu dan menganut kepercayaan leluhur disebut Dayak. Pada masa itu kata dayak sering digunakan dalam konotasi yang negatif dan rasis sehingga banyak yang merasa tidak nyaman menjadi orang Dayak.

Seiring dengan berjalannya waktu, kini istilah Dayak telah menjadi sebuah identitas etnis yang membanggakan. Orang tidak malu-malu lagi menyebut dirinya sebagai orang Dayak. Tapi, benarkah Dayak Meratus merupakan bagian dari suku Dayak Ngaju? Ada tiga hal utama yang akan disampaikan melalui buku ini, yaitu religi, peralatan tradisional, dan rekonstruksi identitas Dayak Meratus.

Buku ini mengungkap bukti-bukti arkeologis dan etnografi yang kemudian dianalisis dengan pendekatan etnoarkeologi dan sejarah. Data primer dalam buku ini diperoleh dari penelitian tahun 2011 di Kabupaten Balangan, tahun 2012 di Kotabaru, dan tahun 2013 di Paramasan Kabupaten Banjar. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode survei (observasi) dan wawancara. Sebagian besar data primer bertumpu pada data etnografi, terutama yang berkaitan dengan konsep dan peralatan religi. Sebagai sebuah peneltian arkeologi etnografi, penulis berupaya menggali informasi etnografi dari pemillik idioteknik (narasumber) semaksimal mungkin.

References

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa Putra, Heddy Shri. 1997. Claude Levi-Strauss: Butir-butir Pemikiran Antropologi, pengantar dalam Levi-Strauss Empu Antropologi Struktural. Terjemahan. Yogyakarta: LKIS
___________, 2001. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Yayasan Adi Karya IKAPI dan the Ford Foundation
Artha, Artum. 1970. Agama dan Peradatan Dajak. Banjarmasin: Museum Bandjar Lambung Mangkurat.
Ave, Jan .B and King, Victor.T. 1986. Borneo: the People of the Weeping Forest, Tradition, and Changed in Borneo. Leiden: National Museum of Ethnologi, Leiden.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Balangan. 2014. Paringin.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Balangan. 2014. Kecamatan Halong dalam angka. Paringin.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Balangan. 2014. Kecamatan Tebing Tinggi dalam angka. Paringin.
Bellwood. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Edisi revisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Bellwood. 2005. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. London: Academic Press.
Blench, Roger. 2006. Archaeology and Language. A Companion to Archaeology. John Bintliff, ed. Leiden: Blackwell Publishing.
Bock, Carl. 1988. The Head Hunters of Borneo. Singapore: Graham Brash Ltd.
Bondan, Amir Hasan Kiai. 1953. Suluh Sejarah Kalimantan. Banjarmasin: MAT Percetakan Fadjar
Budiman, Kris. 2004. Jejaring Tanda-Tanda. Magelang:Indonesiatera
Cassirer Ernst. 1978. Manusia dan Kebudayaan : Sebuah esei Tentang Manusia. Terjemahan Oleh Alois A. Nugroho, Jakarta: PT Gramedia, 1978.
Chung, Leeva Chiling & Toomey, Stella Ting. 1999. Ethnic Identity and Relational Expectations Among Asian-Americans. Journal Communication Research Reports Vol. 16, 1999-Issue 2. hlm. 157-166. Publishes on line 06 Juni 2009, diakseks dari https://sholars.google.co.id
Cohan, Percy S. 1999. Theories of Miyth, dalam Man, The Journal of the Royal Antroplolical Institute. Vol. 4. No. 3. September, Hlm, 337 – 353.
Coomans, Mikhail. 1987. Manusia Daya Dulu, Sekarang dan Masa Depan. Jakarta: PT Gramedia.
Daeng, Hans. 1963. Orang Marind Anim, dalam Penduduk Irian Barat. Koenjtaraningrat, ed. Jakarta: PT Penerbit Universitas.
Diamond, Jared. 2015. The World Until Yesterday. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Djam’annuri. 2003. Studi Agama-Agama, Sejarah dan Pemikiran. Yogyakarta: Pustaka Rislah
Durkeim, Emile. 1976. The Elementery Form of Religious Life. Terjemahan Joseph Ward Swain. London: George Allen & Unwin Ltd.
Dyson, L & M. Asharini. 1980/1981. Tiwah Upacara Kematian pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Jakarta Depdikbud.
Freud, Sigmun. Pals, L. 2012. Agama dan Kepribadian. dalam Daniel L. Pals. Seven Theories of Religion. Terjemahan I.R. Muzir et.al. Jogyakarta: IRCiSoD
Gunadi. 2003. Arah Hadap Kubur Timur-Barat: Sebuah Temuan Baru dari Gowa, Sulawesi Selatan. Naditira Widya Nomor 11, Oktober. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Books.
Geertz, Clifford. 2012. Agama Sebagai Sistem Kebudayaan. dalam Daniel L. Pals. Seven Theories of Religion. Terjemahan I.R. Muzir et.al. Jogyakarta: IRCiSoD
Gerritsen, Fokke. 2008. Archaeological Perspective on Local Communities. A Companion to Archaeology. Bintliff, John. ed. Blackwell Publishing.
Hadiwijono, Harun. 1985. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hartatik. 2000. Survei Arkeologi di Kotawaringing Timur Propinsi Kalimantan Tengah. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Hartatik. 2001. Perahu dalam Kehidupan Religi dan Kontinuitas Budaya Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Naditira Widya Nomor 07 November. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. hlm 99-108.
________. 2002a. Batur dan Balontang Pada Masyarakat Dayak di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. dalam Berita Penelitian Arkeologi nomor 9. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 6-37.
_________. 2002b. Penelitian Etnoarkeologi Bangunan Kubur Dayak Ngaju di Parenggean dan Mentaya Hulu, Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru : Balai Arkeologi Banjarmasin.
_________. 2002c. Keseimbangan Kosmos dalam Kehidupan Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Naditira Widya Nomor 8, April. Banjarbaru : Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 65-72.
_________.2006. Penelitian Etnoarkeologi Suku Dayak di Kalimantan. Naditira Widya Edisi Khusus, Nomor 15 April 2006. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin, hlm 71-87
__________, 2009. Kontinuitas Budaya di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. dalam Berita Penelitian Arkeologi (3) 1. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 91-115.
_________. 2010. Teknologi tradisional Dayak Bawo di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dalam Berita Penelitian Arkeologi (4) 1. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 102-126.
________, 2012a. Religi dan Peralatan Tradisional Suku Dayak Meratus di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Berita Penelitian Arkeologi. Volume 6. Banjarbaru:Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 57-100.
________,, 2014. Perbandingan Bahasa dan Data Arkeologi pada Suku Tidung dan Dayak di Wilayah Nunukan: Data Bantu Untuk Rekonstruksi Sejarah dan Perubahan Budaya. Naditira Widya Vol. 8 (1). Banjarbaru: Balai Arkelogi Banjarmasin. Hlm. 29-48.
________, 2015. Religi dan Peralatan Tradisional Suku Dayak Meratus di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Kindai Etam Vol. 1 (1) Jurnal Penelitian Arkeologi . Banjarbaru:Balai Arkeologi Banjarmasin. hlm.95-120.
Harrison, Tom. 1958. The Cave of Niah : A History of Prehistory. Sarawak Museum Journal. VIII. No. 12. Desember 1958, hlm. 549-595.
____________. 1959. More Megaliths from Inner Borneo. Sarawak Meseum Journal, VIII. No. 9 (13-14): 14-20.
Hawkinds, Marry. 2010. Becoming Banjar. The Asia Pacific Journal of Anthropology. London: Roudledge, hlm. 24-36.
Ideham, Suriansyah, Sjarifuddin, Gazali Usman, Zainal Arifin Anis, dan Wajidi. 2007. Sejarah Banjar. Banjarmasin: Balitbangda Propinsi Kalimantan Selatan.
Johnson, Matthew. 2007. Archaeological Theory, an Introduction. Singapore: Bleckwell Publishing.
Kastiyansyah, 2007. Balai Adat Warga Meratus Kecamatan Halong Kabupaten Balangan. Halong: Lembaga Adat Suku Dayak Balangan. Tidak terbit.
Keraf, A. Sonny. 2006. Etika Lingkungan. Jakarta:Penerbit Buku Kompas.
Koentjaraningrat. 1977. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta : Dian Rakyat, Mulvany D.J.
———————-. 1993. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
———————–. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Kusmartono, Vida Pervaya Rusianti dan Harry Widianto. 1998. Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Berita Penelitian Arkeologi Nomor 2. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Kusmartono, Vida P.R. 2005. The Sandong of the Ngaju Mortuary Variability in Southern Kalimantan. Thesis. submited in partial fulfillment of the requirents for the degree of Master of Arts, School of Archaeology & Anthropology. The Australian National University.
Kutoyo, Sutrisno. 1984. Sejarah Daerah Kalimantan Selatan. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud.
Lindblad, J. Thomas. Antara Dayak dan Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942. Malang: Lilin Persada Press & Jakarta: KITLV .
MacKinnon, Kathy; Gusti Hatta, Hakimah Halim & Arthur Mangalik. 1996. The Ecology of Kalimantan Indonesian Borneo. The Ecology of Indonesia Series. Volume III. Singapura:Peripius Edition (HK)Ltd.
Mallinckrodt, J. 1974. Gerakan Nyuli di Kalangan Suku Dayak Lawangan. Seri terjemahan nomor 46. Jakarta: Bhratara.
Mansur, 2012. Diaspora Suku Bugis di Wilayah Tanah Bumbu, Karesidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur Tahun 1842-1942. Masters Thesis. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.
Marthin, Martinus. 2014. Sosial Budaya Perladangan Dayak Kerabat di Desa Pedorah Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Vol. 2 No. 002. Dalam www.jurnal.untan.ac.id/index.php./jpn diunduh 1 April 2016.
Maunati, Yekti. 2004. Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta: LKiS.
Montana, Suwedi, dkk. 1996. Survei Eksploratif Arkeologi di Provinsi Kalimantan Timur. Laporan Penelitian Arkeologi. Bajarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Muchamad, Bani Noor; Naimatul Aufa & Dila Nadya Andini,. 2007. Anatomi Rumah Adat Balai. Banjarmasin: Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat & Pustaka Banua
Müller, Max. 1861. The Science of Language.
—————-.1856. Comparative Mythology.
Muljana, Slamet. 2013. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LKiS.
Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar di Jawa, Masa Mataram Kuno Abad VIII-XI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya.
Nur Syam. 2007. Madzab-madzab Antropologi. Yogyakarta: PT LKiS
Pikrianadi, Usah. 1990. Upacara Mia (Mambatur) dalam Perspektif Budaya Suku Dayak Maanyan Desa Warukin Kabupaten Tabalong. Skripsi. Banjarmasin: FKIP Universitas Lambung Mangkurat
Pires, Tome. 2014. Suma Oriental, Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodrigues. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Prasetyo, Bagyo & Harry Widianto. 1994/1995. Penelitian Eksploratif Situs-Situs Prasejarah di Wilayah Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarmasin : Balai Arkeologi Banjarmasin.
Pritchard, E.E. Evans. 1984. Teori-teori tentang Agama Primitif. Ludjito, terjemah. Yogyakarta: PLP2M
Radam, Noerid Haloe. 2001. Religi Orang Bukit: Suatu lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial-Ekonomi. Yogyakarta : Yayasan Semesta bekerjasama dengan Yayasan Adikakarya IKAPI dan the Ford Foundation.
Rafiek, Muhammad. 2012. Hikayat Raja Banjar, Tutur Candi, dan Pararaton : Suatu Perbandingan. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP), 2 (1). hlm. 5-17. dalam eprints.unlam.ac.id

Ras, J.J. 1968. Hikajat Bandjar: A Study Indonesia Malay Historiography. The Hague, Nijhoff for KITLV.
Renfrew, Colin & Paul Bahn. 2012. Archaeology, Theories, Methods, and Practice. London: Thames & Hudson.
Riwut, Tjilik. 1979. Kalimantan Membangun. Jakarta : P.T. Jayakarta Agung Offset.
Riwut, Tjilik Sanaman Mantikei. 2003. Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur. Nila Riwut, penyunting. Palangkaraya: Penerbit Pusaka Alam.
Sahriansyah.2015. Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar. Banjarmasin:IAIN Antasari Press.
Sjamsuddin, Helius. 2014. Pegustian dan Temenggung. Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1856-1906. Yogyakarta : Penerbit Obor
Schärer, Hans. 1963. Ngaju Religion The Conception of God among a South Borneo People. The Hague: Martinus Nijhoff.
Sillander, Kenneth. 2004. Expressed Through Social Action among the Bentian of Indonesian Borneo. Helsinki (Finland): Research Institute Swedish School of Social Science University of Helsinki, dalam http:ethesis.helsinki.fi/julkaisut/val/sosio/vk/sillander/actingau.pdf. 16 September 2013.
Simanjuntak, Truman, et.all. 1999. Metode Penelitian Etnoarkeologi. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Simanjuntak, Truman, dan Fadlan S. Intan. 2002. Brief Notes on Paleoclimate dan Paleogeography of the Archipelago. Gunung Sewu in Prehistoric Times. Truman Simanjuntak, ed. Yogyakarta: Gajdah Mada University Press.
Soedjono, R.P. ed. 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Soehadha, Moh. 2012. Kearifan Lingkungan Menurut Konsep Kosmologi Dalam Religi Aruh Orang Loksado. Harga Diri dan Ekspresi Budaya Lokal Suku Bangsa di Indonesia. Muttaqin, Ahmad & Fina ‘Ulya. Ed. Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.
Sugiyanto, Bambang. 2004. Penelitian Gua-Gua Prasejarah di Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur. Berita Penelitian Arkeologi Nomor 14. Banjarbaru : Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 8 – 46.
Sulistyanto, Bambang, ed. 2015. Budaya di Kawasan Pegunungan Dalam Perspektif Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Suparlan, Supardi. 2002. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. Jurnal Antropologi Indonesia No. 69. Hlm. 98-105.
Susanto, Nugroho Nur. 2013. Pengaruh Islam Terhadap Identitas Tidung Menurut Bukti Arkeologi. Naditira Widya Vol. 7 (2). Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 117-129.
Sukendar, Haris. 2002. Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta: Dirjen Kebudayaan Depdikbud.
Tanudirja, Daud Aris. 1985. Lukisan Dinding Gua Sebagai Salah Satu Unsur Upacara Kematian. Berkala Arkeologi Th VI No. 1. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.
—————————-. 1987. Laporan Penelitian Penerapan Etnoarkeologi di Indonesia. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Tim Penelitian. 2012. Verifikasi Cagar Budaya di Kecamatan Martapura Kota, Martapura Timur, Martapura Barat, dan Karang Intan Kabupaten Banjar. Disbudparpora Kabupaten Banjar dan Balai Arkeologi Banjarmasin.
Tim Penelitian. 2015. Laporan Penelitian Permukiman Kuna di Kawasan Cindai Alus, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin
Tylor, 1929. Primitive Cultural. I. ed. Ke-6.
Umberan, Musni, dkk. 1993. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Wajidi, 2011. Akulturasi budaya Banjar di Banua Halat. Banjarmasin: Pustaka Book Publisher
Wallace, Alfred R. 2000. Menjelajah Nusantara. Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Widianto, Harry. 2002. Prehistoric Inhabitans of Gunung Sewu. Gunung Sewu in Prehistoric Times. Truman Simanjuntak, ed. Yogyakarta: Gajdah Mada University Press.
Widianto, Harry dan Retno Handini. 2003. Karakter Budaya Prasejarah di Kawasan Gunung Batubuli, Kalimantan Selatan: Mekanisme Hunian Gua Pasca Pleistosen. Berita Penelitian Arkeologi No. 12. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. Hlm. 52-69.
Widjono, Roedy Haryo. 1998. Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. Jakarta : PT Grasindo.
http://2.kompas.com/kompas-cetak/6311/07/rumah/673027.htm, diunduh 30 Maret 2014.

Scroll to Top
×